Bara tidak perlu berteriak untuk merusak.
Ia cukup menekan satu nama di daftar kontak, berbicara pendek, dan membiarkan domino bisnis jatuh tanpa Sinta melihat tangannya mendorong. Kejahatan yang rapi jarang berbau asap. Ia berbau parfum, kopi, dan kalimat legal yang terdengar netral.
Pagi itu di ruang rapat Mahesa Group, kaca lantai dua puluh memantulkan langit Jakarta yang kusam. Bara duduk di ujung meja. Di layar, angka dan nama perusahaan berkedip. Salah satunya: mitra lama keluarga Wijaya—PT yang selama ini jadi napas logistik mereka.
'Status kontrak logistik mereka?' tanya Bara tanpa emosi, seperti menanyakan cuaca.
'Sudah kita tahan, Pak,' jawab bawahannya. 'Alasan audit internal. Legal kami buat rapi. Klausul dipelintir halus. Mereka akan panik dalam empat puluh delapan jam. Partner lain biasanya ikut menunggu arah angin.'
Bara mengangguk. 'Jangan sampai kelihatan emosional. Buat seperti prosedur. Dendam yang berisik itu murahan. Yang mahal adalah yang tidak bisa digugat di pengadilan opini.'
Seseorang tertawa kecil, gugup. Bara tidak ikut tertawa.
Setelah rapat, ia sendiri di ruang CEO. Tirai setengah terbuka. Di laci mejanya—bukan laci rumah—ada map lama berisi guntingan koran, salinan akta, dan satu foto ayahnya tersenyum di pabrik kecil yang sudah tidak ada. Di foto itu ayahnya memakai kemeja kusut, tangan berdebu, mata masih percaya pada kerja jujur. Bara menyentuh tepi foto itu sebentar.
'Dahulu mereka bilang ini bisnis,' gumamanya. 'Sekarang aku balas dengan bahasa yang sama. Supaya mereka mengerti tanpa kamus.'
Telepon berdering. Nama mertua—ayah Sinta—muncul. Bara menatap layar lama, ibu jari di atas tombol hijau, lalu mematikan getar. Belum saatnya. Biar panik dulu. Biar mencari. Biar Sinta mendengar ketakutan itu dari mulut keluarganya sendiri. Takut yang datang lewat darah lebih dalam daripada takut yang datang lewat ancaman langsung.
Ia membuka file lain: catatan kecil tentang kebiasaan Sinta bicara soal keluarga. Bukan karena Sinta mengkhianati dengan sengaja. Karena Sinta baik. Karena Sinta percaya. Karena di bulan-bulan awal, saat Bara masih memakai wajah lembut, Sinta pernah bercerita siapa yang diandalkan ayahnya, siapa yang “seperti paman”, kontrak mana yang membuat ibu tidur nyenyak. Waktu itu Sinta mengira sedang berbagi hidup. Bara mengangguk seperti suami yang peduli.
Sekarang catatan itu jadi peta perang.
Sore hari, Sinta pulang sekolah dan langsung disambut telepon ayahnya yang memecah. Ia belum sempat melepas sepatu.
'Sinta! Kontrak dengan PT Harapan hilang begitu saja. Mereka bilang audit. Audit apaan? Kita kerja sama bertahun-tahun! Orang yang biasanya angkat telepon sekarang dikasih asisten!'
Sinta berdiri di ruang tamu, tas guru masih di bahu. 'Ayah tenang. Mungkin salah paham. Mungkin procedural.'
'Salah paham tidak membuat orang menghilang dari rapat. Partner kita cabut diam-diam. Ada yang dorong dari belakang. Aku merasa…' Ayahnya berhenti, napas berat, lalu melanjutkan lebih pelan, 'Aku merasa seperti dulu. Dulu waktu… ah, jangan. Kau belum lahir. Pokoknya buruk. Orang-orang senyum di depan, menusuk di belakang.'
Kata “dulu” membuat leher Sinta dingin. Ia tidak tahu detail “dulu” itu. Bara pernah melempar potongan sejarah dengan cara kejam di malam pertama. Sinta masih belum punya peta lengkap—hanya kepingan: ayah Bara hancur, keluarga Wijaya disebut, sumpah dua puluh tahun, dan dirinya sebagai arena.
'Mau aku… tanya seseorang?' suaranya ragu.
