Perjamuan berjalan dengan orkestra kecil dan kekejaman yang memakai tuxedo.
Bara menempatkan Sinta di meja utama, di kursi yang membuatnya terlihat oleh setengah ruangan. Di meja sebelah, beberapa nama lama lingkar Wijaya duduk dengan punggung terlalu tegak. Sinta mengenali Pak Herman—dulu sering ke rumah, membawa kue dan cerita proyekan, pernah bilang Sinta 'pintar kalau mau masuk bisnis'. Sekarang ia tersenyum ke arah Sinta seperti orang meminta ampun lewat udara, lalu menunduk ke roti yang tidak ia makan.
Pembawa acara menyebut nama sponsor. Mahesa disebut lebih sering, dengan tawa yang dilatih. Wijaya tidak disebut—kecuali saat Bara, di sesi “sambutan singkat”, memegang mikrofon dengan gaya pemimpin yang ramah.
'Pertumbuhan butuh mitra yang tahan uji,' kata Bara, suara hangat ke publik, dingin ke sasaran. 'Ada yang lulus uji. Ada yang perlu waktu… lebih panjang untuk belajar tata kelola. Kita doakan mereka menemukan napas. Dunia bisnis tidak kejam; dunia bisnis hanya jujur lebih cepat dari perasaan.'
Tawa sopan memenuhi ruangan. Sendok beradu. Sinta melihat Pak Herman memucat. Seseorang di meja itu menelan anggur terlalu cepat. “Doa” Bara adalah tamparan yang tidak meninggalkan jejak di CCTV—hanya di reputasi, di antrean kredit, di tidur orang tua Sinta nanti malam.
Setelah sambutan, orang-orang mengantri menyalami Bara. Sinta berdiri di samping, dipegang siku sesekali agar tidak bergeser dari frame. Seseorang memuji gaunnya. Seseorang bertanya sekolah mana ia mengajar, seolah ingin koleksi trivia istri CEO. Sinta menjawab singkat, senyum tipis, merasa seperti brochure hidup.
Seorang wanita berkalung mutiara menghampiri Sinta, berbisik terlalu dekat sampai parfumnya memenuhi hidung. 'Kasih saran ke ayahmu, Bu. Jangan bandel. Angin sudah ganti. Orang pintar menyesuaikan layar, bukan melawan badai dengan dada terbuka. Kau kan sudah di layar yang benar. Tolong keluargamu naik ke kapal yang sama—sebelum kapal lama jadi museum.'
Sinta menatapnya. 'Ayah saya bukan topik cocktail.'
'Semua orang di sini topik cocktail, Bu.' Wanita itu tersenyum, gigi rapi. 'Termasuk kau. Termasuk suami mu. Bedanya, kalian yang menentukan resepnya.'
Bara selesai berjabat, kembali, menangkap potongan percakapan dari cara bahu Sinta mengeras. 'Istri saya lelah. Maaf.' Ia menggiring Sinta menjauh ke dekat jendela, lalu tanpa menundukkan suara terlalu pelan, 'Bagus. Mereka menguji apakah kau meledak. Jangan beri tontonan murah. Meledak itu murah. Diam yang marah lebih mahal.'
'Saja yang bikin tontonan,' bisik Sinta. 'Kau “mendoakan” orang sampai tulang mereka kelihatan. Pak Herman dulu makan di rumahku.'
'Itu bahasa ruangan ini.' Bara mengambil dua gelas champagne dari nampan, memberi satu ke Sinta tanpa minum. 'Di luar, bahasa ayahmu adalah “kontrak”. Di sini, bahasa adalah malu yang dibungkus doa. Efektif. Hemat. Dan kamera menyukai orang yang bilang “kita doakan”.'
Di dekat buffet, Sinta bertemu sepupu jauh yang ikut undangan karena bisnis sampingan. Sepupu itu menariknya ke pojok dekat tanaman hias, suara mendesak.
'Sinta, kau sadar tidak? Orang-orang Wijaya dipajang seperti peringatan. “Jangan jadi mereka.” Aku malu. Kau juga harusnya malu. Atau kau sudah terlalu nyaman jadi Nyonya Mahesa? Foto kalian rapi sekali. Orangtua kita di rumah seperti apa?'
Sinta menarik napas. Bau salmon dan saus mahal membuat perutnya bergejolak. 'Aku tidak nyaman. Aku bertahan. Bedakan sebelum kau ikut menghakimi dari pojok buffet. Kalau malu, bantu ayahku—jangan hanya menatapku seperti pengkhianat yang dipilih kamera.'
Sepupu itu terdiam, lalu mengalihkan muka ke piring kosong. Bahkan darah sendiri, malam itu, lebih mudah menilai daripada bertanya. Sinta merasa sendirian di kerumunan yang menyebut namanya dengan benar untuk alasan yang salah.
Menjelang akhir, Bara “tidak sengaja” mengatur foto bersama: ia, Sinta, dan dua mitra lama Wijaya yang wajahnya kaku. Fotografer bilang 'senyum, lebih lebar'. Mitra itu tersenyum terlambat. Bara tersenyum tepat waktu. Sinta tersenyum seperti orang yang menahan mual di balik lipstick.
Di mobil pulang, Sinta melepas heels dan melemparkannya ke karpet. Kakinya merah, melepuh kecil di sisi. Ia tidak peduli.
'Kau mempermalukan mereka di depan saya,' katanya. 'Di depan nama saya. Di depan kamera yang akan sampai ke grup ayah sebelum kami sampai rumah.'
'Benar.' Bara melepas dasi, menggulungnya rapi. 'Supaya kau melihat harga perang. Supaya mereka melihat harga menunda menyerah. Supaya publik melihat siapa yang memegang mikrofon. Malam yang sukses bukan malam yang ramai tawa. Malam yang sukses adalah malam yang membuat orang tidur buruk.'
'Saya minta berhenti.'
'Belum.'
Sinta menoleh. Matanya basah, tapi marah lebih besar dari sedih. 'Kalau kau terus memakai wajahku sebagai stempel malu orang lain, suatu hari aku akan cabut stempel itu. Kau dengar? Aku tidak akan terus jadi doa palsu di sampingmu.'
Bara menatapnya lama di gelap kabin. Lampu jalan memotong wajahnya jadi jalur terang-gelap. Ada kilatan sesuatu—bukan kalah, lebih seperti catatan di kepala strategi: variabel makin liar, perlu dikunci dengan cara lain.
'Cabut kalau berani,' katanya pelan. 'Tapi pastikan kau tahu konsekuensi pada orang yang kau sayang. Malam ini baru pembuka. Jangan mengira mikrofon sudah dimatikan hanya karena orkestra berhenti.'
Sinta memalingkan muka ke jendela. Kota lewat seperti deretan gigi mengilap. Di kepalanya, suara wanita bermutiara, tawa sopan, wajah Pak Herman, dan doa palsu Bara bergabung menjadi satu keputusan yang besok pagi akan ia bawa ke meja makan—tanpa bunga, tanpa mie pedas, tanpa tipuan lembut:
Cerai.
Bukan sebagai drama. Sebagai napas. Sebagai satu-satunya cara mencabut wajahnya dari frame yang memakan darahnya sendiri.