Bukti setengah datang dari tempat yang Sinta tidak duga: bukan teras, bukan rumah susun—dari sisa akses yang Bara kira sudah mati.
Kartu rumah mati. Laptop terkunci. Internet kamar masih 'bermasalah'. Tapi di laci meja ruang tamu, di antara undangan yang tidak ia hadiri dan kartu nama orang yang tersenyum di ballroom, Sinta menemukan flashdisk lain—bukan yang ia curi dulu, yang tertinggal di amplop 'bahan dewan', kecil, hitam, tanpa label. Bara buru-buru pagi itu; Arman menelpon dua kali; benda kecil tertinggal seperti sticky note dulu, seperti dosa yang tidak belajar dari dosa sebelumnya.
Ia tidak buka di rumah. Ia buka di sekolah, di komputer guru yang lambat, kipas berisik, Bu Laila berdiri di pintu dengan badan menutup kaca. 'Cepat. Ada yang mau fotokopi.' Sinta mengangguk, colok flashdisk, tunggu folder muncul seperti orang menunggu vonis.
Folder: `HOLD_CROSS`. Di dalamnya, memo internal, bahasa dingin. Satu baris yang membuat Sinta menahan napas:
H.D. — jangan dieksekusi. Masih berguna sebagai tekanan silang & sumber info lawan. Lindungi jarak. Jangan publik. G.R. — status gelap; jangan diangkat ke narasi resmi (risiko pecahnya dalil tunggal).
G.R. Gatot Raharjo. H.D. Hartono. Dilindungi. Bukan karena tidak bersalah. Karena berguna. Karena narasi resmi butuh satu berhala. Karena pecahnya dalil tunggal adalah risiko—tertulis, sadar, disimpan.
Sinta gemetar, bukan isak, marah yang jernih. Ia duduk di kursi guru yang berbunyi, menekan dahi. Bara bukan hanya menolak dengar. Ia tahu. Ia pilih. Ia lindungi nama yang seharusnya ada di altar yang sama, supaya perang tetap sederhana, supaya Mahesa tetap punya musuh yang bisa difoto, supaya Arman tidak perlu menjelaskan ke dewan bahwa dunia kotor merata. Dalil tunggal. Kalimat itu seperti prenup: formalitas yang jadi borgol, hanya kali ini borgolnya di kepala Bara sendiri.
Bu Laila membaca dari belakang. 'Astaga. Ini bukan teori. Ini kebijakan. Dia menyensor dendamnya sendiri. Lebih parah dari buta. Buta masih bisa dituntun. Editor menuntun orang lain ke jurang yang ia pilih.'
'Saya kira dia buta,' bisik Sinta. 'Dia tidak buta. Dia editor. Editor lebih kejam dari orang buta. Orang buta tidak memilih siapa yang dihapus dari halaman.'
Mereka menyalin. Flashdisk kembali ke amplop sebelum pulang—Sinta tidak bodoh dua kali; ia tidak mencuri barang yang akan dicari. Hanya foto layar, ke HP Laila, ke Dina, rantai pendek.
Dina membalas: 'Ini yang kucari. Nama dilindungi. Bukan karena suci. Karena strategi. Kalau kau lempar ini, dia tidak bisa bilang kertas pudar. Ini bahasanya sendiri. Hati-hati Arman. Orang seperti Arman lebih dulu cium bocor daripada cium rasa bersalah.'
Sinta mengetik: 'Aku lempar. Tidak di dapur. Di kamar kerja. Biar altarnya dengar di tempat ia menulis dosa. Kalau Arman cium, biar. Aku sudah di spreadsheet. Lebih dalam dari ini hanya tanah, dan aku sudah di keramik.'
Malam itu ia menunggu Bara pulang. Meletakkan printout memo di atas laptop yang tertutup. Tidak highlight kuning. Tidak perlu. Bahasa itu sudah cukup menyala.
'Kau lindungi Hartono,' katanya. 'Kau sembunyikan Gatot dari narasi resmi. Risiko: pecahnya dalil tunggal. Itu kalimat mu. Bukan ayahku. Bukan Suroso. Bukan Bu Wati. Kau. Kau tahu peta utuh. Kau potong. Lalu kau menikahi aku sebagai kaki yang kelihatan. Lalu kau bilang dendammu tidak buta. Lihat. Editor. Pilih. Lindungi orang yang makan dua dapur, gilas orang yang punya anak guru. Itu bukan sumpah pada ayahmu. Itu manajemen.'
Bara memucat, lalu merah. Ia melihat kertas, melihat Sinta, menghitung dari mana bocor. Amplop dewan. Flashdisk. Kecerobohan lagi. Arman akan marah. Ia lebih dulu marah pada yang di depan mata.
'Kau menggeledah lagi.'
'Kau meninggalkan senjata di ruang tamu. Aku guru. Aku baca.' Sinta tidak mundur. 'Sekarang jangan bilang teori. Jangan bilang lagu orang kalah. Ini kebijakan mu melindungi nama yang seharusnya kau benci kalau agama mu jujur. Agama mu tidak jujur. Agama mu nyaman. Aku minta yang tidak nyaman: buka dalil. Atau akui kau bukan anak yang membalas. Kau CEO yang memilih musuh yang paling mudah diangkat ke podium.'
Bara meraih kertas, mengepal, tidak sampai merobek. Napasnya pendek. Dua puluh tahun narasi—Wijaya, satu setan, altar, Sinta sebagai pintu—berdiri di tepi meja, goyah.
'Keluar dari ruangan ini,' katanya, suara rendah yang lebih berbahaya dari bentak. 'Sekarang.'
'Saya istri. Lawan aktif. Ingat kamus mu.' Sinta tetap. 'Aku tidak keluar sebelum kau sebut nama itu dengan mulut mu. Hartono. Gatot. Bilang. Atau aku yang akan sebut ke orang yang lebih ramai dari kamar kerja ini—bukan koran, belum, tapi ke ayahku, ke ibu mu di panti, ke siapa pun yang masih hidup dengan dusta tunggal. Ibu mu bilang jangan biarkan dendam membunuh yang tersisa. Kau sedang membunuh yang tersisa dengan editor.'
Itu pemicu. Bukan kertas. Ibu. Panti. Dusta tunggal. Nama Rina yang tidak boleh jadi senjata, lalu tetap jadi senjata karena Bara yang menaruhnya di laci dan di wajah istri.
Bara melempar map ke dinding. Isi berhamburan. Pulpen jatuh. Bingkai foto pernikahan yang sudah telungkup bergeser. Suaranya pecah jadi marah yang dua puluh tahun ditahan di balik rapi, di balik 'konsisten', di balik satu jam yang tidak jadi selamat.