Pagi datang tanpa keajaiban.
Sinta bangun lebih dulu. Cahaya abu-abu masuk lewat gorden. Di dapur ia membuat kopi pekat seperti yang Bara minta, roti, telur—lalu duduk menatap piring kosong di seberangnya, menunggu keputusan yang sejak semalam menekan dadanya. Di ponsel, pesan ayah menumpuk sejak subuh: 'Ada kabar?', 'Bank telepon lagi', 'Ibu mual karena stress', 'Sin, tolong'.
Setiap 'tolong' terasa seperti tali.
Bara turun dengan kemeja putih, dasi di tangan. Ia melihat meja, melihat Sinta, lalu duduk seperti hakim yang sudah tahu vonis sebelum sidang dibuka.
'Jawabannya?' tanyanya singkat.
Sinta menarik napas. Jari-jarinya saling mengunci di pangkuan sampai buku-buku jari memutih.
'Aku tidak mau jadi mata-mata orang tuaku.'
Bara mengikat dasi pelan, mata masih pada Sinta. 'Langsung. Bagus.'
'Aku bisa minta tolong tanpa menjual mereka. Aku bisa bilang pada ayah: bertahan, cari pengacara, jangan panik, jangan tanda tangan buta. Tapi aku tidak akan menyalin angka, nama kreditor, atau “rahasia dapur” hanya karena kau bilang itu harga bantuan.' Suaranya gemetar di awal, lalu mengeras. 'Aku istri kau. Bukan agen kau. Bukan pisau kau. Kalau kau mau perang, perangilah tanpa memakai mulutku sebagai surat perintah.'
Senyap sebentar. Mesin kopi berbunyi pelan di belakang. Di luar, tukang sampah lewat—suara dunia yang terus berjalan sementara rumah mereka jadi medan tempur sunyi.
Bara menatapnya lama. Bukan marah meledak. Lebih berbahaya: tenang yang sedang menghitung ulang papan.
'Kau menolak,' katanya.
'Aku menolak mengkhianati.'
Bara tersenyum tipis. 'Kau pikir itu heroik. Di meja panik, heroik sering terdengar seperti ego. Ayahmu butuh napas. Kau tawarkan prinsip.'
'Sebut saja ego. Aku tetap tidak mau.' Sinta menatap matanya. 'Aku sudah cukup bodoh di altar. Jangan minta aku jadi bodoh lagi dengan cara yang lebih kotor.'
Bara mengangguk pelan, seperti menerima data. Ia minum kopi, berdiri, memakai jam tangan. Gesturnya rapi. Terlalu rapi untuk orang yang baru ditolak.
'Baik. Kau tidak memberi angka.' Ia menoleh di ambang dapur. 'Tapi kau sudah memberi sesuatu yang lebih berguna: kau masih ingin menyelamatkan mereka. Itu cukup bagiku untuk bekerja dengan cara lain.'
'Saja maksudmu?'
'Artinya aku tidak butuh kau jadi mata-mata yang sadar, Sinta. Orang baik selalu bocor lewat kepedulian.' Ia memakai sepatu. 'Tolong telepon ayahmu. Tenangkan dia. Tanyakan apa yang paling membuatnya takut hari ini. Bukan angka. Cerita. Orang panik suka bercerita. Dan cerita, kalau didengar orang yang tepat, sama berbahayanya dengan neraca. Kadang lebih.'
Sinta mematung. Kursi terasa panas. 'Itu tetap memanfaatkan aku.'
'Benar.' Bara membuka pintu. Angin pagi masuk sebentar. 'Bedanya sekarang kau tahu. Kemarin kau lebih polos. Hari ini kau menolak dengan mata terbuka—lalu tetap peduli. Itu kombinasi yang mahal. Selamat pagi.'
Pintu tertutup. Bunyi mesin mobil menjauh.
Sinta duduk lama di dapur yang tiba-tiba terlalu luas. Ia menolak jadi mata-mata—tapi Bara sudah memutar penolakan itu menjadi jalur lain. Kebaikannya tetap jadi celah. Bahkan penolakannya pun dibukukan sebagai bukti bahwa tali masih utuh.
Di sekolah, ia mengajar dengan wajah yang lebih kaku. Kapur patah di tangannya sekali. Saat istirahat, Bu Laila menyodorkan permen.
