Sinta tidak membawa Bara ke rumah Wijaya. Ia membawa permintaan yang lebih sulit: ayahnya bicara jujur, di kertas, dengan nama, tanpa menyucikan diri. Permintaan itu, di teras yang sama tempat teh perang Sabtu, terasa lebih berat dari map hitam. Dina menelpon tadi pagi: 'Kalau tidak tertulis, Bara akan bilang omongan. Tulis. Tinta lebih susah diedit di kepala.' Sinta setuju, meski tinta juga bisa dilipat jadi sampah.
Ayah menolak dua hari. Ibu masih lemah, pantangan panjang, obat di nakas. Rumah masih miring. Telepon bank masih berbunyi di jam yang tidak sopan. 'Aku sudah akui di sofa Sabtu,' katanya, merokok lagi, mata merah. 'Itu cukup. Dia dengar. Kau dengar. Ibu hampir pingsan mendengar. Jangan disuruh aku menari lagi di atas kuburan orang lain.'
'Tidak cukup,' sahut Sinta, tetap berdiri karena duduk membuatnya ingin menyerah. 'Sofa itu sidang yang dia menangi. Aku minta ayah tulis. Hartono. Gatot. Apa yang ayah lakukan. Apa yang ayah tidak lakukan. Bara sudah sebut tiga nama. Mulutnya pecah. Kalau ayah diam, dia akan pukul yang paling mudah lagi: kita. Karena kita kelihatan. Hartono tidak. Gatot tidak. Kita punya ruko, punya ibu, punya anak guru. Itu yang kelihatan di slide.'
Ayah duduk lama. Koran tidak dibuka. Angin memainkan halaman yang tidak dibaca. Akhirnya ia masuk, lama, bunyi laci, lalu keluar dengan kertas bergaris dari buku lama, tulisan tangan yang gemetar, tinta hitam yang kadang macet.
Sinta baca di bawah lampu teras yang kuning, nyamuk di kaki, ibu sesekali batuk di dalam.
Aku, Hendra Wijaya, mengakui: pada tahun-tahun sekitar kejatuhan usaha Aditya, kami mendorong kompetisi secara agresif. Kami hadir di rapat tekanan. Kami mengambil manfaat dari jalur yang longgar. Kami diam setelah kabar kematian. Diam itu dosa. Aku tidak merancang bunuh diri. Aku tidak meneken tali. Aku juga tidak suci. Hartono Darma ada di pinggir meja kami sebagai penasihat yang menjual arah. Gatot Raharjo menjembatani. Aku tahu mereka makan dua sisi. Aku tetap jalan karena lapar. Itu versi ku. Bukan versi lengkap dunia. Tapi ini yang bisa kusumpah di depan anakku.
Sinta menelan. Bukan vonis Bara. Bukan suci. Separuh. Separuh yang jujur lebih mahal dari pembelaan penuh, lebih mahal dari 'zaman dulu memang begitu'.
'Kenapa tidak seluruhnya?' tanyanya pelan. 'Kenapa tidak tulis kami ikut menekan sampai dia pojok? Itu sudah ayah bilang di sofa.'
Ayah menatap tangan sendiri, noda tinta di jari. 'Karena aku tidak tahu seluruhnya. Karena sebagian sudah kubunuh di ingatan supaya bisa hidup, makan, mengantar kau ke sekolah. Karena kalau aku tulis 'kami membunuh', itu dusta lain—dusta yang dia mau, supaya altarnya tegak, supaya slide rapi, supaya Arman atau siapa pun itu puas. Aku tidak akan kasih dusta itu meski anakku memintaku jadi jembatan. Jembatan yang dibangun dari dusta akan runtuh menimpa kau, Sin. Bukan menimpa aku. Aku sudah tua. Kau yang masih harus masuk kelas besok.'
Ibu di ambang pintu, selendang, mendengar, pipi cekung. 'Tulis juga: kami takut. Takut itu tidak memutihkan. Tapi jangan sampai Sinta menanggung sendirian. Tulis bahwa anak kami tidak duduk di rapat itu. Tulis, Hendra. Kalau tidak, aku yang dikira ibunya altar.'
Ayah menambah satu paragraf, lebih pendek, lebih gemetar. Sinta memotret, menitip salinan ke Laila lewat Dina, menyimpan asli di tas guru di antara buku cerita dan kapur. Malam itu ia tidak langsung lempar ke Bara. Ia tidur dengan kertas di bawah bantal seperti orang tidur dengan pisau yang belum dihunus—bukan untuk menusuk, untuk jembatan. Ia hampir tidak tidur. Tiap kali memejam, ia lihat kursi terbalik dan tiga nama.
Keesokan harinya di sekolah, Bu Laila baca di gudang alat, bau karet. 'Ini bagus. Tidak heroik. Bisa dipakai. Jangan harap dia langsung turun dari altar. Orang turun dari altar biasanya sambil menendang jembatan dulu. Siapkan lutut. Bukan untuk berlutut. Untuk tidak patah.'
'Saya tetap tawarkan,' kata Sinta. 'Kalau tidak, aku hanya jadi orang yang mengumpulkan nama untuk perang baru. Aku tidak mau jadi Arman versi Wijaya. Aku sudah di spreadsheet. Aku tahu rasanya jadi baris. Aku tidak akan bikin baris baru dari ayah ku dengan tinta dendam yang sama.'
Bu Laila mengangguk, menepuk bahu sekali, singkat. 'Jembatan. Bukan algojo. Ingat bedanya waktu dia mulai membentak. Dan makan. Jembatan yang lapar mudah dijual. Jangan jual diri sebelum kertas ini sempat dibaca orang yang seharusnya turun dari altar, meski hanya satu langkah.'
Sinta ingat kamar kerja, kursi terbalik, tiga nama, satu air mata di memo. Ia juga ingat: telinga pecah tidak berarti perang berhenti. Jembatan, malam itu, adalah satu-satunya cara yang masih ia percayai tanpa jadi suci—dan tanpa jadi pintu yang diam. Ia pulang ke rumah Mahesa dengan kertas di tas, kartu masih mati, angkot masih penuh, dan keputusan yang sudah tidak bisa dikembalikan ke laci: besok, meja makan, bukan kamar kerja. Altar Bara di atas. Jembatan di bawah. Ia pilih bawah. Di angkot, seorang ibu memeluk anak demam; Sinta menoleh, lalu memalingkan muka, karena Raka dan ayah Bara dan tanah terlalu penuh untuk satu perjalanan pulang.