Pagi di SD tempat Sinta mengajar biasanya berbau kapur, penghapus, dan bekal anak yang dibuka terlalu cepat. Hari itu berbau lain: kecemasan yang Sinta bawa dari rumah dan gagal ia tinggal di gerbang sekolah. Bahkan sapaan satpam terasa jauh.
'Bu Sinta, hari ini cerita dongengnya yang mana?' tanya Raka, murid kelas tiga yang giginya tanggal dua.
Sinta tersenyum. Senyum guru. Senyum yang sudah jadi otot.
'Yang biasa. Si Kancil.'
Tapi saat berdiri di depan papan, kapur di tangannya berhenti di tengah kalimat. Ia menulis “KA—” lalu lupa hendak ke mana. Kepala kosong. Detik itu terasa panjang. Anak-anak menunggu. Seseorang berbisik. Teman sejawatnya, Bu Laila, mengintip dari jendela kelas sebelah dengan alis naik.
Sinta menarik napas. Melanjutkan. Menulis “KANCIL”. Suaranya agak serak saat mulai bercerita. Di tengah cerita, ia salah menyebut sungai sebagai laut. Anak-anak tertawa. Sinta ikut tertawa—tertawa yang sedikit terlambat.
Di jam istirahat, Bu Laila menyodorkan teh kotak dan biskuit.
'Kau pucat. Rumah tangga?'
Sinta membuka teh. 'Pengantin baru memang masih belajar.'
'Belajar atau bertahan?' Bu Laila duduk di kursi seberang, menatapnya terlalu jujur. 'Aku bukan mau ikut campur. Tapi kau dulu bilang suamimu lembut. Yang bawa bekal ke sekolah di minggu pertama. Yang bilang 'jangan lupa makan'. Sekarang matamu seperti orang yang kurang tidur karena pikiran, bukan karena malam manis. Ada bedanya, Sin. Aku bisa lihat.'
Sinta hampir menjawab. Hampir bilang: suamiku menikahiku untuk menghancurkan keluargaku. Hampir bilang: ada foto wanita yang mirip denganku di laci terkunci. Hampir bilang: tadi malam dia mengunci laci di depan mataku seperti mengunci leher. Hampir bilang: aku takut pulang.
Yang keluar hanya:
'Aku baik-baik saja.'
Bu Laila tidak percaya. Tapi ia mengangguk, menyimpan kekhawatiran di balik sedotan teh. 'Kalau suatu hari kau tidak baik-baik saja, telepon aku. Jangan jadi pahlawan sendirian. Guru juga manusia. Manusia boleh minta tolong sebelum pingsan di depan papan tulis.'
Siang itu, saat pelajaran seni, seorang anak menangis karena krayonnya patah. Sinta berlutut, memeluknya sebentar, menenangkan dengan suara yang lembut. 'Nanti kita tempel. Yang patah masih bisa dipakai. Warnanya belum hilang.' Di detik itu, Sinta hampir goyah—bukan karena anak itu, tapi karena ia ingat dirinya sendiri: orang dewasa yang krayon hidupnya patah, dan tidak ada yang berlutut di sampingnya di rumah. Di rumah, yang ada hanya perintah tidur dan kunci yang berbunyi klik.
Telepon bergetar di laci meja guru. Nama di layar: Mama.
Sinta tidak mengangkat di depan anak-anak. Ia menunggu bel berbunyi, mengantar barisan ke luar, lalu ke ruang guru yang sepi. Kipas berputar. Bau kopi sisa.
'Minta,' jawabnya.
'Sinta, ayahmu sedang susah tidur. Ada kontrak yang tiba-tiba ditahan. Dia bilang aneh. Partner yang biasanya ramah jadi sulit dihubungi. Kau di rumah baik?'
Sinta menatap jendela. Halaman sekolah basah sisa hujan semalam. Ayunan kosong bergerak pelan ditiup angin.
'Baik, Ma.'
'Suamimu… dia baik padamu, kan? Ibu cuma tanya. Pengantin baru kadang canggung. Tapi baik itu wajib.'
Jedah. Sinta menghitung detak di leher.
'Dia… sibuk,' katanya hati-hati. 'Banyak rapat.'
Ibunya menghela napas panjang di seberang. 'Kalau sibuk itu masih sayang, tidak apa. Yang penting jangan sampai kau diperlakukan buruk. Kau anak tunggal kami, Sin. Kalau kau sedih, rumah ini ikut miring.'
Sinta memejamkan mata. Kalimat “anak tunggal” terasa seperti tali yang semakin ketat: di satu sisi keluarga Wijaya yang mulai goyah, di sisi lain Bara yang ingin tali itu putus dengan cara paling menyakitkan. Dan Sinta ada di tengah, seperti simpul yang tidak diminta.
Setelah telepon, Sinta kembali ke kelas untuk jam terakhir. Ia menyelesaikan hari dengan profesional. Membaca nyaring. Menilai gambar. Mengelap papan sampai hitam lagi—seperti berusaha menghapus jejak goyannya sendiri sampai tidak ada kapur tersisa.
Di parkiran, Bu Laila menyenggol bahunya pelan sambil memegang helm.
'Kau hampir menangis waktu Raka bilang “Bu Guru bau sedih”. Anak kecil kadang lebih jujur dari orang dewasa. Aku curiga ada yang salah di rumah. Aku tidak akan memaksa hari ini. Tapi jangan mati pelan-pelan hanya karena malu bilang sakit. Malu tidak membayar tagihan hati.'
Sinta tersenyum pahit. 'Aku akan perbaiki parfumku.'
'Bukan parfum,' kata Bu Laila. 'Aku serius.'
Dalam perjalanan pulang, Sinta menatap cincin di jarinya di atas setir. Masih ada. Masih mengikat. Lampu merah membuatnya berhenti lebih lama dari yang ia mau, memaksa duduk dengan pikirannya.
Ia memutuskan: hari ini ia tidak akan bertanya soal foto. Ia tidak akan mencari laci. Ia akan pulang, memasak, tersenyum—bukan karena menyerah, tapi karena di sekolah ia hampir hancur, dan ia belum siap hancur di dua tempat sekaligus. Murid-murid masih membutuhkannya utuh. Atau setidaknya, terlihat utuh.
Rumah menyambutnya dengan sepi. Lampu ruang tamu sudah dinyalakan timer. Bara belum pulang. Sepatu Sinta berbunyi di marmer, terlalu sendirian.
Di meja dapur ada amplop tanpa nama. Di dalamnya bukan surat cinta. Hanya catatan pendek tulisan Bara, rapi dan kejam:
'Tidur lebih awal. Jangan menunggu. Besok aku ada urusan panjang. Jangan telepon kecuali darurat. Darurat menurutku, bukan menurutmu.'
Tidak ada “sayang”. Tidak ada “maaf”. Tidak ada pertanyaan apakah Sinta sudah makan.
Sinta duduk di kursi, memegang catatan itu sampai sudut kertas melekuk. Ia tertawa kecil—tertawa yang sakit—lalu berhenti.
Untuk pertama kalinya di dapur mereka yang mahal, dengan kompor yang mengilap dan set piring yang lengkap, ia merasa seperti tamu yang diizinkan tinggal selama masih berguna. Dan kegunaan, dalam rumah ini, tampaknya sedang dihitung ulang setiap malam oleh suami yang tidak lagi melepas topeng di depan pintu.
Sinta menempelkan catatan itu di pintu kulkas dengan magnet berbentuk hati—ironis, tajam—lalu bisik pada kosong:
'Besok aku masih mengajar. Itu dulu yang aku pegang.'