Sinta meletakkan kertas ayah di meja makan, bukan di kamar kerja. Meja makan masih berpura-pura jadi rumah: vas kosong bekas bunga putih, serbet yang tidak dilipat siapa-siapa, lampu yang terlalu kuning untuk perang. Ia tidak masak. Ada nasi bungkus dua, lagi, karena lapar tidak menunggu jembatan.
'Baca,' katanya. 'Jangan lempar. Jangan lipat jadi sampah. Baca. Aku minta kau dengar, bukan hanya menghukum. Dengar bukan memaafkan. Dengar artinya peta utuh sebelum tahap berikutnya. Kau sudah sebut tiga nama. Ini kaki yang ayah ku akui. Separuh. Jujur. Tidak suci.'
Bara duduk. Jas masih. Mata capek, seperti orang yang semalam kalah pada tuhan kecilnya lalu kalah lagi pada tidur. Ia baca. Lambat. Rahang bergerak. Sesekali ia berhenti di nama Hartono, di Gatot, di kata diam. Selesai, ia meletakkan kertas seperti meletakkan benda panas, ujung jari menjauh.
'Separuh,' katanya. 'Dia tidak akui tali. Tidak akui merancang. Ada Hartono, ada Gatot, ada lapar, ada diam. Ini pengakuan orang yang ingin tetap manusia di depan anaknya. Aku tidak butuh manusia. Aku butuh akibat. Akibat tidak peduli tinta gemetar.'
'Saya butuh kau dengar akibat yang sudah ada.' Sinta duduk seberang, tidak mengunci tangan di pangkuan seperti dulu—tangan di meja, terbuka, gemetar tipis yang ia biarkan kelihatan. 'Ibu hampir mati. Raka demam dan kau tahan satu jam lalu buang. Kau sebut tiga nama. Ayahku tulis dosa separuh. Hartono masih dilindungi di file mu. Kalau kau pukul hanya Wijaya sekarang, kau bukan menagih kuburan. Kau memelihara dalil. Aku minta jeda. Bukan damai. Bukan cerai. Jeda untuk peta. Temui Suroso. Temui Bu Wati. Atau temui aku di meja ini tanpa Arman di kepala. Dengar. Lalu putuskan. Bukan sebaliknya. Bukan tombol dulu, telinga kemudian.'
Bara tertawa sekali, tanpa suara, bahu naik. 'Kau jadi jembatan. Jembatan itu profesi orang yang injaknya basah. Kau basah sejak altar. Sekarang kau minta aku berjalan pelan supaya tidak licin. Aku sudah licin dua puluh tahun, Sinta. Jalan pelan terasa seperti pengkhianatan. Pengkhianatan itu kata yang kuhafal. Aku tidak mau jadi orang yang menghafalnya untuk diriku sendiri.'
'Pengkhianatan pada siapa? Pada mayat, atau pada Arman, atau pada laki-laki yang tidak mau ke tanah?' Sinta menahan suara agar tidak pecah, agar tidak jadi tontonan murah. 'Ayah mu bilang jangan pukul orang di tanah. Ayah ku di tanah. Ibu ku di tanah. Aku sempat di keramik. Kau lihat Raka. Kau tahan. Kau masih bisa dengar. Aku tidak minta kau cinta. Aku minta kau tidak jadi editor yang memotong kaki ketiga supaya slide rapi. Aku minta kau jadi anak yang berlutut dulu, tagihan belakangan—kalimat ayah mu, bukan milik ku.'
Bara berdiri, ke jendela. Kota. Lampu. Orang-orang yang tidak tahu HOLD_CROSS. 'Kalau aku dengar, aku harus menunda tahap empat. Arman sudah mencium bau. Dewan sudah dikasih janji. Hartono, kalau tersentuh salah, gigit balik. Jembatan mu tidak menahan itu. Jembatan mu menahan aku. Aku. Itu yang kau mau. Menahan aku dengan kertas ayah dan wajah ibu ku. Cukup pintar. Cukup kejam. Cocok untuk lawan aktif.'
'Saya mau menahan pembantaian yang salah alamat,' sahut Sinta. 'Kalau setelah dengar kau masih pukul, setidaknya kau pukul dengan mata terbuka. Sekarang mata mu setengah. Setengah mata lebih berbahaya dari buta. Buta tidak pilih. Setengah mata pilih yang mudah. Yang mudah itu kami. Yang sulit itu Hartono. Kau editor. Kau pilih mudah. Aku minta sulit, sekali, sebelum tombol.'
Diam lama. Kipas. Detak jam. Bara kembali, mengetuk kertas, tidak merobek. 'Aku dengar. Tercatat. Pengakuan separuh. Tiga kaki. Jeda…' ia menggeleng pelan, seperti orang menolak obat, '…tidak kuberikan. Dengar tidak otomatis berhenti. Kau dapat jembatan. Aku tidak janji menyeberang. Itu jujur. Lebih jujur dari sayang di taman. Jangan simpan jujur ini sebagai harapan. Harapan membuatmu lebih mudah dikendalikan. Aku sudah pernah bilang.'
Sinta merasakan jembatan itu diinjak satu langkah, lalu ditinggal. Dada sesak, bukan kaget. Ia sudah diingatkan Laila: orang turun dari altar sambil menendang jembatan. Ia tetap merapikan ujung kertas yang bergelombang.
'Kalau tahap empat jalan,' katanya pelan, 'jangan kena ibu. Jangan kena namaku di sekolah. Pukul perusahaan. Tinggalkan orang. Itu batas yang aku minta sebagai manusia, bukan sebagai pintu. Bukan sebagai baris Excel. Sebagai Sinta. Guru. Anak. Perempuan yang sempat cinta padamu dengan bodoh. Batas. Sekali ini.'
Bara menatapnya. Ada retakan. Ada Arman. Ada lantai dua puluh tahun lalu. Ada Raka di semen. 'Aku tidak janji batas. Perang tidak suka batas yang ditulis istri. Tapi aku dengar kalimat itu juga. Cukup untuk malam ini. Jangan harap lebih. Lebih membuatku lemah. Arman sudah cukup mengawasi kelemahan. Dan aku sudah cukup kehilangan tuhan kecil semalam untuk ditambah jeda.'
Ia pergi ke kamar kerja, membawa kertas ayah—bukan dilempar, disimpan di laci yang sama dengan foto, ironis, relikui baru. Sinta tinggal di meja makan. Jembatan berdiri. Basah. Belum runtuh. Tapi di seberang, orang yang ia tawarkan penyeberangan sedang menekan tombol yang tidak peduli jembatan basah atau kering, tidak peduli nama guru di agunan yang belum ia sebut karena ia masih naif, masih kira batas yang didengar akan ditahan di lidah sampai pagi.