Rumah Wijaya di akhir pekan itu tidak berbau kopi dan kue seperti biasa. Berbau rapat dadakan, kertas bergelombang, dan suara ayah Sinta yang naik-turun seperti orang hampir kehabisan napas. Sepatu kotor di keset. Telepon yang tidak berhenti. Ibu yang bolak-balik ke dapur hanya untuk menyibukkan tangan.
'Sinta datang,' kata ibu saat pintu terbuka, lalu memeluk anaknya terlalu lama. Pelukan itu berbau minyak kayu putih dan takut. 'Anakku. Kau kurusan. Pipimu.'
'Aku sibuk mengajar, Ma.'
'Jangan bohong pada ibu.' Ibu menatap mata Sinta dari dekat. 'Bohong pada dunia boleh. Pada ibu, jangan. Ibu sudah tua untuk dibohongi dengan senyum.'
Sinta mengalihkan pandang ke foto keluarga di dinding: dirinya masih berambut pendek, ayah tersenyum lebar, ibu memegang kue ulang tahun. Foto itu berasal dari dunia yang belum mengenal Bara Aditya.
Di ruang tengah, ayahnya sedang berbicara dengan dua orang staf. Nama-nama mitra disebut. Angka disebut. Kata “macet”, “tahan”, “cabut”, “tunda” berulang seperti mantra buruk. Seseorang bilang 'mungkin kita jual gudang kecil'. Ayah membentak, lalu meminta maaf, lalu duduk dengan kepala di tangan.
Saat staf pergi, ayah memanggil Sinta masuk. 'Duduk. Tutup pintu.'
Sinta duduk. Ibu menyusul dengan nampan teh yang tidak ada yang menyentuh. Uap naik sia-sia.
'Kontrak itu belum kembali,' kata ayah. 'Bank mulai bertanya dengan nada lain. Bukan bangkrut, tapi… sesak. Sesak ini berbahaya. Orang mencium darah.' Ia menatap Sinta tajam, lalu melembut. 'Suamimu. Bara. Dia orang pintar, koneksi luas. Orang-orang di klub bilang namanya berat meski dia jarang pamer. Ada yang bilang dia dekat dengan lingkar besar. Kau bisa minta dia… menanyakan ke sana kemari?'
Sinta merasakan lantai bergeser di bawah kaki.
'Minta dia bantu menyelamatkan kita,' sahut ibu pelan, memegang tangan Sinta. 'Kami tidak mau memperalatmu. Tapi kau istri dia. Kadang satu telepon dari menantu lebih didengar daripada seratus surat dari kami. Kami sudah tua untuk digencet begini, Sin.'
Sinta memegang cangkir sampai kuku memutih. Teh bergoyang. 'Kalau dia tidak mau?'
Ayah tersenyum pahit, masih naif dengan cara yang menyakitkan. 'Semua orang mau terlihat baik di depan istri baru. Coba dulu. Kau manis. Dia pasti masih mau menjaga muka di depanmu.'
Kalimat itu menusuk karena ayah tidak tahu malam-malam di rumah Bara. Ayah tidak tahu laci terkunci. Ayah tidak tahu Sinta dinikahi sebagai balasan dendam. Ayah tidak tahu “menjaga muka” bukan kamus Bara—yang ada adalah menyelesaikan sumpah.
Sinta hampir membuka mulut. Hampir bilang semuanya. Hampir meletakkan bom di ruang tengah rumah masa kecilnya.
Lalu ia melihat ibu: rambut yang mulai memutih di pelipis, tangan yang gemetar saat menuang teh kedua kali tanpa alasan, mata yang menahan panik demi tetap menjadi “ibu yang tenang”. Di balik tenang itu, Sinta melihat kemungkinan stroke, kemungkinan pingsan, kemungkinan ibu yang tidak kuat mendengar bahwa menantu mereka adalah algojo yang tersenyum di foto pernikahan.
Kalau Sinta bicara sekarang, ibu bisa roboh lebih cepat daripada perusahaan.
'Aku akan coba,' kata Sinta akhirnya. Suaranya serak. 'Tapi jangan harap keajaiban. Dan jangan ceritakan ke orang lain bahwa aku yang diminta. Biar aku yang atur.'
Ayah mengangguk lega seolah “coba” sudah setengah menyelamatkan. Bahunya turun satu inci. 'Bagus. Kau selalu anak yang baik. Dari kecil memang begitu.'
Anak yang baik.
Kata itu sekarang terasa seperti hukuman yang diwariskan.
Sebelum pulang, ibu menyelipkan kotak kue ke tas Sinta. 'Buat Bara. Kau bilang ibu yang buat. Laki-laki kadang meleleh karena makanan.'
Sinta tersenyum kecil, pahit. 'Aku coba, Ma.'
Di perjalanan kembali, Sinta menatap jendela mobil yang membawanya ke rumah Bara. Kota lewat: baliho, tiang, orang-orang di trotoar yang tidak tahu ada perempuan di kursi belakang sedang diminta menjadi jembatan antara dua jurang. Di pangkuannya, kotak kue terasa berat seperti suap yang tidak ia minta.
