Sinta tidak menunggu suasana “baik”. Di rumah mereka, suasana baik adalah tipuan yang dijual per sendok.
Malam berikutnya, setelah makan yang hambar—sup yang terlalu asin karena Sinta tidak fokus—ia meletakkan ponsel di meja makan. Layar menyala menampilkan profil singkat Bara Aditya, CEO Mahesa Group. Foto formal. Nama lengkap. Jabatan. Logo singa di sudut artikel.
Bara menatap layar, lalu menatap Sinta. Tidak kaget total. Hanya… menghitung kerusakan, seperti orang melihat retak di kaca anti peluru.
'Kau cari namaku,' katanya. Suaranya datar.
'Kau bohong soal pekerjaan.' Suara Sinta juga datar, tapi mata basah menahan. 'Dulu di taman kau bilang kerja di divisi proyek. Sibuk, tapi biasa. “Jabatan tidak penting,” katamu. Di depan orang tua ku kau rendah hati. Di gereja kau biarkan semua orang mengira kau “cukup mapan, tidak perlu pamer”. Padahal kau CEO. Kau puncak. Kau orang yang bisa menahan napas perusahaan lain dengan satu memo dan senyum procedural.'
Bara menyandarkan punggung di kursi. 'Dan?'
'Dan?' Sinta tertawa pahit sampai bahu bergetar. 'Itu saja yang kau bilang? Dan? Seolah aku menanyakan cuaca?'
'Aku tidak pernah bilang aku miskin.' Bara mengangkat bahu. 'Aku hanya tidak memasang jabatan di dahi. Banyak orang melakukan itu. Ada yang bilang itu rendah hati.'
'Bukan “tidak memasang”. Kau menyembunyikan. Ada bedanya.' Sinta mengetuk meja sampai sendok berdering. 'Kau menikahiku dengan identitas setengah. Kau bilang cinta. Kau bilang tenang. Kau bilang rumah akan jadi tempat pulang. Lalu malam pertama kau umbar dendam. Sekarang aku tahu dendam itu punya kantor bertingkat, logo singa, legal team, dan ruang rapat berkaca. Kau bukan suami yang marah. Kau mesin. Dan aku dikawinkan dengan mesin itu tanpa dibaca buku petunjuknya.'
Bara terdiam dua detik. Jari-jarinya mengetuk tepi piring. Lalu mengangguk pelan, mengakui sebagian seperti orang menandatangani klausul yang memang sudah terbaca lawan.
'Benar. Aku CEO Mahesa Group. Aku menyembunyikannya saat mendekatimu karena kalau kau tahu terlalu cepat, kau akan takut—atau lebih buruk, keluargamu akan memakai kau untuk mendekatiku dengan cara lain. Aku butuh kau bersih. Butuh kau percaya. Butuh kau… masuk tanpa perisai. Guru SD yang baik adalah perisai paling tipis di dunia orang lapar.'
'Saya bukan proyek akuisisi!'
'Kau bagian dari rencana,' kata Bara tenang. 'Itu yang bisa aku akui malam ini. Jelas. Tanpa puisi.'
Sinta merasakan lantai miring. Lampu di atas meja terasa terlalu terang. 'Bagian apa? Hanya menyiksa aku sampai menangis? Atau lebih? Kontrak ayahku. Isu yang tiba-tiba. Senyummu yang terlalu tenang. Itu kau, kan?'
Bara berdiri, mengambil gelas air, minum, lalu berbicara menghadap jendela gelap yang memantulkan bayangan mereka berdua seperti orang asing.
'Aku akui: status CEO disembunyikan. Aku akui: pernikahan ini punya tujuan balas dendam. Aku akui: bisnis keluargamu sedang dalam tekanan, dan aku tidak sedih melihatnya.' Ia menoleh. Cahaya memotong wajahnya jadi dua. 'Yang tidak aku akui malam ini: detail. Urutan. Nama-nama di belakang layar. Kau tidak perlu peta perang lengkap untuk tahu kau ada di medan. Kadang peta membuat orang nekat. Aku belum butuh kau nekat. Aku butuh kau… sadar cukup untuk tidak bodoh, tapi tidak cukup untuk menggagalkan.'
'Saja bukan cukup!' Sinta maju sampai kursi terdorong. 'Aku hidup dengan kau. Aku tidur di rumah kau. Aku diminta jadi jembatan panik orang tuaku. Aku memasak untuk orang yang menahan napas keluargaku. Aku berhak tahu seberapa dalam kau merencanakan hidupku. Aku berhak tahu apakah setiap “sayang” di masa pacaran adalah skrip.'
Bara mendekat sampai jarak napas. Bau parfumnya sama seperti malam lamaran. Matanya dingin, tapi tidak kosong—ada api yang dikendalikan, api orang yang sudah lama membakar diri sendiri.
'Kau berhak marah. Kau berhak benci. Kau berhak melempar piring kalau itu membuatmu lega.' Ia menangkap pandangan Sinta. 'Kau tidak berhak menghentikan apa yang sudah berjalan hanya karena merasa ditipu. Penipuan adalah bagian dari awal. Fondasi. Sekarang kau melihat sebagian wajah asli. Itu sudah lebih jujur dari bulan-bulan manis. Anggap saja aku menaikkan gaji kejujuranmu.'
Sinta menampar dadanya sekali—bukan keras, lebih seperti putus asa yang butuh kontak. 'Kau jahat.'
'Aku konsisten,' sahut Bara. 'Lebih jarang orang bilang itu. Kejahatan yang berubah-ubah justru lebih sulit dilawan.'
Ia menangkap pergelangan Sinta pelan, menurunkan tangan itu, ibu jari sempat mengusap kulit—lalu melepaskan seolah sentuhan terlalu berbahaya bagi perang.
'Tidurlah. Besok kau masih harus mengajar. Jangan hancur di depan anak-anak hanya karena suami mu ternyata punya gelar panjang di kartu nama. Muridmu tidak perlu ikut menanggung logo singa.'
Sinta menarik napas, gemetar. Air mata akhirnya jatuh, tapi suaranya tidak pecah total. 'Ini belum selesai.'
'Tidak pernah selesai,' kata Bara. 'Itu bedanya sumpah dengan janji manis. Janji manis bisa dicabut. Sumpah… menagih bunga.'
Ia pergi ke kamar kerja. Pintu ditutup. Bunyi itu sama dengan bunyi laci terkunci—hanya lebih besar.
Sinta tersisa di meja makan dengan layar ponsel yang masih menyala. Wajah Bara di profil bisnis tersenyum formal—senyum yang tidak pernah ia lihat di taman. Senyum orang yang menang sebelum lawan sadar sedang dilawan. Senyum yang sekarang ia kenali di banyak malam “sibuk”.
Malam itu Sinta tidak tidur. Ia menulis di catatan ponsel, bukan untuk dikirim: daftar kebohongan, daftar keanehan, daftar pertanyaan, tanggal kontrak ayah goyah, malam bunga putih, malam mie pedas. Di urutan paling atas ia menulis satu kalimat yang membuat perutnya mual sampai ia harus duduk di lantai kamar mandi:
'Kalau dia CEO, pernikahan ini bukan hanya dendam emosional. Ini operasi.'
Dan operasi, Sinta tahu dari berita dan dari naluri, jarang berhenti hanya karena pasien mulai sadar sedang dibedah.