Tahap empat bukan memo kecil. Bukan kontrak ditahan. Bukan doa di mikrofon. Tahap empat adalah tiga pisau yang masuk bersamaan, supaya orang tidak sempat pilih mana yang dicabut dulu. Bara datang ke kantor lebih pagi dari Arman, seolah kecepatan bisa mencuci kertas ayah di laci rumah. Tidak bisa. Kertas itu tetap ada. Tombol juga.
Pagi itu Mahesa merilis pernyataan yang terdengar netral, bahasa yang Bara sukai: 'penyesuaian portofolio kredit dan konsolidasi rantai pasok regional'. Di belakang kalimat itu, sisa napas Wijaya Corp dipotong di tiga tempat sekaligus: fasilitas bank terakhir yang masih sopan, sewa gudang induk, dan klaim piutang yang tiba-tiba 'disengketakan' oleh mitra yang kemarin masih senyum di WA. Legal rapi. Publik bingung. Yang mengerti, mengerti. Yang tidak mengerti, tetap merasakan harga naik dan nama turun.
Arman masuk ruang Bara dengan tablet, kopi, senyum yang sudah dihitung. 'Jalan. Rapi. Tidak ada nama istri di siaran. Kau minta itu semalam, kan? Aku dengar dari dinding. Dinding kantor lebih tipis dari dinding rumah. Jembatan, batas, jangan kena nama. Romantis. Berbahaya. Aku sudah saring yang bisa disaring. Yang tidak bisa… rantai.'
Bara tidak menjawab umpan itu. Ia menatap angka, bukan mata Arman. 'Fokus angka.'
'Angka indah. Wijaya akan minta napas dalam empat puluh delapan jam atau jual aset. Ada satu aset yang menarik, Bara. Aku tidak mencari; sistem yang bawa. Ruko atas nama Sinta Wijaya. Agunan lama. Dihibahkan orang tua sebelum nikah, catatannya. Bank akan tarik karena rantai fasilitas. Itu bukan kita yang pilih namanya. Itu kertas lama yang mereka sendiri tempel. Rantai tidak baca jembatan. Rantai baca sertifikat.'
Bara berhenti mengetik. Jari di udara. 'Keluarkan ruko itu dari tarikan.'
Arman mengangkat alis, pelan, seperti guru yang kecewa pada murid pintar. 'Tidak bisa tanpa kelihatan. Klausul terkait. Kalau kita kecualikan satu nama, orang baca CEO melindungi istri. Saham baca lemah. Hartono, kalau sedang menonton—dan orang seperti dia selalu menonton—baca celah. Kau mau celah, setelah semalam dalil pecah di rumah? Kau mau kasih gigi ke orang yang makan dua dapur?'
Bara menatap layar. Wajah Sinta di semen. Kertas ayah. Tiga nama. Jembatan. Batas: jangan kena namaku. Lalu lantai ayahnya. Lalu Arman yang menunggu, tablet menyala, waktu berjalan.
'Tidak ada pengecualian,' katanya, dan suara itu terasa seperti mengunyah kaca. 'Lanjut. Semua rantai. Jangan tulis namanya di siaran. Itu saja yang kuberikan.'
Arman tersenyum, puas, hampir lembut. 'Bagus. Semalam aku kira kau akan revisi peta. Pesanmu 'aku baik-baik saja' kelihatan seperti orang yang mengetik dua kali. Kali ini hanya sekali. Lebih meyakinkan. Dewan suka sekali.'
Setelah Arman keluar, Bara menutup muka dengan dua tangan, lama, sampai gelap di telapak terasa aman. Ia tidak menelepon Sinta. Peringatan adalah jembatan. Ia sudah bilang tidak janji menyeberang. Tetap saja, jari-jarinya mengetik draf: 'Ada yang akan kena namamu. Maaf bukan kamusku. Keluar dari rumah orang tuamu dulu. Ruko.' Ia menghapus. Menghapus adalah belas kasihan yang ia izinkan: tidak kasih harapan, tidak kasih waktu kabur, tidak kasih bukti ia masih manusia. Manusia, menurut Arman, adalah cacat produksi. Bara, pagi itu, memilih tidak cacat. Memilih kaca di mulut. Memilih rantai. Memilih tidak menelpon. Pilihan itu, ia tahu, akan sampai ke trotoar dalam bentuk stiker—dan ia tetap menekan, karena tidak menekan berarti Arman menang dengan cara lain: CEO yang lemah karena istri.
Sore itu berita bisnis sudah sampai ke grup keluarga Wijaya sebelum bel pulang sekolah. Ayah menelepon Sinta di sela jam pelajaran, suara pecah, hampir tidak terdengar seperti Hendra yang dulu sidang di sofa. 'Sin. Gudang. Bank. Ruko atas namamu. Mereka tarik. Itu… itu hadiah ibu untuk kau, bukan perusahaan. Maaf. Maaf. Aku tidak tahu rantai sampai ke kau. Aku kira namamu aman karena kau guru, karena kau tidak duduk di dewan. Aku bodoh. Datang. Atau jangan. Ibu… ibu belum kukasih tahu lengkap. Aku takut dada nya.'
Sinta keluar kelas dengan senyum palsu, ke toilet guru, kunci, duduk di kloset tertutup, napas pendek, sepatu menekan lantai basah. Ruko. Namanya. Hadiah ibu. Bukan hanya Hendra Wijaya di slide. Sinta Wijaya di agunan. Jembatan diinjak, lalu dilewati truk. Batas yang didengar, tidak dijanjikan, tidak dipegang.
Ia tidak menelepon Bara. Ia mencuci muka, masuk kelas lagi, mengajar jam terakhir dengan tangan dingin. Anak-anak tidak tahu Bu Guru baru saja kehilangan bangunan yang belum pernah ia pamerkan—hanya tempat ibu dulu bilang, sambil tertawa, 'ini untuk kau, kalau suatu hari butuh berdiri sendiri'. Berdiri sendiri. Ironis. Prenup. Kartu mati. Sekarang ruko. Sekarang nama.
Bu Laila menunggu di parkiran, helm di tangan, wajah sudah tahu. 'Aku dengar dari Dina. Keluarga ribut. Stiker. Grup. Kau ke mana malam ini? Jangan bilang rumah singa. Aku tidak antar ke sana.'
'Saya belum tahu,' kata Sinta, tas miring, suara datar. 'Tapi aku tahu aku tidak mau tidur di rumah orang yang dengar jembatanku lalu tetap menekan tombol. Aku tawarkan dengar. Dia dengar. Dia tidak menyeberang. Itu jujur, katanya. Jujur itu sekarang stiker di tembok ibu. Antar aku ke ruko dulu. Aku mau lihat nama ku. Kalau aku tidak lihat, aku masih bisa dibohongi bahwa ini hanya angka.'