Sinta tidak menunggu suasana lembut. Lembut di rumah itu sudah mati semalam di ballroom, diinjak heels dan tawa sopan.
Pagi Minggu, meja makan hanya ada kopi dan sunyi. Cahaya masuk miring ke lantai marmer. Bara membaca tablet, kemeja santai, seolah dunia semalam hanya angka yang sudah dikonversi. Sinta meletakkan amplop tipis di samping cangkirnya—bukan surat pengacara resmi, baru catatan yang ia ketik semalaman, rapi, dingin, meniru bahasa orang yang sudah terlalu sering ditipu dan ingin berhenti menjadi bahan ajar.
'Aku minta cerai,' katanya.
Bara tidak mengangkat kepala segera. Ia menyelesaikan satu gulir berita, lalu menatap amplop, lalu menatap Sinta. Mata itu tenang. Terlalu tenang.
'Langsung.'
'Aku tidak mau jadi Nyonya Mahesa di foto yang memalukan orang tuaku. Aku tidak mau jadi stempel. Aku tidak mau tidur di rumah operasi. Aku tidak mau mendengar “kita doakan” sebagai pisau.' Sinta menarik napas. 'Cerai. Diam-diam kalau bisa. Publik boleh tahu belakangan. Aku siap balik ke nama gadis, ke kelas, ke hidup yang tidak punya singa di kop surat. Aku minta itu sebagai manusia, bukan sebagai variabel.'
Bara menutup tablet. Bunyinya pelan. 'Tidak.'
Satu kata. Rapuhnya harapan Sinta terdengar di telinga sendiri, seperti kaca yang retak di dalam.
'Kau tidak bisa menahan orang dengan “tidak”.'
'Bisa.' Bara berdiri, mengambil amplop, membukanya, membaca cepat, lalu melipat lagi dengan jari yang rapi. 'Pertama: prenup yang kau tanda tangani sebelum resepsi—ingat? Di ruang notaris yang kau bilang “pengap”, saat kau tersenyum karena percaya. Kau bilang “itu formalitas”. Klausul di situ membuat perceraian dalam dua tahun pertama memberimu keluar yang sangat tipis, dan memberiku ruang menjaga aset serta… narasi. Kedua: kalau kau paksa cerai sekarang, aku tidak perlu jadi monster di rumah tiap malam. Cukup jadi lawan di luar. Keluargamu sedang sesak. Satu dorongan publik soal “perpecahan rumah tangga” plus tekanan bisnis… ibu mu tidak akan tahan lama. Kau mau taruhan itu? Kau mau ibu mu baca berita cerai sambil bank menelepon?'
Sinta memucat. Kursi terasa jauh dari lantai. 'Kau mengancam ibu ku.'
'Aku menjelaskan peta,' sahut Bara. 'Kau suka peta, kan? Sejak kau mulai pintar. Jangan minta peta lalu marah saat kontur tanahnya kejam.'
Sinta maju, mengetuk dada sendiri. 'Aku menandatangani karena percaya. Karena cinta. Karena kau bilang formalitas itu untuk “jaga-jaga orang luar”. Kau pakai formalitas sebagai borgol. Kau pakai altar sebagai pintu masuk. Kau pakai aku.'
'Semua pernikahan punya borgol. Bedanya ada yang berbulu, ada yang baja.' Bara meletakkan amplop kembali ke meja, tepat di tempat semula. 'Aku tolak cerai. Bukan karena aku tidak bisa hidup tanpa kau di ranjang. Jangan flatternya jadi roman murahan. Aku tolak karena operasi belum selesai, dan namamu masih berguna—di publik maupun di meja panik Wijaya. Kau masih stempel yang basah. Aku belum selesai memakai tintanya.'
Air mata Sinta jatuh, marah lebih dulu daripada sedih. 'Kau tidak punya hak.'
'Aku punya kontrak, waktu, dan posisi,' kata Bara tanpa belas. Lalu, lebih pelan, seolah menyisipkan racun manis agar luka lebih dalam, 'Dan aku punya satu hal yang kau masih punya: sisa perasaan. Kau bilang cerai, tapi matamu masih mencari celah aku “hampir lembut”. Masih mengingat mie pedas. Masih bodoh sedikit. Itu membuatmu berbahaya bagi dirimu sendiri. Aku hanya memanfaatkan yang sudah ada. Efisien.'
