Hujan turun tipis saat Sinta memberanikan diri.
Bukan karena berani benar. Lebih karena diam sudah membuatnya sesak. Di sekolah siang itu, saat anak-anak menyanyi di aula, Sinta hampir salah menyebut nama murid. 'Raka' keluar sebagai 'Rasa'. Anak-anak tertawa kecil. Teman guru menoleh. Sinta tersenyum seolah tidak apa-apa, padahal jarinya dingin di balik lengan blus.
Di rumah, “tidak apa-apa” sudah basah kuyup. Atap berdetak pelan. Lampu taman menyala kuning pucat. Bau tanah basah masuk lewat jendela yang tidak tertutup sempurna.
Malam itu Bara ada di kamar kerja. Pintu setengah terbuka. Cahaya meja menyinari sisi wajahnya yang keras, membuat bayangan di dinding seperti orang lain—lebih tua, lebih kejam, lebih asing dari pria yang dulu membelikannya teh manis di taman.
Sinta berdiri di ambang dengan dua cangkir teh. Uap naik. Tangannya gemetar tipis sampai cangkir beradu pelan.
'Bara,' panggilnya. 'Boleh aku masuk?'
Bara tidak mengangkat kepala. 'Kalau soal rumah tangga sepele, besok saja. Aku sedang bekerja.'
'Sbukan sepele.'
Kata itu membuatnya menoleh. Mata tajam, seperti sedang menilai apakah Sinta akan jadi masalah atau hanya gangguan kecil yang bisa diusir dengan satu kalimat.
Sinta melangkah masuk. Meletakkan teh di atas tatakan. Ia berdiri tegak, meski lututnya ingin menekuk.
'Aku mau tanya lagi soal foto itu.'
Udara berubah. Hujan di luar terdengar lebih jelas, seolah rumah menahan napas.
Bara menutup laptop pelan—terlalu pelan untuk orang yang tenang. Bunyi tutup itu rapi, seperti eksekusi yang direncanakan. Ia berdiri, membuka laci meja, dan dari dalam laci itu Sinta melihat sekilas sudut foto yang sama: sudut bahu wanita, ujung senyum, jari Bara muda di pinggang orang itu. Lalu Bara mengambil kunci kecil dari saku dalam jasnya, memasukkan, memutar.
Klik.
Bunyi itu kecil. Tapi di telinga Sinta, bunyi itu seperti pintu penjara. Seperti gereja yang dikunci dari dalam.
'Jangan sentuh laci ini lagi,' kata Bara. Suaranya datar. 'Jangan buka. Jangan tanya. Jangan pura-pura membersihkan supaya kau bisa menggeledah hidupku. Aku bukan murid yang bisa kau periksa tasnya.'
'Saya istrimu.'
'Kau alat,' potong Bara cepat, lalu mengoreksi dengan senyum dingin yang lebih kejam. 'Maaf. Maksudku: kau istri yang harus tahu batas. Di dunia nyata, istri tidak otomatis mendapat kunci semua luka suami.'
Sinta menelan ludah. Rasa teh di mulutnya tiba-tiba pahit meski belum diminum. 'Wanita itu siapa? Kenapa mirip denganku? Kenapa kau marah begitu rupa kalau aku hanya bertanya? Aku bukan mencuri. Aku membersihkan. Aku… mencoba jadi baik.'
'Baik itu senjatamu,' kata Bara. 'Jangan heran kalau suatu hari senjata itu berbalik.'
Ia melangkah mendekat. Bukan untuk memeluk. Untuk menegaskan tinggi dan bayangan. Parfumnya mahal, tajam, menutupi bau hujan.
'Karena pertanyaanmu tidak lucu. Karena masa lalu bukan bahan curhat sebelum tidur. Karena kau tidak berhak mengorek sesuatu yang kau dan keluargamu bantu hancurkan.'
'Saya tidak tahu apa-apa soal itu!' Suara Sinta naik, lalu ia turunkan lagi, takut terdengar seperti orang histeris. 'Aku guru SD, Bara. Aku tidak duduk di rapat gelap ayahku. Aku tidak meneken kontrak siapa pun. Aku bahkan tidak tahu kau… kau begini.'
