Undangan itu tidak memberi ruang menolak.
Amplop tebal. Kartu emboss. Nama Sinta tertulis di samping Bara Aditya—bukan sebagai “plus one” yang bisa diganti, tapi sebagai bagian dari tata panggung. Di sudut kartu, logo singa kecil tersenyum tanpa mulut.
'Aku tidak mau pergi,' kata Sinta di pagi acara, masih berbalut jubah mandi, rambut basah, mata sembab karena semalam kurang tidur.
Bara menyematkan manset tanpa menoleh. Cermin memantulkan wajahnya yang sudah jadi topeng publik. 'Kau pergi. Gaun sudah di kamar. Sopir jam enam. Jangan buat drama di parkir hotel. Media kecil suka drama parkir.'
'Saja memaksa.'
'Aku menagih peran,' sahut Bara. 'Kau istri. Publik sudah tahu. Kalau kau absen malam pertama nama kita berpasangan di karpet, orang akan bilang Wijaya goyah atau rumah tangga retak. Aku belum butuh spekulasi itu. Aku butuh foto yang rapi—dan efek di belakang foto. Efek tidak menunggu mood guru SD.'
Sinta tertawa pahit. 'Jadi aku manekin.'
'Manekin yang punya nama belakang berguna,' kata Bara dingin. Lalu, lebih pelan, seolah memberi remah agar Sinta tidak meledak sebelum makeup, 'Pakai yang hitam. Sederhana. Jangan terlalu manis. Malam ini bukan resepsi kedua. Malam ini pernyataan.'
Persiapan di kamar memakan waktu yang Sinta rasakan sebagai hukuman: penata rambut yang terlalu ceria, sepatu yang terlalu tinggi, clutch yang terlalu kecil untuk menyimpan napas. Bara sesekali lewat di cermin, mengoreksi kalung, lalu bilang 'bagus' dengan nada quality control. Sinta ingin melempar clutch itu. Ia hanya mengangguk.
Di hotel ballroom, lampu gantung membuat segala sesuatu mengilap: gelas, gigi, niat, keringat di pelipis orang yang sedang menjual diri. Musik instrumental menutupi bisik. Bau parfum mahal bercampur bau karpet basah cuci. Sinta masuk di sisi Bara. Tangan Bara di pinggangnya ringan—bukan mesra, penanda milik. Kilat kamera menyambut seperti hujan pendek. Seseorang bilang, 'Nyonya Mahesa'. Sebutan itu menusuk telinga Sinta lebih tajam dari makian, karena terdengar ramah. Ia sempat mencari pintu darurat dengan mata, lalu ingat: di perang ini, pintu darurat juga bisa jadi jebakan foto.
Mereka berkeliling. Bara memperkenalkan dengan kalimat pendek yang sudah dihafal.
'Istri saya. Sinta. Guru. Keluarga Wijaya.'
Tiap kali kata “Wijaya” keluar, Sinta merasakan ruangan bergeser: ada yang tersenyum terlalu lebar, ada yang mengalihkan minum, ada yang menatap seperti melihat barang sitaan yang dipamerkan di etalase dengan lampu yang tepat. Seseorang mengucapkan selamat dengan tangan terlalu lama di lengan Sinta. Bara menariknya halus, tersenyum, seolah menjaga—padahal sedang menandai.
Seorang pria berambut abu menghampiri, mencium tangan Sinta dengan sopan yang berlebihan.
'Akhirnya. Kudengar kabar. Mahesa memang selalu punya selera… strategis.'
Bara tersenyum. 'Selera yang bekerja.'
Sinta menarik tangannya pelan. 'Saya punya nama. Bukan selera.'
Pria itu tertawa, mata berkilat. 'Berani. Cocok. Dunia ini kurang istri yang berani di samping laki-laki yang terlalu biasa menang.'
Di sudut, Sinta melihat dua wajah yang ia kenal samar dari pesta keluarga dulu—mitra ayah, atau mantan mitra. Mereka mengangguk kaku. Salah satu berusaha mendekat ke Bara dengan senyum memohon, map tipis di tangan seolah ingin menyelipkan nasib. Bara membalas dengan basah dingin: 'Nanti di meja diskusi. Malam ini sosial dulu. Jangan campur asap rokok dengan angka.'
Di toilet wanita, Sinta mengunci pintu, menatap cermin. Gaun hitam. Cincin. Riasan yang dibuat penata agar “tenang dan mahal”. Kalung tipis. Wajahnya seperti milik orang lain yang lebih mahal dan lebih kosong. Ia membasuh pergelangan dengan air dingin sampai merinding.
Ponsel bergetar di clutch. Pesan ibu: 'Ayah lihat fotomu di grup bisnis. Dia marah. Kau kelihatan seperti dijual. Pulang cepat.'
Sinta membalas: 'Aku dipaksa. Nanti pulang aku telepon. Jangan marah di grup.'
Ketukan di pintu. Suara asisten acara, manis dan memaksa. 'Nyonya Aditya? Tuan menunggu untuk foto resmi. Mohon tidak lama.'
Nyonya Aditya.
Sinta keluar. Di lantai ballroom, Bara mengulurkan tangan. Senyumnya sudah menyala untuk lensa. 'Senyum. Sedikit saja. Cukup untuk kamera, tidak untuk Tuhan.'
'Saya benci kau malam ini,' bisik Sinta sambil tersenyum tipis ke kilat.
'Bageli,' bisik Bara balik, tanpa mengubah sudut mulutnya. 'Benci membuat matamu hidup. Lebih bagus di foto. Nanti orang bilang kimia kalian kuat.'
Setelah sesi, Bara membawanya ke balkon kecil untuk “udara”. Angin malam memukul bahu telanjang Sinta. Di bawah, lampu kota seperti serpihan kaca.
'Kenapa harus aku di sini?'
'Karena orang-orang Wijaya yang masih bertahan perlu melihat bahwa putri mereka berdiri di sisi saya—bukan di sisi meja panik mereka.' Bara menatap kota. 'Malam ini aku tidak hanya pamer istri. Aku pamer kepemilikan narasi. Siapa yang digandeng, siapa yang ditinggalkan di antrean minum, siapa yang harus menunggu “nanti di meja diskusi”. Narasi itu lebih mahal dari champagne.'
Sinta merinding. 'Kau sakit.'
'Aku konsisten,' ulang Bara, mantra lamanya. 'Masuk. Ada orang yang perlu kau sapa. Jangan khawatir: aku yang bicara. Kau cukup hadir seperti stempel hidup. Stempel yang cantik lebih mudah diterima dokumen.'
Sinta mengikuti, heels berbunyi di marmer seperti detak yang dipaksakan. Di dadanya, satu kalimat tumbuh semakin keras: kalau malam ini ia hanya stempel, besok ia akan mencoba mencabut dirinya dari kertas—meski tinta sudah mengering, menyakitkan, dan meninggalkan nama yang tidak mudah dihapus.