Sinta menampar pipinya. Bunyi itu tajam di dapur Minggu yang seharusnya tenang. Kepala Bara bergeser sedikit, lalu kembali tegak. Bekas merah muncul pelan di tulang pipi. Ia tidak memegang pipinya. Ia memegang kendali.
'Itu yang pertama,' katanya tenang. 'Jangan buat jadi kebiasaan. Aku tidak membalas dengan tangan. Aku membalas dengan akibat. Kau tahu bedanya. Akibat lebih lama tinggalnya.'
Sinta gemetar. Suaranya pecah, lalu ia susun lagi. 'Aku akan cari pengacara sendiri. Aku akan baca tiap baris. Aku tidak akan percaya “formalitas” lagi.'
'Silakan. Pengacara yang baik akan membaca prenup lalu bilang “bu, bertahanlah dulu atau siapkan perang panjang”. Perang panjang membutuhkan uang, waktu, dan saraf. Kau guru. Aku CEO. Tebak siapa yang lebih tahan atrisi. Tebak siapa yang lebih mudah dibuat terlihat “emosional” di berita.'
Sinta tertawa pecah, lalu berhenti. 'Jadi aku penjara.'
'Kau istri,' sahut Bara. 'Di rumah ini, sinonimnya memang sering berdekatan. Itu bukan puisi. Itu kondisi.'
Ia mengambil jaket dari sandaran kursi. 'Aku ke kantor. Ada yang harus dijaga agar “doa” semalam jadi angka. Jangan lakukan sesuatu yang bodoh hari ini—telepon media, kabur tanpa rencana, mengadu ke orang yang suka menjual cerita. Telepon ibumu kalau perlu—tapi jangan bilang soal cerai. Dia belum kuat. Kau bilang sendiri takut dia roboh. Jangan jadi orang yang merobohkan dengan mulut sendiri.'
Pintu tertutup. Bunyi mesin mobil menjauh. Rumah kembali menjadi museum.
Sinta jatuh ke kursi. Amplop di meja seperti mayat kecil. Ia memegang cincin di jarinya, ingin melepas, lalu menyadari melepas cincin tidak melepas klausul, tidak melepas nama di berita, tidak melepas tangan Bara dari napas keluarganya, tidak menghapus foto ballroom yang sudah beredar.
Di ponsel, ia membuka kontak Bu Laila, mengetik: 'Aku minta cerai. Ditolak. Aku takut.' Pesan itu tertahan di kotak draft. Ia menatapnya lama, lalu mengunci layar—bukan karena tidak percaya Bu Laila, karena takut setiap kata jadi peluru yang memantul ke ibu, ke ayah, ke murid yang tidak perlu tahu Bu Guru sedang dililit baja.
Ia berdiri, mencuci cangkir sampai mengkilap, mengelap meja sampai tidak ada jejak kopi, lalu berbicara pada dapur kosong dengan suara yang baru ia kenali: lebih serak, lebih dewasa, lebih berbahaya.
'Kalau pintu cerai dikunci, Bara, aku akan cari jendela lain. Bukan untuk kabur seperti pengecut. Untuk mengerti ayahmu. Untuk mengerti dosa yang kau tempelkan ke namaku. Untuk membaca papan sampai aku tidak lagi jadi bidak yang hanya bisa ditampar klausul.'
Di luar, langit Minggu cerah seolah tidak ada yang rusak. Burung di taman berbunyi. Di dalam, Sinta menyimpan satu niat baru di balik penolakan itu, di balik pipi Bara yang memerah, di balik amplop yang ditolak:
Menyelidiki.
Kalau ia tidak bisa keluar lewat hukum hari ini, ia akan masuk lebih dalam ke sejarah yang Bara pakai sebagai alasan—arsip, koran, nama, kuburan—dan sejarah, kalau digali cukup dalam, kadang menggigit pemilik sumpahnya sendiri sebelum sempat puas.