Rumah Wijaya sore itu tidak menyambut dengan pelukan. Menyambut dengan pertanyaan yang sudah menumpuk seperti tagihan yang jatuh tempo bersamaan.
Ibu membuka pintu, mata sembab, rambut agak berantakan. 'Masuk. Jangan berdiri di ambang seperti tamu. Ini masih rumahmu—kecuali kau sudah lebih nyaman di rumah singa itu.'
Di ruang tengah, ayah sudah duduk. Koran bisnis dilipat kasar di meja, tinta hitam mengotori ujung jarinya. Di layar TV yang dimatikan, Sinta membayangkan wajah Bara masih tersenyum di podium imajiner, disorot orang yang tidak kenal harga senyum itu.
'Di mana dia?' tanya ayah.
'Tidak ikut. Aku datang sendiri.'
'Berani sekali,' gumam ayah. 'CEO tidak mau hadir di rumah mertua saat namanya baru meledak. Atau memang dia mengirim kau sebagai perisai lagi? Seperti kemarin-kemarin, saat kontrak kami macet dan kau disuruh “bertanya manis”?'
'Saya bukan perisai,' kata Sinta, duduk. Kursi yang sama sejak SMA terasa lebih keras. 'Aku juga sedang dicabik. Di sekolah, di grup, di kepala sendiri.'
Ibu menyodorkan air putih. Tangannya gemetar sampai gelas berbunyi di piring. 'Sin, kenapa rahasia? Ibu kira dia biasa saja. Rendah hati. Ibu bahkan membela dia di depan saudara yang bilang pernikahan terlalu cepat. Sekarang saudara menelepon satu-satu. Ada yang bilang kita menjual kau. Ada yang bilang kau menjual kami. Ada yang bilang Wijaya cari payung Mahesa karena bisnis goyah. Ibu malu. Ibu takut. Ibu tidak tahu mana yang benar—dan itu lebih sakit daripada fitnah yang jelas.'
Sinta menelan. Air terasa pahit. 'Aku tidak menjual siapa pun. Aku ditipu soal status. Soal niat… lebih rumit.'
'Lebih rumit bagaimana?' Ayah mencondongkan badan. Bau minyak kayu putih di bajunya tidak cukup menutupi bau panik. 'Bilang. Jangan dilindungi. Jangan jadi istri yang lebih setia pada tipu daya daripada pada orang tua yang membesarkan.'
Sinta memandang lantai kayu yang dulu ia basahi air mata kecil waktu jatuh sepeda. Sekarang air mata dewasa lebih sulit jatuh di depan orang tua—karena takut menghancurkan mereka lebih cepat daripada berita bisnis.
'Bara… punya dendam pada keluarga kita,' katanya pelan. 'Dia bilang ayahnya hancur karena Wijaya. Dia menikahiku sebagai bagian dari itu. Status CEO disembunyikan supaya aku percaya. Supaya kalian percaya. Supaya aku masuk tanpa perisai.'
Senyap. Jam dinding berdetak seperti palu kecil. Di dapur, ketel yang lupa dimatikan mulai berbunyi; ibu tidak bergerak.
Ibu menutup mulut. Ayah memucat, lalu merah. Urat di pelipisnya menonjol.
'Dia bilang apa?' suara ayah serak. 'Ayahnya hancur karena kita? Itu fitnah kotor. Dulu memang ada persaingan. Keras. Ada orang jatuh. Ada orang naik. Tapi bunuh diri orang… itu bukan narasi yang boleh dilempar ke muka anakku sebagai alasan menikahi! Itu bukan alasan menjadikan putriku medan perang!'
'Ayah, aku tidak membela dia.'
'Kalau tidak membela, kenapa masih di rumahnya?' Ibu hampir berteriak, lalu menahan, suara pecah di tengah. 'Cerai. Pulang. Kita hadapi omongan bersama. Jangan kau jadi istri perang orang gila. Ibu tidak kuat melihat fotomu di samping dia di berita sambil orang bilang “selamat”.'
Sinta menggigit bibir sampai terasa asin. 'Kalau aku pulang sekarang, perang tidak berhenti. Dia bilang begitu. Dan bisnis ayah… sedang goyah dengan cara yang terlalu rapi untuk sial biasa. Aku bukan bilang ini untuk membela. Aku bilang supaya kalian tidak mengira kaburku otomatis menyelamatkan meja ini.'
Ayah terdiam. Mata yang marah berubah jadi mata yang takut—karena kalimat Sinta menempel pada luka yang sudah ada: kontrak, bank, mitra yang menghilang.
'Kau menuduh menantumu merusak kita,' katanya pelan.
'Aku menyusun kepingan,' sahut Sinta. 'Aku belum punya semua bukti di tangan. Tapi aku punya pengakuan kerangka dari mulutnya sendiri: pernikahan ini operasi. Dan sekarang nama Mahesa keluar ke publik. Itu bukan romansa. Itu babak.'
Ibu menangis tanpa suara. Ayah berdiri, mondar-mandir, meninju udara yang tidak bisa dipukul, lalu berhenti di depan foto keluarga di dinding.
'Suruh dia ke sini,' perintah ayah akhirnya. 'Aku mau dengar dari mulutnya. Kalau dia berani pakai nama ayahnya yang mati untuk menghancurkan kita, dia harus berani duduk di sofa ini. Jangan hanya berani di podium dan di berita.'
'Saya akan sampaikan,' kata Sinta. 'Tapi jangan harap dia datang sebagai menantu yang menyesal. Dia datang sebagai lawan—kalau mau datang. Dan dia punya kebiasaan memilih panggung.'
Sebelum pulang, ibu memegang lengan Sinta erat sampai kuku terasa. 'Kau anakku. Bukan aset Mahesa. Ingat itu. Kalau lututmu lemah, telepon ibu. Jangan mati di rumah orang dengan senyum sopan. Ibu lebih tahan mendengar kau menangis di sini daripada melihat kau “tenang” di samping singa.'
Di mobil, Sinta menempelkan dahi ke setir. Marah keluarga sudah terbuka. Publik sudah berbicara. Dan di tengah itu, ia masih harus pulang ke rumah yang sama dengan laki-laki yang jadi pusat badai—laki-laki yang mungkin sedang tersenyum membaca efek ombaknya.
Di rumah, Bara hanya bilang, saat Sinta menceritakan undangan perang di sofa mertua:
'Suruh mereka menunggu. Aku akan datang—saat panggungnya lebih berguna. Sofa mertua belum tentu panggung terbaik.'
Sinta menatapnya. 'Kau tidak punya malu?'
'Malu tidak membayar sumpah,' jawab Bara. Ia menuang air, minum, menaruh gelas tepat di tengah tatakan. 'Tidurlah. Besok ada acara. Kau ikut.'
'Saja acara?'
'Acara yang akan membuat nama Wijaya dan Mahesa berdiri di foto yang sama. Senyum. Kilat kamera. Dan beberapa orang yang perlu belajar duduk lebih rendah.' Bara menoleh. 'Pakai yang hitam. Aku sudah siapkan. Jangan berdebat sampai pagi. Debat tidak mengubah undangan yang sudah dicetak.'
Sinta tidak menjawab. Di dadanya, marah orang tua dan takutnya sendiri bergabung jadi satu keputusan yang belum ia ucapkan keras: suatu hari ia akan minta keluar—bukan sebagai anak yang baik, tapi sebagai perempuan yang sudah muak dijadikan pintu, perisai, dan foto.