Ruko itu tidak mewah. Dua lantai, cat mengelupas, di jalan yang macet sore, bau gorengan dan knalpot. Ibu dulu sewa lantai bawah untuk toko kain, lalu tutup waktu kain tidak laku dan punggungnya tidak kuat. Sinta jarang ke sana. Tapi namanya di sertifikat, hadiah diam-diam sebelum nikah, 'supaya anak guru punya tanah kalau laki-laki tidak waras'—kalimat ibu yang waktu itu terdengar bercanda, waktu Bara masih taman, masih teh manis, masih dusta yang belum dibuka.
Sekarang bank tempel stiker. Oranye. Huruf besar. Orang berkerumun karena orang suka kerumunan yang bukan milik mereka. Sepupu jauh foto, masuk grup. Caption: 'ruko Sinta ditarik, padahal Nyonya Mahesa'. Nama. Bukan hanya aset. Nama. Guru SD yang tiba-tiba jadi bahan omongan agunan, ballroom, dan menantu. Ada yang bilang 'pantas, kawin sama yang gilas'. Ada yang bilang kasihan. Kasihan juga gigi.
Sinta datang sore itu dengan Dina, bukan dengan Bara, bukan dengan ayah di samping—ayah di mobil, ibu di mobil, kaca turun sedikit. Ia berdiri di trotoar, melihat stiker, melihat dirinya di kaca ruko seperti orang asing yang tidak diundang ke tanahnya sendiri.
'Dina, ini namaku,' katanya pelan, supaya kerumunan tidak dapat kalimat utuh. 'Bukan nama perusahaan. Namaku. Anak-anak di sekolah bisa dibuka oleh orang tua yang iseng. Bu Guru digadai. Itu yang mereka baca, meski tidak tertulis. Aku minta batas. Jangan kena nama. Dia dengar. Dia tidak janji. Tertulis di udara. Udara itu sekarang stiker.'
Dina memegang lengannya, jari kuat. 'Kita urus legal. Jangan urus malu dulu. Malu dibayar dengan fakta. Fakta: ini rantai, bukan hadiah yang kau jual. Aku bantu surat. Tapi malam ini kau tidak boleh pulang ke dia seperti biasa. Itu yang kufikir. Pulang seperti biasa = kau setuju jadi agunan hidup. Sofa Laila. Kost. Apa saja. Jangan marmer.'
Sinta mengangguk, kaku. Telepon masuk. Bara. Ia angkat, karena tidak angkat juga strategi, dan ia lelah strategi, lelah angkot, lelah jadi pintar. Ia hanya mau bicara sekali di trotoar, di tanah, di tempat ia kira Bara tidak akan turun.
'Kau di ruko,' kata Bara, bukan pertanyaan. Sopir, telinga, Arman, kota yang kecil untuk orang kaya. Suaranya datar, retak di tepi.
'Namaku di stiker bank,' sahut Sinta. Angin masuk ke mikrofon. 'Kau dengar jembatan. Kau tetap tekan. Kau tidak kecualikan. Arman bilang tidak bisa tanpa kelihatan lemah. Kau pilih tidak lemah. Aku yang kelihatan. Di trotoar. Di grup. Di nama yang ibu kasih supaya aku bisa berdiri sendiri. Berdiri sendiri. Lucu. Kau dengar lucunya? Atau Arman yang dengar duluan?'
Bara diam dua detik. Klakson di belakang Sinta. 'Itu rantai. Bukan target pribadi. Aku tidak menempel stiker. Aku tidak tulis namamu di siaran. Itu yang kuberikan.'
'Saja tidak menempel stiker di malam pertama juga. Kau hanya menikahi. Hasilnya sama: namaku dipakai.' Sinta menelan, pahit, debu. 'Aku minta batas: jangan kena namaku. Kau tidak janji. Tertulis di udara. Sekarang udara itu stiker. Aku tidak pulang ke rumah mu malam ini. Bukan cerai. Prenup kau pegang. Aku pegang kaki ku. Aku pergi. Sementara. Kalau kau tanya ke mana, jangan. Kalau kau kirim Arman, itu perang baru. Kalau kau diam, itu juga jawaban. Pilih. Kau kan suka pilih.'
'Kau tidak boleh pergi,' kata Bara, cepat, retak, hampir manusia. 'Publik. Narasi. Istri kabur. Arman akan—'
'Arman bukan suamiku. Kau yang suami. Suami yang dengar lalu tetap menggila, kata mu sendiri. Tahap berikutnya, kata mu, tidak berhenti karena telinga pecah. Telinga pecah. Namaku pecah. Aku pecah di trotoar, tidak di keramik mu. Cukup.' Sinta mematikan telepon. Tangan gemetar. Dina tidak tepuk. Hanya bilang, 'Bagus. Sekarang jalan. Jangan nunggu dia turun ke trotoar. Dia tidak turun ke tanah, ingat? Jangan kasih dia kesempatan jadi film.'
Ibu di mobil menangis tanpa suara, kaca buram. Sinta mencium kaca, bukan pipi—pantangan dokter, pantangan kerumunan. 'Ma, aku tidak tinggal di rumahnya dulu. Aku tidak buang ayah. Aku jaga nama yang ibu kasih. Itu saja. Jangan turun.'
Ayah, dari kursi kemudi, tidak minta Sinta bujuk Bara. Pertama kali. Tangannya di setir putih. 'Pergi. Jangan ke kami dulu. Rumah ini juga target. Ke Laila. Atau kost. Jangan kasih dia dua alamat dalam satu malam. Maaf soal ruko. Maaf soal nama. Aku tulis dosa separuh. Masih kurang, kelihatannya, untuk menahan truk.'
Sinta masuk taksi. Dina di depan, nego rute. Di belakang, ruko dengan stiker. Di depan, kota yang tidak peduli jembatan. Di ponsel, Bara menelpon lagi. Ia tidak angkat. Dua kali. Tiga. Lalu pesan: 'Kembali. Kita bicara. Tahap empat bukan tentang kau.'
Sinta mengetik panjang, menghapus, lalu kirim yang lebih pendek: 'Namaku di agunan. Itu tentang aku. Aku pergi.'
Centang biru. Dibaca. Tidak ada balasan segera. Taksi jalan. Sinta memegang saku, cincin masih di jari, lalu ia lepas pelan, masukkan ke saku dalam tas guru, bukan ke sungai. Prenup masih ada. Tanah ibu masih ada di kertas yang sedang ditarik. Pergi, malam itu, adalah satu-satunya kalimat yang masih utuh. Dina, dari depan, bilang tanpa menoleh: 'Bagus. Pendek. Jangan tambah. Tambah itu jembatan lagi, dan jembatan sudah cukup diinjak hari ini.'