Sinta sudah tahu Bara CEO.
Yang belum ia siap hadapi: dunia ikut tahu—dan menatapnya seperti dekorasi baru di lengan pria itu.
Pagi itu di ruang guru, Bu Laila menyodorkan ponsel tanpa basa-basi. Bau kopi sachet masih menempel di udara. Di layar, unggahan akun bisnis lokal: foto Bara di podium, logo Mahesa di belakang, caption singkat soal ekspansi dan “kepemimpinan yang tenang”. Di kolom komentar, seseorang menulis, 'istrinya guru SD, cantik, keluarga Wijaya ya?'. Yang lain membalas dengan emotikon champagne. Yang lain lagi bilang, 'strategis banget'.
Sinta memegang ponsel sampai jari dingin.
'Kau… sudah tahu?' tanya Bu Laila pelan, menutup pintu kaca ruang guru agar anak piket tidak mendengar.
'Baru-baru ini,' jawab Sinta. Suaranya serak. 'Tapi aku tidak menyangka akan begini. Di dinding orang. Di mulut orang. Di grup yang bahkan tidak kenal wajahku kecuali dari foto resepsi.'
'Di grup alumni sekolah kita juga sudah rame,' sahut Bu Laila. 'Ada yang bilang selamat. Ada yang bilang kau pandai memilih. Ada yang bilang kau disembunyikan seperti rahasia negara. Aku bilang: jangan spekulasi di belakang teman. Tapi kau tahu sendiri, Sin. Mulut orang tidak pernah patuh pada satu orang.'
Bel berbunyi. Sinta masuk kelas dengan senyum yang sudah retak di sudut. Anak-anak tidak peduli CEO. Mereka peduli apakah Bu Guru bawa stiker hari ini, apakah cerita Si Kancil bersambung, apakah hujan membuat olahraga dibatalkan. Itu satu-satunya napas bersih yang Sinta dapat sebelum siang merusaknya lagi.
Saat antar jemput, seorang ibu murid menghampirinya di pagar, helm masih di tangan.
'Bu Sinta, ikut selamat ya. Suami Bu hebat sekali. Baru tahu dari grup WA kelas. Kok diam-diam? Ibu kira suami Bu kerja biasa.'
Sinta tertawa kecil. Angin menerbangkan rambutnya ke mata. 'Kami suka tenang.'
'Tenang apa, Bu. Mahesa itu besar. Kalau ada lowongan buat suami saya…' Ibu itu tertawa, lalu serius, menurunkan suara. 'Bercanda. Tapi kalau boleh kenalan… atau sekadar ucapan. Orang kecil juga mau dekat ke lampu besar, Bu. Maaf ya kalau kurang sopan.'
Sinta mengangguk samar, lalu kabur ke mobil sebelum ibu lain ikut mengerumuni. Di setir, ia menekan dahi sampai sakit. Nama Mahesa bukan lagi rahasia di rumah. Nama itu sudah jadi sosial. Dan sosial, Sinta tahu, punya gigi—giginya berupa undangan, permintaan, fitnah, dan senyum yang terlalu panjang.
Di jam istirahat kedua, notifikasi menumpuk: saudara jauh, teman kuliah yang hilang lima tahun, bahkan tetangga kompleks orang tua. Semuanya versi berbeda dari kalimat yang sama: 'baru tahu', 'selamat', 'kok disembunyikan', 'Wijaya sekarang dekat Mahesa ya?'.
Sinta mematikan data sebentar, lalu menyalakan lagi karena takut ayah menelepon tanpa terjawab.
Sore hari, berita itu sampai ke meja makan Wijaya lebih cepat dari Sinta sendiri. Ayah menelepon dengan nada yang diguncang dua arah: panik bisnis dan marah harga diri. Suara piring di belakang menandakan ibu juga mendengar.
'Sinta. Bara itu CEO Mahesa? Kenapa tidak bilang? Kenapa dia diam? Kenapa kau diam? Aku baru dibuka mata oleh orang di klub yang senyumnya miring!'
'Aku baru tahu jelas belakangan, Yah.'
'Belakangan? Kita sudah jadi bahan omongan. Orang bilang menantu Wijaya dari dulu punya rencana. Ada yang bilang kita merangkul Mahesa. Ada yang bilang Mahesa merangkul kita untuk digilas. Aku tidak tahu mana yang lebih memalukan! Yang jelas, aku terlihat seperti mertua yang buta!'
Sinta duduk di parkiran rumah Bara, mesin masih menyala, AC menghembus dingin ke wajah yang panas. 'Ayah, jangan percaya semua omongan.'
'Omongan lahir karena ada fakta yang disembunyikan!' bentak ayah, lalu merendah, lelah, napas berat. 'Pulang. Kita bicara. Bawa suamimu kalau berani. Kalau tidak berani, kau tetap pulang. Ibu sudah menangis sejak siang.'
Sinta menutup telepon. Di rumah, Bara sudah di ruang tamu, jas masih lengkap, tablet di tangan—seolah ia sudah menghitung gelombang berita sejak pagi, seperti orang menghitung ombak sebelum kapal lawan oleng.
'Nama ku keluar,' katanya tanpa menoleh. 'Akhirnya. Aku tidak menahan selamanya. Ada saatnya publik berguna.'
'Saja sengaja?'
'Saja tidak mengunci mulut orang forever. Ada yang “tidak sengaja” membagikan. Ada yang memang diizinkan anginnya lewat.' Bara mengangkat mata. 'Publik suatu saat berguna. Sekarang kau rasakan gelombangnya. Selamat datang di sisi yang tidak bisa kau hapus dengan kapur di papan tulis.'
Sinta melempar tas ke sofa. Resleting terbuka, stiker murid berhamburan—ironis di tengah perang orang dewasa. 'Orang-orang di sekolah membicarakan aku seperti piala. Ayah marah. Ibu menangis. Kau senang?'
Bara berdiri, mendekat satu langkah. Parfum kantor masih utuh. 'Aku tidak butuh senang. Aku butuh efek. Nama Mahesa di samping nama Wijaya membuat banyak pihak bergerak: takut, curiga, mendekat, menjauh. Gerakan itu yang aku panen. Kau bilang kau mau membaca papan. Ini salah satu kotaknya.'
'Saya manusia, Bara. Bukan efek.'
'Kau manusia yang sedang berada di tengah efek,' sahutnya tenang. 'Bedakan. Supaya tidak pingsan tiap kali notifikasi berbunyi. Dan supaya kau tidak membuat kesalahan bodoh di depan kamera orang lain—karena mulai sekarang, kamera itu lebih sering mengarah ke kau.'
Malam itu Sinta mematikan data seluler. Tapi di kepala, komentar tetap jalan: 'cantik', 'pandai memilih', 'disembunyikan', 'Wijaya', 'strategis'. Ia menatap langit-langit, menghitung napas, dan mengerti babak baru:
Rahasia sudah pecah ke publik.
Dan pecahan itu tidak akan kembali menjadi kaca utuh—hanya menjadi senjata yang lebih mudah digenggam siapa saja, termasuk suami yang sudah terlalu mahir menggenggam, dan termasuk orang-orang yang baru belajar menyebut namanya sebagai “Nyonya Mahesa” dengan iri atau iba yang sama-sama menusuk.