Marah Bara tidak cantik. Tidak rapi. Tidak seperti CEO. Lampu kamar kerja terlalu terang untuk orang yang sedang kehilangan tuhan kecilnya. Kertas di lantai seperti salju kotor. Sinta berdiri di tengahnya, sepatu guru, tas masih di bahu, seperti orang yang salah masuk ruang rapat dan memutuskan tetap tinggal.
'Jangan bawa ibu ku!' bentaknya, urat di leher. 'Jangan bawa panti, jangan bawa Rina, jangan bawa altar yang tidak kau ngerti. Kau Wijaya. Kau bawa kertas untuk meruntuhkan satu-satunya yang membuat aku tidak gila selama dua dekade. Satu nama. Satu arah. Satu perang. Tanpa itu aku…' ia tertawa, jelek, '…aku harus duduk di lantai lagi seperti anak yang tidak tahu siapa yang harus dibenci. Aku tidak mau lantai. Aku sudah janji tidak ke tanah.'
Sinta berdiri di tengah kertas berserakan, tidak mundur, meski lututnya ingat keramik. 'Aku tidak meruntuhkan ayahmu. Aku meruntuhkan dusta yang kau bangun di atas mayatnya. Mayatnya tidak minta satu berhala. Kau yang minta. Karena satu berhala lebih mudah dari berkabung. Kau bilang sendiri, dulu, sumpah lebih mudah dari sedih. Ini dia. Editor sedih. Potong Gatot. Lindungi Hartono. Gilas Wijaya. Nikahi aku. Rapikan. Lalu marah ketika ada orang yang baca catatan kaki.'
Bara maju, bukan untuk memukul—ia tidak memukul, itu kamusnya—tapi untuk mengisi ruang, tinggi, bayangan. 'Kau tidak tahu apa yang kau buka. Hartono masih hidup. Masih punya gigi. Kalau dalil pecah, perang pecah. Arman pecah. Dewan pecah. Mahesa bisa goyah. Lalu apa? Ayahmu selamat? Ibu mu sembuh? Kau bebas dari prenup? Tidak. Yang terjadi: kotoran merata, semua orang makan semua orang, dan aku kehilangan satu-satunya kalimat yang kusimpan sejak lantai itu. Kalimat itu: Wijaya harus bayar. Kalau kalimat itu pecah, aku tidak tahu aku siapa. Aku sudah bilang. Kau tetap memaksa pecah.'
'Saya memaksa jujur,' sahut Sinta, suara gemetar tapi tidak pecah. 'Kau siapa tanpa satu setan? Coba jawab tanpa podium. Tanpa Arman. Kau anak yang kehilangan ayah. Kau suami yang menulis istrinya di Excel. Kau editor. Itu siapa. Tidak megah. Tapi nyata. Aku bisa hidup dengan nyata. Aku tidak bisa hidup dengan altar yang pakai wajahku sebagai kain.'
Bara menendang kursi sampai terbalik. Bunyi itu membuat pembantu di lantai bawah diam. Ia berdiri menahan napas, kedua tangan di tepi meja, kepala tunduk, seperti orang yang hampir menangis dan memilih marah sebagai gantinya.
'Aku benci kau malam ini,' katanya. 'Lebih dari Wijaya. Wijaya tidak masuk ke file ku dan menodai dua puluh tahun. Kau masuk. Kau gali. Kau bawa ibu. Kau bawa Suroso yang dulu sudah kutolak. Kau bawa kertas. Kau bawa kalimat 'dalil tunggal'. Kau buat aku terlihat seperti orang yang melindungi pembunuh ayahku. Aku tidak melindungi. Aku menunda. Menunda bukan suci. Menunda adalah perang. Kau tidak ngerti perang. Kau ngerti krayon dan IGD dan nasi bungkus.'
Sinta menelan ludah pahit. 'Aku ngerti perang cukup untuk tidak mau jadi kaki palsu. Aku ngerti kau takut. Takut itu manusia. Manusia itu yang kau bunuh tiap kali Arman bilang jangan lemah. Malam ini aku lihat kau manusia, Bara. Marah. Kacau. Kertas di lantai. Itu lebih jujur dari 'tidak menyesal'. Aku tidak minta kau memaafkan ayahku malam ini. Aku minta kau berhenti berbohong bahwa hanya ada satu nama. Hartono. Gatot. Wijaya. Tiga kaki. Kursi dusta. Bilang. Sekali. Di depan aku. Bukan di memo yang kau lindungi.'
Diam. Napas. AC. Kertas di lantai berpindah karena angin dari ventilasi.
Bara mengangkat kepala. Mata basah, marah, takut, lapar, semuanya. Ia mengucapkan nama itu seperti orang mencabut gigi sendiri:
'Hartono. Gatot.' Lalu, lebih pelan, 'Wijaya.' Tiga kata. Tiga kaki. Lalu ia menambahkan, kejam karena jujur, 'Itu tidak menghentikan tahap berikutnya. Jangan kira telinga pecah berarti perang berhenti. Aku bisa dengar dan tetap menggila. Kau dapat yang kau mau: aku sebut. Sekarang keluar. Aku tidak mau lihat wajah yang mirip ibu ku sambil aku kehilangan tuhan ku.'
Sinta gemetar. Kemenangan itu tidak manis. Ia mengangguk, sekali. 'Aku keluar dari ruangan ini. Bukan dari kebenaran. Kau sebut. Itu catatan. Tahap berikutnya… aku dengar. Aku tidak berlutut. Ingat Raka. Ingat ayah mu yang bilang jangan pukul orang di tanah. Kau sudah sebut tiga nama. Jangan hanya pukul yang paling mudah hanya karena dia punya anak yang kau nikahi.'
Ia pergi. Di koridor, lututnya hampir lepas. Ia masuk kamar, mengunci, duduk di lantai—bukan titik terendah yang sama; lantai ini ada tiga nama di udara, masih panas, masih berbau map yang dilempar. Ia kirim ke Bu Laila: 'masih napas. dia sebut tiga nama. perang belum berhenti.' Balasan: 'Bagus. Tidur. Jangan rayakan di rumah singa. Rayakan di kepala, pelan.'
Di kamar kerja, Bara duduk di antara kertas, menekan dahi, membiarkan satu air mata jatuh ke memo `HOLD_CROSS` yang tidak sempat ia rebut. Dua puluh tahun narasi retak. Tidak hancur total. Retak. Retak cukup untuk membuat Arman, besok, mencium bau lebih kuat dari satu jam di kafe. Retak cukup untuk membuat foto ibu di laci terasa seperti saksi, bukan relikui.
Bara mengetik pesan ke Arman: 'Jangan sentuh tahap empat tanpa aku. Ada revisi peta.' Lalu menghapus. Lalu mengetik lagi: 'Lanjut seperti rencana. Aku baik-baik saja.'
Kirim yang kedua.
Bohong. Ia tidak baik-baik saja. Tuhan kecilnya baru saja dipaksa berbagi kuil, dan laki-laki yang hidup dari satu kuil tidak pernah belajar berbagi tanpa ingin membakar isi rumah—termasuk istri yang baru saja memaksa mulutnya jujur.