Sinta tidak mencari dokumen.
Ia mencari kabel charger yang hilang.
Itu yang ia bilang pada dirinya sendiri saat masuk ke ruang tamu lantai bawah, membuka laci konsol, mengorek kotak remote, mengangkat bantal sofa, lalu—karena charger tidak ada—menuju tas kerja Bara yang tertinggal di sandaran. Biasanya tas itu tidak pernah tertinggal. Hari itu, setelah “hampir lembut” semalam, Bara pergi buru-buru: telepon, jas, mobil. Tas kulit hitam terbuka sedikit, seperti mulut yang tidak sempat ditutup.
Sinta berdiri di depan tas itu seperti di depan pintu terkunci lain. Jantungnya sudah lebih dulu bersalah.
'Hanya charger,' ulangnya. 'Hanya charger.'
Jari-jarinya membuka resleting. Bau kulit mahal dan sedikit kopi. Di dalam: laptop tipis, power bank, map tipis, pulpen, dan satu amplop cokelat tanpa label. Charger ada di saku samping, mengilap, tidak bersalah. Ia seharusnya berhenti. Mengambil. Menutup. Pergi.
Ia tidak berhenti.
Amplop itu terlalu biasa untuk orang yang suka mengunci foto. Biasa justru mencurigakan. Sinta menarik isinya pelan, seolah kertas bisa berteriak: lembaran presentasi, kop surat, undangan internal, dan kartu nama.
Di kop surat, logo singa kecil dengan garis tegas. Di kepala kertas, cetak tebal:
MAHESA GROUP
Di bawahnya, nama yang membuat lutut Sinta lemah:
Bara Aditya — Chief Executive Officer
Sinta duduk di sofa tanpa sadar. Kertas bergetar di tangan. Ia membolak-balik: undangan rapat dewan, ringkasan akuisisi, catatan “confidential”, stempel internal, paraf yang sama dengan tanda tangan di surat nikah mereka. Bukan karyawan biasa. Bukan “kerja di perusahaan besar tapi rendah hati” seperti yang dulu Bara ceritakan di taman dengan senyum malu, dengan tangan menggaruk tengkuk, dengan kalimat 'jabatanku tidak penting, yang penting aku bisa pulang dan dengar cerita muridmu'.
CEO.
Pria yang menikahinya di gereja dengan alasan sederhana, yang bilang status tidak perlu dipamerkan, yang mengaku sibuk “proyek”, ternyata duduk di puncak mesin yang bisa menahan kontrak orang lain hanya dengan satu rapat pagi dan satu memo legal yang terdengar netral.
Sinta teringat ayahnya yang panik. Kontrak hilang. Isu likuiditas. Pinjaman darurat yang terlalu ramah. Tangan yang “prosedural”. Senyum Bara saat bilang 'bisnis memang kejam'.
'Tuhan…' bisiknya. 'Aku tidur dengan perang.'
Ia memotret satu halaman dengan ponsel—bukan untuk menyebar, untuk memastikan dirinya tidak bermimpi—lalu mengembalikan kertas ke amplop dengan urutan yang sama, amplop ke tas, charger ke genggaman. Tangannya berkeringat. Jantungnya berdegup seperti orang ketahuan mencuri, padahal yang dicuri adalah kebenaran tentang suami sendiri.
Sepanjang hari di sekolah, logo Mahesa menempel di kepala. Ia hampir salah nilai PR murid. Menulis komentar 'bagus' di pekerjaan yang belum selesai. Bu Laila menyenggol sikunya di ruang guru.
'Lain lagi? Kau menatap dinding seperti ada hantu jabatan.'
'Saja lagi,' jawab Sinta. Lalu, karena takut meledak di depan kopi sachet, ia menambah pelan, 'Kalau suatu hari aku bilang suamiku bukan orang yang kukira, kau jangan kaget.'
Bu Laila menatapnya serius. 'Aku sudah tidak kaget sejak kau bau sedih. Tapi kalau bahaya—uang, ancaman, tangan kasar—jangan simpan sendiri. Guru juga boleh lari.'
'Bukan tangan kasar,' bisik Sinta. 'Lebih rapi dari itu.'
Pulang sekolah, Sinta duduk di mobil di parkiran terlalu lama sampai satpam mengetuk kaca, memastikan ia baik-baik saja. Ia mengangguk, tersenyum, lalu mengetik di bilah pencarian ponsel: “Bara Aditya Mahesa”. Hasilnya tidak banyak di berita populer—Bara memang jarang pamer—tapi di situs bisnis ada profil singkat, foto formal, kalimat “memimpin ekspansi”, “konsolidasi”, “strategi jangka panjang”. Wajah di layar sama dengan wajah di altar. Sama dengan wajah yang bilang 'aku akan jaga kamu'.
Sinta tertawa sendiri, suara pecah di kabin mobil yang pengap.
'Bodoh. Aku benar-benar bodoh. Semua orang di resepsi mungkin sudah tahu. Hanya aku yang dikasih versi taman.'
Malam itu Bara pulang dan langsung mencari tas. Sinta di dapur, punggung tegang, sedang memotong sayur terlalu kecil.
'Kau buka tas ku?' tanya Bara tiba-tiba dari ruang tamu. Bukan tuduhan keras. Lebih seperti jebakan yang dilempar santai, menguji apakah mangsa akan loncat.
Sinta keluar dengan pisau masih di tangan, lalu sadar dan meletakkannya. 'Aku ambil charger. Kau tinggalkan tas terbuka.'
Bara menatapnya. Menimbang napas, posisi bahu, kedipan. Lalu mengangguk pelan. 'Lain kali minta saja. Tas kerja bukan area wisata.'
'Saja area rahasia, maksudmu.'
Bara tersenyum tipis. 'Semua orang punya area. Kau juga. Misalnya laci hati yang tidak kau buka pada ibumu. Kita sama-sama pandai menyimpan.'
Sinta hampir melempar nama Mahesa ke wajahnya malam itu juga. Kata-kata sudah di lidah, pahit dan siap. Tapi ia menelan dulu. Bukan karena takut—karena ingin bertanya dengan cara yang tidak bisa digelapkan lagi oleh senyum, oleh mie pedas, oleh bunga putih. Ia butuh satu malam untuk menyusun nyali dan bukti di ponsel.
Di kamar, ia menatap foto pernikahan di meja. Pengantin perempuan tersenyum. Pengantin laki-laki tersenyum. Di balik senyum itu, ada jabatan yang disembunyikan, dendam yang diumumkan, dan rencana yang kini terasa jauh lebih besar dari sekadar “menyiksa istri di rumah mewah”.
Sinta berbisik pada foto dirinya sendiri yang bodoh bahagia:
'Besok aku tanya. Dan kali ini, aku tidak terima jawaban setengah. Kalau perlu, aku bawa nama singa itu ke meja makan.'
Di luar kamar, Bara memeriksa isi amplop. Semuanya utuh. Tapi ada satu sudut kertas yang sedikit lebih hangat dari yang lain—atau mungkin itu hanya paranoia orang yang terlalu lama menang. Ia menatap pintu kamar Sinta lama, jari mengetuk kartu nama sendiri.
'Jangan mulai lebih cepat dari jadwal,' gumamnya. Lalu mematikan lampu ruang tamu, meninggalkan gelap yang rapi—dan satu retakan kecil bernama kemungkinan: Sinta sudah melihat.