Hujan lagi. Kota berbunyi basah di luar jendela lantai atas. Bunyi genting, bunyi ban di genangan, bunyi dunia yang tidak peduli ada sumpah dua puluh tahun di dalam rumah.
Bara pulang lebih awal dari biasanya—langka. Jas basah di bahu. Rambut agak berantakan. Di tangannya bukan map, melainkan kotak makan kecil dari restoran yang dulu sering ia dan Sinta kunjungi sebelum nikah, saat segala tipuan masih dibungkus sebagai romansa. Logo restoran itu saja sudah menusuk: kenangan manis yang dipalsukan.
Sinta sedang menyetrika seragam sekolah di ruang keluarga. Uap naik. Ia mengangkat kepala, waspada seperti hewan yang sudah sekali masuk perangkap.
'Kenapa cepat?'
'Rapat batal.' Bara meletakkan kotak di meja. Air hujan menetes dari ujung jas ke kayu. 'Ini… mie yang kau suka. Pedas sedang. Telur tambahan. Aku masih ingat.'
Sinta mematikan setrika. 'Kau meracuni makanan sekarang?'
Bara mendengus pelan, hampir tertawa. Hampir. Bunyi itu berbahaya karena terdengar manusiawi. 'Kalau mau meracuni, aku tidak pakai mie seharga murah. Duduklah. Makan. Jangan curiga setiap kebaikan. Kadang hujan hanya membuat orang lapar.'
'Setiap kebaikan dari kau memang layak dicurigai.'
'Fair,' aku Bara. Ia melepas jam, duduk di lantai dekat meja rendah—bukan di kursi kepala keluarga. Gestur kecil itu aneh. Manusiawi. Berbahaya. Seperti retakan di dinding beton.
Mereka makan diam-diam dulu. Bunyi sumpit. Hujan. Bau cabai. Sinta mengunyah pelan, menunggu pisau di balik kuah.
Lalu Bara berkata, tanpa melihat Sinta, 'Dulu ayahku suka mie pedas saat hujan. Dia bilang lidah yang terbakar bikin orang ingat masih hidup. Setelah dia… pergi, aku lama tidak makan yang pedas. Rasanya seperti menghina.'
Sinta menelan. Jarang sekali Bara bicara “ayah” tanpa melempar dosa ke meja Wijaya.
'Kenapa kau ceritakan itu?'
'Tidak tahu.' Bara mengusap ujung sumpit dengan tisu. 'Mungkin karena hujan. Mungkin karena kau menolak jadi mata-mata pagi tadi… dan aku kesal, tapi juga… teringat orang yang dulu juga punya prinsip, lalu dihancurkan orang berprinsip palsu. Prinsip tanpa tenaga adalah bahan tertawaan di ruang rapat.'
Sinta meletakkan sumpit. 'Aku bukan musuh ayahmu, Bara. Aku bahkan tidak kenal dia.'
'Darahmu ya.' Suaranya pelan, tapi tidak meledak. 'Itu yang rumit. Aku bisa membenci nama Wijaya dengan mudah. Membenci wajahmu… lebih sulit dari yang aku rencanakan.'
Mereka saling tatap. Lampu hangat. Wajah Bara kehilangan sedikit kerasnya—bukan hilang total, hanya retak tipis, seperti cat yang mengelupas. Sinta melihat lelaki yang dulu di taman: yang menunggu di bangku, yang menanyakan hari mengajarnya, yang tertawa saat angin menerbangkan sedotan, yang bilang hidupnya lebih tenang sejak bertemu Sinta.
'Kalau aku bisa mengembalikan satu hari,' bisik Sinta, 'aku ingin mengembalikan hari kau masih bisa bilang sayang tanpa strategi. Atau setidaknya, hari aku belum bilang “ya”.'
Bara terdiam. Jari-jarinya di meja bergerak mendekati jari Sinta—lalu menyentuh ujung kuku Sinta, sangat singkat, seperti orang takut listrik. Hangat itu nyata. Bodoh. Menyakitkan karena indah.
'Sinta…'
Satu kata. Nama itu keluar lebih lembut dari yang seharusnya. Dada Sinta berdegup kencang, harapan kecil menyala seperti lilin di angin.
Bara menarik napas dalam. Matanya turun ke sentuhan itu. Lalu, seperti orang yang melihat jurang tepat di depan sepatu, ia menarik tangan, berdiri terlalu cepat, mengambil jas yang masih basah.
'Aku ada panggilan.'
'Baru bilang rapat batal.'
'Panggilan lain.' Suaranya kembali dingin, dipasang seperti baju antipeluru. 'Makan saja. Jangan tunggu. Dan jangan baca terlalu banyak di satu kotak mie. Itu cuma mie.'
'Saja kau takut?' tanya Sinta, berdiri. Kursinya beringsut. 'Takut kalau kau lembut, dendammu goyah? Takut aku melihat kau masih bisa jadi manusia?'
Bara berhenti di pintu menuju koridor. Punggungnya kaku. Hujan di luar menjawab lebih dulu dengan gemuruh jauh.
'Takut itu kata orang lemah,' katanya. 'Aku hanya… mengelola risiko. Kau risiko, Sinta. Dari hari pertama. Semakin kau baik, semakin berisiko. Semakin kau menolak jadi pisau, semakin kau jadi cermin. Aku tidak suka lama-lama bercermin.'
Ia keluar menuju kamar kerja. Pintu ditutup. Kunci tidak diputar—tapi jarak sudah dikunci lebih rapat dari logam.
Sinta duduk lagi. Mie masih mengepul. Air matanya jatuh ke kuah, membuat pedas terasa lebih asin. Ia tertawa kecil, pahit, lalu menutup kotak seolah menutup kesempatan yang gagal.
'Hampir,' gumamnya. 'Kau hampir jadi manusia di depanku. Lalu kau bunuh sendiri. Hebat. Konsisten.'
Di balik pintu kerja, Bara berdiri menekan dahi ke kayu. Napasnya pendek. Bau hujan masih di jas. Di layar ponsel, pesan dari sekutu bisnis: 'Target Wijaya goyah. Lanjut tekanan?' Ia mengetik 'Lanjut', mengirim, lalu menghapus draf lain yang tidak jadi terkirim—draf yang isinya hanya satu baris: 'Aku lelah.'
Ia membuang ponsel ke sofa kecil, duduk, menatap laci terkunci di meja. Kunci di saku terasa lebih berat malam itu.
'Jangan lemah,' bisiknya pada foto yang tidak terlihat. 'Ayah sudah mati sekali. Jangan buat aku mati kedua kali karena perempuan Wijaya. Jangan.'
Tapi malam itu, untuk pertama kali dalam waktu lama, kalimat itu terdengar seperti doa yang mulai retak—bukan sumpah yang utuh. Ada celah di antara kata. Celah itu berbentuk jari Sinta yang sempat disentuhnya.
Dan di ruang keluarga, Sinta membereskan kotak mie kosong, mencuci sumpit sampai mengkilap, menyetrika lagi seragam yang sudah rapi, dan menyimpan satu fakta baru di dada yang sudah penuh luka:
Bara masih bisa lembut.
Ia hanya memilih untuk tidak—karena lembut, dalam perang yang ia bangun, adalah pengkhianatan terhadap kuburan.