Sinta mulai dari perpustakaan umum, bukan dari Google yang terlalu mudah dilacak.
Ia minta cuti setengah hari dengan alasan urusan keluarga. Di ruang guru, Bu Laila menatapnya lama sambil memegang absensi, lalu menutup pintu kaca.
'Kalau kau gali sesuatu, gali dengan teman,' katanya pelan. 'Jangan gali sendirian sampai terjatuh ke lubang. Aku tidak butuh berita Bu Guru hilang di arsip koran.'
'Saya hanya cari koran lama,' jawab Sinta. Itu bukan bohong. Hanya bukan seluruhnya. Bohong utuh sudah cukup ia dapat dari rumah.
Di lantai arsip, bau kertas basah, debu, dan tinta kering menyambut seperti napas orang tua. Lampu neon berkedip. Petugas menunjukkan mikrofilm, komputer tua, dan setumpuk kliping digital yang sudah dipindai setengah-setengah. Sinta mengetik nama yang ia curi dari malam-malam Bara: nama belakang Aditya, nama pabrik kecil yang pernah disebut selintas saat marah, tahun-tahun sekitar dua dekade lalu. Jari-jarinya dingin di keyboard.
Layar berkedip. Judul muncul satu per satu, hitam di putih, tanpa belas kasihan.
'Pengusaha lokal ditemukan meninggal di residensi.'
'Diduga bunuh diri terkait tekanan utang.'
'Mitra membantah tuduhan praktik bisnis tidak sehat.'
'Polisi: tidak ada tanda kekerasan.'
Sinta menelan. Ia memperbesar foto hitam-putih: pria paruh baya di samping mesin, senyum kusut, kemeja bergelombang—wajah yang punya bayangan di rahang Bara, di cara alis menurun saat fokus. Di paragraf ketiga, ada kalimat yang membuat perutnya mual: 'keluarga meninggalkan pernyataan singkat meminta privasi'. Tidak ada nama Wijaya di berita itu. Belum. Hanya kesunyian yang terlalu rapi.
Ia mencatat tanggal di buku catatan guru—yang biasanya penuh skor ulangan dan nama murid nakal. Sekarang penuh panah, tanda tanya, dan kotak di sekitar nama reporter. Ia menulis: 'cek koran daerah', 'cek kreditur', 'cek jalur distribusi'. Tulisan agak bergetar.
Sore hari, sebelum Bara pulang, Sinta menyembunyikan catatan di laci baju dalam, di bawah tumpukan kaos oblong dan selimut tipis. Ia memasak seperti biasa: sayur, ayam, nasi. Senyum seperti biasa. Saat mesin mobil berbunyi di garasi, ia menghapus riwayat pencarian di ponsel meski tahu itu tidak cukup.
Bara masuk, mencium udara dapur, menatapnya dari ambang.
'Matamu seperti orang kurang tidur karena PR,' katanya, melepas jam.
'Murid banyak,' sahut Sinta. 'Dan suami yang menolak cerai. Itu cukup membuat mata gelap.'
Bara mendengus pelan, hampir tertawa. 'Lucu. Jangan terlalu lucu sampai lupa posisi. Posisi istri yang pintar itu rawan.'
'Makanlah,' kata Sinta. 'Sebelum dingin.'
Malam itu, setelah pintu kamar kerja tertutup dan bunyi ketikan keyboard terdengar samar, Sinta kembali ke ponsel di kamar mandi—satu-satunya ruang yang terasa tidak punya telinga. Forum lama. Blog ekonomi yang sudah mati, komentar 2004 masih menggantung. Satu utas anonim menyebut 'kasus pabrik Aditya' dan 'tekanan dari konglomerat menengah yang waktu itu sedang lapar aset'. Nama yang disebut samar: inisial W. Seseorang membalas, 'jangan sebut depan, nanti dihapus'. Utas putus.
Sinta menempelkan dahi ke kaca kabinet obat.
'Ayah…' bisiknya, tidak tahu apakah memanggil ayahnya sendiri atau ayah Bara yang sudah jadi berita. 'Kalau ini perang kalian, kenapa aku yang dibayar? Kenapa meja makanku jadi medan?'
Keesokan harinya ia kembali, kali ini ke koran daerah yang masih menyimpan hardcopy di gudang belakang. Petugas tua mengeluh soal rayap dan debu, lalu menyerahkan map kuning berlabel tahun. Di dalamnya, guntingan yang lebih jujur dari versi nasional: ada foto rumah duka, ada kalimat tetangga soal 'pria baik yang tiba-tiba diam', ada rumor 'dipaksa jual' dan 'tagihan mendadak', ada yang bilang 'anaknya kecil, istrinya hampir pingsan'.
Dan di satu paragraf pinggir, hampir lolos dari gunting redaktur:
'…sempat terseret dalam sengketa dengan kelompok usaha Wijaya terkait jalur distribusi dan akses gudang…'
Sinta duduk di kursi besi gudang sampai kaki kesemutan. Bau karton basah memenuhi hidung. Nama itu ada. Bukan vonis. Bukan pengakuan di pengadilan. Tapi jejak. Jejak yang cukup untuk membuat sumpah Bara punya alamat—dan cukup untuk membuat Sinta takut pada darahnya sendiri tanpa sempat membela, tanpa sempat bertanya pada ayah dengan kepala dingin.
Ia memotret halaman itu dua kali, memastikan fokus. Tangan gemetar. Di luar gudang, hujan mulai, memukul atap seng. Sinta masuk ke mobil, menghidupkan wiper, duduk sampai kaca berkabut oleh napasnya sendiri. Untuk pertama kali sejak cerai ditolak, ia merasa punya senjata kecil: bukan untuk menyerang Bara malam itu juga, tapi untuk tidak lagi menerima sejarah hanya dari mulut orang yang punya kepentingan—baik Bara maupun ayahnya.
Di rumah, Bara bertanya singkat sambil melepas sepatu, 'Ke mana saja? Baju mu bau debu.'
'Urusan sekolah,' dusta Sinta, lalu menambah kebenaran kecil agar dusta bertahan, 'dan urusan keluarga. Ayah masih panik. Bank masih menelepon. Ibu tidak tidur.'
Bara mengangguk, puas dengan panik itu seperti orang puas pada cuaca yang mendukung panen. 'Bagus. Panik adalah bahan bakar yang tepat. Jangan terlalu banyak bensin di kepalamu sendiri.'
Sinta menatap punggungnya menuju tangga. Di tasnya, foto koran tersimpan di balik buku cerita anak. Di dadanya, keputusan mengeras, dingin, jelas:
Ia akan gali sampai kuburan kertas itu bicara lebih jujur daripada suami—dan lebih lengkap daripada pembelaan ayah yang terlalu cepat bilang 'itu bisnis'.