Di rumah, Bara ada di teras belakang, minum kopi hitam, membaca sesuatu di tablet. Lampu taman menyala di rambutnya. Ia tidak menoleh saat Sinta datang, seolah sudah menghitung kedatangannya.
'Keluargamu panik,' kata Sinta tanpa basa-basi. Ia meletakkan kotak kue di meja rotan. 'Ibu kirim ini.'
'Hmm.' Bara masih membaca. 'Manis. Panik memang biasanya datang dengan kue.'
'Mereka minta aku meminta bantuanmu.'
Sekarang Bara menoleh. Mata itu hidup—bukan lembut, tapi puas dengan cara yang dingin, seperti orang melihat rencana yang jatuh tepat di kotak.
'Akhirnya.'
'Saja kau tunggu ini?'
'Sebagian.' Bara meletakkan tablet. Kopi diangkat, diminum, ditaruh lagi. 'Orang Wijaya tidak belajar kecuali lantai sudah miring. Sekarang lantai mereka miring. Dan mereka mengirimmu sebagai utusan manis. Klasik. Menyentuh. Efektif.'
Sinta melangkah lebih dekat sampai bayangannya menyentuh kaki Bara. 'Aku bukan utusan. Aku anak mereka. Aku istrimu. Aku… lelah. Kau dengar tidak? Lelah.'
Bara mengamatinya. Untuk sedetik, ada sesuatu seperti rasa bersalah yang lewat di wajahnya—cepat, lalu dikunci di balik rahang yang mengeras. Sedetik itu cukup membuat Sinta hampir percaya. Hampir.
'Bilang pada mereka begini,' katanya. 'Aku bisa “membantu”. Tapi aku butuh informasi. Alur kas. Nama kreditor. Siapa yang selama ini menahan rahasia dapur perusahaan mereka. Kau kan dekat. Kau bisa tanya tanpa curiga. Senyummu masih dipercaya. Itu aset.'
Sinta mematung. Angin memainkan daun. 'Kau mau aku mengkhianati orang tuaku?'
'Aku mau kau menjadi istri yang berguna,' jawab Bara tenang, seolah membahas daftar belanja. 'Atau kau bisa menolak. Lalu menonton mereka sesak napas sendirian. Menonton ibumu gemetar lebih sering. Pilihanmu. Aku tidak memaksa dengan tangan. Aku hanya membuka pintu. Kau yang memilih masuk atau tidak.'
Sinta mendengar detak darah di telinga. Kotak kue di meja terasa seperti lelucon kejam.
'Kalau aku kasih… kau benar-benar bantu? Bilang yang jujur. Sekali saja.'
Bara tersenyum kecil. Senyum itu tidak sampai ke mata. 'Aku akan melakukan sesuatu. Apakah itu “bantuan” menurut kamusmu, nanti kau nilai sendiri. Kamus kita memang beda sejak malam pertama, kan?'
Sinta menutup mata. Di balik kelopak, ia melihat Bu Laila, Raka dan krayon patah, ibu yang gemetar, foto di laci, altar gereja, ayah yang bilang 'anak baik', dan dirinya sendiri yang bilang 'ya' dengan percaya buta. Semua bergulung jadi satu pertanyaan: sampai di mana kebaikan masih jadi kebaikan, dan mulai di mana kebaikan jadi tali yang mencekik?
Ia membuka mata. Suaranya pelan, tapi tidak pecah.
'Aku belum jawab malam ini,' katanya. 'Aku mau tidur. Besok aku bilang. Jangan paksa aku sekarang.'
Bara mengangkat bahu, kembali ke tablet seolah sudah menang tanpa perlu berteriak. 'Tidurlah. Panik tidak akan hilang karena satu malam. Dia akan menunggu kau di pagi hari, seperti tagihan. Dan tagihan, Sinta, selalu menemukan alamat.'
Sinta masuk. Di tangga, kakinya berat. Di kamar, ia berbaring tanpa memadamkan lampu segera—karena gelap membuat suara Bara di kepala lebih jelas. Ia menatap langit-langit, menghitung napas, menahan diri untuk tidak menelepon Bu Laila hanya agar ada manusia lain yang bilang 'kau tidak sendiri'.
Ia bukan hanya istri yang disakiti.
Ia sedang didorong menjadi pisau bagi keluarganya sendiri.
Dan yang paling mengerikan: sebagian kecil dirinya—yang masih mencintai sisa bayangan Bara di taman, yang masih ingat bagaimana jari Bara dulu menyingkirkan rambut dari wajahnya—hampir ingin percaya bahwa “bantuan” itu nyata.
Hampir.
Tapi hampir, malam itu, sudah cukup untuk membuatnya takut pada langkah berikutnya. Karena di rumah ini, setiap “hampir” bisa menjadi pintu yang tidak bisa ditutup lagi.