'Tanya suamimu. Dia kelihatan pintar soal bisnis. Mungkin dia punya koneksi.' Ayahnya tertawa getir. 'Atau setidaknya bilang padanya ayahmu sedang digencet. Kadang nama menantu membantu. Kau bilang dia kerja di perusahaan besar, kan? Meski dulu dia rendah hati.'
Sinta menelan. “Rendah hati” itu topeng. Membantu dengan nama Bara terasa seperti menyerahkan pisau pada orang yang sudah mengarahkan bilah ke leher keluarganya.
Malam itu Bara pulang. Bau mahal. Wajah tenang. Terlalu tenang untuk orang yang siang tadi menahan napas industri orang lain. Ia melepas jam tangan, menyusunnya rapi di meja—kebiasaan orang yang suka kontrol.
Sinta menyajikan makan malam: sayur bening, ayam, nasi. Suara sendok di piring terdengar terlalu nyaring. Jam dinding berdetak seperti menghitung mundur.
'Ada masalah di perusahaan ayah,' katanya akhirnya. 'Kontrak penting ditahan. Dia panik. Ibu juga tidak tidur.'
Bara mengunyah pelan. 'Oh.'
'Saja itu? Oh?'
'Bisnis memang kejam, Sinta. Kau guru. Kau terbiasa dunia yang adil: anak nakal kena tegur, anak rajin dapat bintang. Di luar sana bintang dijual. Dan kadang dibeli orang yang lebih dulu belajar menipu.'
Sinta menatapnya. Garpu berhenti di udara. 'Kau tahu sesuatu?'
Bara mengangkat alis, pura-pura polos dengan cara yang menghina. 'Kenapa aku harus tahu urusan mertuaku? Aku bukan sekretaris mereka.'
Karena kau yang merusaknya, pikir Sinta. Tapi ia belum punya bukti. Hanya pola. Hanya naluri perempuan yang sudah dibohongi terlalu dalam. Hanya cara Bara terlalu tenang saat orang lain panik.
'Ayah minta aku tanya kau. Apakah kau bisa bantu. Satu telepon. Satu nama. Apa saja.'
Bara menyeka mulut dengan serbet, lalu tersenyum tipis—senyum yang dulu membuat Sinta jatuh cinta di taman, sekarang membuatnya ingin mundur ke pintu dan berlari.
'Bisa. Tentu. Aku kan menantu yang baik.' Ia meneguk air. 'Tapi bantuan punya harga. Nanti. Untuk sekarang, bilang pada ayahmu: bersabar. Orang yang panik tinggal menunggu ditelan. Panik membuat tanda tangan bodoh. Aku tidak suka orang bodoh—kecuali sedang berguna.'
'Saya tidak mau jadi perantara yang tidak mengerti apa yang kau lakukan.'
Bara menatap lama. Di matanya ada kilatan sesuatu—bukan kasih, lebih seperti pengakuan bahwa Sinta mulai cerdas, dan itu merepotkan.
'Kau sudah jadi perantara sejak kau bilang “ya” di altar, Sinta. Bedanya dulu kau tidak sadar. Sekarang kau mulai sadar. Itu saja. Kesadaran tidak membatalkan peran. Hanya membuatnya lebih pahit.'
Ia berdiri, meninggalkan makanan setengah. Kursi beringsut. Di ambang dapur ia menambah satu kalimat tanpa menoleh, seolah melempar pisau ke belakang.
'Dan jangan coba selidiki dari mana angin datang. Angin tidak suka digugat. Orang yang menggugat angin biasanya kehilangan atap dulu sebelum mengerti cuaca.'
Sinta duduk sendiri di meja makan. Lampu gantung terlalu terang untuk kesedihan. Di ponselnya, pesan dari ayah menumpuk: 'Sudah ditanya?', 'Ada kabar?', 'Ibu menangis tadi'. Di dadanya, kepastian tumbuh pelan dan mengerikan.
Ini bukan sial.
Ini tangan.
Dan tangan itu tidur serumah dengannya, mencuci muka di wastafel yang sama, memakai handuk yang sama, bilang 'tidurlah' dengan suara yang pernah ia kira sayang.
Sinta membereskan piring dengan gerakan otomatis. Air panas membuat kulit kemerahan. Ia tidak menangis. Ia hanya bergumam pada kaca jendela yang memantulkan wajahnya yang lelah:
'Kalau ini perang, Bara, jangan pakai aku sebagai peta tanpa bilang.'
Tapi ia tahu: Bara sudah memakai. Dan perang, sekali dimulai, jarang menunggu izin istri.