Kepingan tidak datang sekaligus. Datang seperti bocoran atap: pelan, basah, membuat lantai licin, membuat orang jatuh kalau terburu.
Sinta menyusuri nama reporter di berita lama. Beberapa sudah pensiun, nomor tidak aktif. Satu nama masih menulis opini pahit di portal kecil soal etika korporasi. Ia mengirim email netral dari akun baru: 'mahasiswa yang sedang riset sejarah industri lokal, mohon wawancara singkat'—bohong yang ia benci, tapi lebih aman daripada 'istri CEO yang sedang menyelidiki suami dan darah sendiri'.
Balasan datang dua hari kemudian, saat Sinta sedang mengoreksi PR di ruang guru. Singkat, tanpa basa-basi.
'Kasus Aditya kotor. Banyak yang tidak masuk cetak. Waktu itu sponsor besar. Kalau mau detail, jangan lewat email. Saya di kafe dekat stasiun, Kamis sore. Bawa pertanyaan, bukan drama.'
Kamis sore Sinta duduk dengan teh tawar, rambut diikat, blus polos, tanpa cincin—cincin ia tinggal di rumah, takut mengilap di mata orang yang terlalu terbiasa membaca status dari jari. Hujan gerimis di luar. Bau roti panggang. Pria itu datang dengan jas hujan dan batuk basah, duduk tanpa minta izin, menatap Sinta lama.
'Kau bukan mahasiswa,' katanya. 'Mahasiswa tidak punya mata seperti itu.'
'Saya orang yang butuh kebenaran,' sahut Sinta. 'Bayar tehmu. Dengar aku. Lalu putuskan mau bicara atau tidak. Aku tidak bawa recorder. Aku bawa takut, kalau itu cukup jaminan.'
Pria itu tersenyum miring, memerintah teh manis. 'Berani. Baik. Dulu ada tekanan distribusi. Ada utang yang tiba-tiba “disempurnakan” jadi jerat—bunga, denda, klausul yang muncul seperti hantu. Ada rapat yang dihadiri orang Wijaya—bukan selalu nama besar di depan meja, kadang lewat orang kedua, kuasa hukum, “teman”. Ayah Aditya menolak jual. Keras kepala. Lalu tagihan datang bertubi. Lalu dia… selesai di rumahnya. Polisi bilang bunuh diri. Banyak yang percaya karena mudah. Banyak yang tidak. Yang tidak percaya tidak punya bukti cukup untuk dilawan di pengadilan opini. Opini waktu itu sudah dibeli lebih dulu.'
Sinta mencatat di kepala, menekan kuku ke telapak agar tetap fokus. 'Saja yakin Wijaya dalang tunggal?'
Reporter itu mengangkat bahu, batuk lagi. 'Di bisnis, dalang tunggal jarang. Yang ada: yang paling terlihat, yang paling diuntungkan, yang paling pandai cuci tangan. Nama Wijaya sempat muncul di catatan saya. Redaktur coret dengan pulpen merah. Katanya, “jangan gugat orang yang masih hidup dan masih beli iklan.” Itu kalimat zaman itu. Mungkin zaman sekarang lebih sopan di permukaan, tetap sama laparnya di dapur.'
Sinta mengangguk pelan. 'Ada orang lain? Pihak ketiga?'
'Selalu ada. Orang yang menjual informasi, orang yang meminjamkan pisau, orang yang bilang “saya hanya perantara”.' Ia meneguk teh. Matanya ke jari Sinta yang kosong bekas cincin, lalu ke wajahnya. 'Tapi kalau kau istri Aditya muda… hati-hati. Anak itu punya dendam yang sudah jadi perusahaan. Dendam berlembaga lebih berbahaya dari dendam berteriak. Dendam berlembaga punya legal, punya PR, punya istri di foto.'
Sinta pulang dengan kepala penuh, wiper bekerja cepat. Di jalan tol macet, ia menelepon ayah—bukan untuk mengaku sedang menggali, untuk menguji versi yang selama ini digantung di rumah sebagai 'masa lalu yang tidak perlu diceritakan anak'.
'Yah, dulu… pernah ada sengketa distribusi dengan pabrik kecil bernama Aditya? Sekitar dua puluh tahun lalu.'
Jedah panjang. Suara televisi di belakang dimatikan. Suara ayah berubah, lebih rendah.
'Kenapa tanya itu sekarang?'
'Karena menantuku hidup dari pertanyaan itu,' kata Sinta jujur setengah. 'Aku perlu dengar versimu. Bukan versi podium, bukan versi marah. Versi ayah.'
Ayah menghela napas, lama. 'Dulu keras. Semua keras. Ada tawar-menawar. Ada yang kalah. Ada yang bilang kami terlalu agresif. Aku tidak membunuh orang, Sinta. Aku berbisnis. Kalau dia lemah, kalau dia pilih jalan gelap di ujung, itu bukan otomatis dosa kami. Jangan kau bawa fitnah anak itu ke meja makan. Ibu tidak kuat.'
'Fitnah atau sejarah?' tanya Sinta pelan. 'Karena di koran daerah, nama kita ada di pinggir berita. Pinggir. Tapi ada.'
'Sejarah ditulis pemenang,' sahut ayah, pahit, hampir berbisik. 'Dan sekarang pemenangnya kelihatannya menantumu. Hati-hati, anak. Jangan menggali kuburan orang lain sampai kau ikut terkubur.'
Telepon putus. Sinta duduk di mobil di parkiran rumah sampai gelap total, sampai lampu taman menyala otomatis. Di satu sisi, koran menyebut Wijaya. Di sisi lain, ayah membela dengan bahasa yang tidak cukup bersih untuk membuatnya tenang—bahasa orang yang mungkin tidak membunuh, tapi juga tidak polos. Di tengah, Bara yang sudah mengubah kuburan jadi strategi dan istri jadi pintu.
Malam itu di rumah, Bara menemukan Sinta sedang membaca di sofa. Lampu kuning. Ia menyenggol buku catatan yang sempat terbuka di halaman panah—Sinta menutup cepat, terlalu cepat.
'PR?' tanya Bara, berdiri di belakang sofa.
'Sejarah,' jawab Sinta.
Bara tersenyum tipis, tapi mata tidak ikut. 'Sejarah berbahaya kalau dibaca orang awam. Banyak yang salah kaprah, lalu minta belas kasihan. Atau lebih buruk: minta suami berhenti berperang karena satu paragraf koran.'
'Saya tidak minta belas kasihan,' kata Sinta, menatap lurus. 'Aku minta kelengkapan. Nama di pinggir berita itu milik keluarga ku. Aku berhak membaca lebih dari yang kau izinkan.'
Bara menatapnya lebih lama dari biasanya, jari mengetuk sandaran sofa. 'Jangan terlalu jauh, Sinta. Kuburan ayahku bukan wisata edukasi untuk istri Wijaya. Ada batas antara mengerti dan mengganggu.'
'Saja takut aku menemukan sesuatu yang membuat sumpahmu retak?' tanya Sinta pelan. 'Atau takut aku menemukan bahwa dendammu terlalu sempit untuk seluruh kotoran zaman itu?'
Bara tidak menjawab. Ia pergi ke kamar kerja, pintu ditutup lebih keras dari biasa. Dan diam itu, bagi Sinta, lebih nyaring dari pengakuan: ada sesuatu di pinggir berita—atau di belakang berita—yang belum ia izinkan dibaca siapa pun, termasuk istri yang sudah terlalu dalam masuk ke papan dan mulai membaca kotak-kotak yang seharusnya masih tertutup.