'Kau seperti orang yang baru kalah debat dengan setan.'
'Sedekat itu,' sahut Sinta pelan, lalu tersenyum agar tidak ditanya lebih jauh.
Akhirnya ia menelepon ayah—bukan untuk mengirim data, hanya untuk menenangkan, seperti yang diminta nuraninya… dan seperti yang Bara “izinkan”.
'Ayah, jangan tanda tangan apa pun yang datang mendadak. Cari pengacara dulu. Jangan percaya yang terlalu ramah.'
'Iya, iya. Tapi Sin, yang paling parah hari ini… partner gudang bilang mau mundur karena “isu likuiditas”. Isu itu dari mana? Kita belum sampai ke sana! Bank juga tanya dengan nada lain. Ada orang tawarkan pinjaman darurat. Bunga manis di depan.'
Sinta memejamkan mata di pojok ruang guru. Tanpa sadar ia mendengar detail: nama partner gudang yang disebut tergesa, nada bank, siapa yang tiba-tiba “ramah menawarkan napas”. Ia tidak mencatat di kertas. Tapi telinga mencatat. Otak mencatat. Dan malam nanti, jika Bara bertanya dengan cara yang tepat—“ayahmu bagaimana?”—Sinta bisa saja bocor hanya karena ingin didengar, karena ingin ada yang menanggung takut bersamanya.
'Aku di sini, Yah,' katanya. 'Tapi jangan harap keajaiban dari arah rumahku.'
Ayah tertawa kecil, tidak mengerti. 'Kau bilang begitu karena malu minta tolong suami. Tidak apa. Coba pelan-pelan.'
Sinta menutup telepon dan menatap layar kosong lama.
Malam itu Bara pulang membawa bunga. Bukan mawar besar. Setangkai putih, sederhana, kejam karena indah. Ia meletakkannya di vas seolah rumah mereka masih pantas dihiasi.
'Untuk istri yang punya prinsip,' katanya. 'Aku menghargai penolakanmu. Benar-benar.'
Sinta menatap bunga itu seperti menjebak. 'Jangan tipu aku dengan bunga.'
'Aku tidak tipu. Aku menyesuaikan strategi.' Bara duduk di sofa, longgarkan dasi. 'Cerita pada ayahmu tadi. Dia lebih tenang?'
Sinta ragu. Jeda itu saja sudah jawaban. 'Sedikit. Dia takut isu likuiditas menyebar. Ada yang tawarkan pinjaman darurat.'
Bara mengangguk, terlalu cepat. 'Siapa?'
Sinta terdiam. Sadar. Dingin naik dari kaki.
'Aku tidak bilang nama,' katanya.
'Tidak perlu. Nada suaramu sudah cukup memberitahu bahwa tawaran itu “terlalu cepat” dan “terlalu ramah”. Di bisnis, itu bau. Bau orang yang menunggu bangkai sebelum jasad dingin.' Bara tersenyum kecil. 'Lihat? Kau bukan mata-mata. Kau hanya anak yang peduli. Dan peduli adalah kebocoran paling elegan. Aku bahkan tidak perlu memaksa file. Cukup bertanya seperti suami.'
Sinta merasa kotor di telapak. 'Berhenti.'
'Berhenti apa? Mendengar istrimu?' Bara berdiri, melewatinya, menyentuh bahu Sinta sebentar—sentuhan yang dulu berarti sayang, sekarang berarti penanda wilayah. 'Tidurlah. Kau menang hari ini: kau tidak mengirim spreadsheet. Aku juga menang: perang tetap jalan. Kita berbagi kemenangan yang pahit. Cocok untuk rumah tangga seperti ini.'
Di kamar, Sinta memandang bunga putih di vas yang terbawa sampai meja nakas. Ia ingin membuangnya ke tempat sampah. Ia tidak membuang. Ia hanya berbisik pada kelopak yang bersih:
'Aku menolak jadi mata-mata. Lalu kenapa aku tetap merasa kotor?'
Karena di rumah Bara, menolak satu pintu tidak menutup rumah. Hanya memaksa musuh masuk lewat jendela yang lebih sunyi: kebaikan Sinta sendiri—dan kebaikan, malam itu, terasa seperti lukisan target di punggungnya.