Pergi bukan film. Tidak ada koper mahal, tidak ada hujan yang diatur, tidak ada laki-laki mengejar di bandara. Ada tas guru, dua blus, obat pusing, salinan yang sudah di Laila, sepatu yang sama sejak Raka demam. Cincin di saku tas, bukan di jari—bukan dilempar, terlalu dramatis untuk orang yang masih terikat prenup dan masih harus masuk kelas besok.
Bu Laila buka pintu tanpa tanya lama. Lampu teras mati dulu, lalu nyala. Sofa yang dijanjikan. Berbunyi. Bantal tipis. Bau pewangi murah. Kucing tetangga di pagar. Surga yang cukup.
'Kunci cadangan. Mandi. Makan. Jangan cek grup. Aku yang cek. Kau guru besok. Anak-anak tidak perlu tahu Bu Guru pindah ke sofa. Kalau Bara ke gerbang sekolah, satpam sudah kuisi: urusan keluarga, jangan ramai. Aku bukan pahlawan. Aku hanya tidak suka stiker di nama teman.'
Sinta mandi sampai air dingin, karena pemanas Laila rusak, dan dingin itu jujur. Di cermin kecil, wajah Ibu Rina dan wajahnya sendiri, sama-sama capek, sama-sama tidak di altar. Ia tidak menangis di keramik kali ini. Ia sikat gigi, seperti orang yang memutuskan tetap hidup tanpa izin altar, tanpa izin Arman, tanpa izin 'pulang'.
Bara datang ke gerbang sekolah malam itu—Laila sudah duga, sudah bilang satpam, sudah pindah Sinta ke rumah lebih dulu. Mobil hitam. Lampu. Sinta tidak keluar. Tidak melihat. Pesan Laila ke Bara, dari nomor Sinta yang dipinjam sebentar, diketik bersama: 'Jangan ke sekolah. Anak-anak. Kalau mau bicara, tunda. Dia napas di tempat yang tidak ada stiker bank. Jangan buat Bu Guru jadi tontonan.'
Bara membalas ke nomor Sinta, cepat, tanpa basa-basi: 'Kau istri ku. Pulang. Aku tidak akan minta maaf. Aku minta kau di rumah. Rumah itu peta. Kosong itu celah. Arman akan baca celah. Hartono akan baca celah. Pulang. Kita bicara batas. Kau dapat itu. Pulang.'
Sinta, di sofa, membaca. Mengetik pelan, Laila tidak menuntun kali ini: 'Aku dengar tiga nama. Aku tawarkan jembatan. Aku minta batas. Kau tarik ruko atas namaku. Aku pergi. Bukan cerai. Pisah rumah. Kalau peta mu butuh tubuh ku di marmer, peta itu salah. Cari Hartono. Cari Gatot. Jangan cari aku di gerbang SD. Jangan kirim bunga. Bunga dari orang yang tarik agunan itu racun. Aku masih napas. Aku tidak di tanah mu.'
Ia kirim. Lalu matikan data. Bukan karena kuat. Karena kalau data nyala, ia bisa goyah. Goyah di sofa Laila lebih berbahaya dari goyah di rumah singa: di sini ada tahu goreng dan manusia, dan manusia bisa membuatnya pulang terlalu cepat, sebelum nama di stiker kering.
Dina datang sebentar, bawa baju, bawa surat awal legal, bawa mulut yang capek. 'Paman marah, bibi menangis, grup gila. Aku tutup mulut. Kau tidur. Besok legal ruko. Jangan telepon dia. Jangan baca berita. Aku yang baca. Hartono masih diam, omong-omong. Orang makan dua dapur memang diam waktu orang lain berdarah. Ingat itu kalau kau kangen altar.'
Sinta hampir tertawa, hampir isak, keduanya tertahan. Bunga putih dulu. Mie pedas. Sekarang stiker bank. Pola. Ia tidur di sofa dengan kaki menggantung, kunci di bantal, dan untuk pertama kali sejak malam pertama, ia tidak mendengar langkah Bara di koridor. Tidak mendengar wiski. Tidak mendengar 'bagus'. Yang ada: jam dinding Laila yang tertinggal lima menit, dan napasnya sendiri yang masih jelek, masih nyata.
Di rumah Mahesa, Bara berdiri di kamar Sinta yang terkunci dari luar sekarang—ironis, ia yang punya kunci rumah, tidak punya orang. Meja nakas. Laci cincin kosong. Blus tertinggal di gantungan. Ia duduk di tepi ranjang, jas masih, dan menang tidak terasa di angka yang Arman kirim: 'Wijaya minta pertemuan. Mereka jatuh. Selamat. Istri di berita kecil, kita tidak komentar. Rapikan narasi besok.'
Selamat.
Bara mengetik ke Sinta, data lawan masih tertutup: 'Pulang.' Tidak terkirim. Centang tidak muncul. Ia taruh ponsel, menatap foto altar yang masih telungkup, dan mengerti—terlambat, seperti semua pengertiannya—bahwa tahap empat memotong napas Wijaya, dan memotong juga satu-satunya orang yang sempat membuatnya tahan satu jam, yang sempat jadi jembatan, yang sempat minta batas seperti manusia.
Ia tidak menelepon Arman. Ia tidak menuang wiski. Ia berbaring di sisi ranjang yang dulu Sinta kunci dari dalam, sekarang kosong dari dalam, dan perang yang rapi terasa seperti rumah yang terlalu besar untuk satu altar, satu editor, satu laki-laki yang baru saja menang dengan cara yang membuat dada kosong. Kosong itu, malam itu, lebih jujur dari 'baik-baik saja'.
Sinta, di sofa yang berbunyi, berbisik ke gelap yang tidak mewah: 'Aku pergi. Aku masih napas. Aku belum selesai. Tapi aku tidak tidur di agunan mu lagi. Besok aku guru. Lusa aku masih gali Hartono. Urutan Laila. Aku coba patuh. Kalau aku goyah, jangan biarkan aku pulang hanya karena sepi. Sepi bukan alasan kembali ke stiker.'
Itu bukan HEA. Itu pintu keluar sementara. Pintu yang ia buka sendiri, tanpa izin prenup, tanpa izin Arman, tanpa izin dendam dua puluh tahun. Dan untuk babak ini, pintu itu cukup sebagai tanah yang ia pilih sendiri—bukan tanah yang ia dijatuhkan, bukan semen Raka, bukan keramik, bukan trotoar stiker. Sofa. Berbunyi. Cukup.