'Semakin bagus.' Bara menunduk sedikit, hampir berbisik di dekat telinga Sinta, tapi tanpa kehangatan. Napasnya mengenai kulit. 'Tetaplah tidak tahu. Lebih mudah bagiku. Orang yang tahu terlalu banyak biasanya minta belas kasihan. Aku sedang tidak menjual itu.'
Sinta memundurkan satu langkah sampai punggungnya mengenai rak buku. 'Kau mengancamku?'
Bara tersenyum tipis. 'Aku mengingatkanmu. Ada perbedaan. Ancaman itu kasar. Ingatan ini… efisien.'
Ia mengambil kunci, memasukkannya kembali ke saku, lalu menepuk laci yang terkunci seolah sedang menepuk hewan yang sudah dijinakkan.
'Kalau kau buka lagi tanpa izinku, Sinta, aku akan membuat hidupmu di rumah ini lebih sempit dari yang sudah kau rasakan. Bukan dengan pukulan. Aku tidak suka jejak kasar. Dengan hal-hal yang lebih sunyi. Telepon yang tidak diangkat. Uang yang tiba-tiba “terhambat”. Kunjungan keluargamu yang aku tolak satu per satu. Undangan makan malam yang aku batalkan di menit terakhir. Kau suka diam? Aku bisa mengajarkan diam yang lebih dalam. Diam yang membuatmu meragukan apakah kau masih punya tempat di rumah ini.'
Sinta merasa lututnya lembut. Jari-jarinya mencari tepi rak untuk bertahan. Tapi ia tetap berdiri. Matanya basah, tapi ia tidak memalingkan wajah.
'Aku hanya ingin mengerti. Kalau aku mengerti, mungkin aku bisa…'
'Mengerti tidak akan menyelamatkanmu.' Bara kembali duduk, membuka laptop, seolah percakapan selesai. Cahaya layar menyala di matanya. 'Tidurlah. Besok kau mengajar. Jangan bawa wajah hancur ke murid-muridmu. Kau kan suka berperan jadi orang baik. Pertahankan peran itu di luar. Di sini, simpan rasa ingin tahumu. Rasa ingin tahu membuat orang mati lebih cepat.'
Kalimat terakhir itu menusuk karena terdengar seperti pujian yang dibalik jadi pisau—dan karena ada kebenaran pahit di dalamnya: Sinta memang masih mencoba baik, bahkan untuk orang yang sedang menggerogoti hidupnya.
Sinta keluar. Di koridor ia menahan napas sampai dada sakit. Hujan makin deras. Ia berjalan ke kamar seperti orang yang baru keluar dari ruang sidang. Di dalam, ia duduk di lantai dekat lemari, memeluk lutut, menekan dahi ke kain gaun pengantin yang masih tergantung di pojok—gaun yang dulu putih bersih, sekarang terasa seperti kostum.
Laci itu sekarang terkunci.
Tapi di kepala Sinta, foto itu masih terbuka lebar. Wanita itu tersenyum. Bara tersenyum. Dan Sinta, di lantai kayu dingin, memahami satu hal baru:
Kunci itu bukan hanya untuk menjaga foto.
Kunci itu untuk mengingatkannya bahwa di rumah ini, kebenaran adalah milik Bara—dan Sinta hanya diperbolehkan hidup di bagian yang sudah disensor.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam pengakuan dendam, Sinta tidak hanya takut pada Bara.
Ia mulai takut pada dirinya sendiri—karena sebagian kecil di dadanya masih mencari sisa pria yang dulu duduk di taman, yang bilang hidupnya lebih tenang sejak bertemu Sinta, yang memegang tangannya seolah dunia bisa ditunda.
Pria itu mungkin tidak pernah ada.
Atau lebih parah: pria itu ada, lalu dibunuh oleh Bara sendiri demi sumpah yang lebih tua dari cinta, lebih tua dari cincin, lebih tua dari 'ya' yang Sinta ucapkan dengan mata basah bahagia.
Di luar, petir jauh bergemuruh. Sinta memejamkan mata dan berbisik pada gelap:
'Aku akan tahu. Entah kau kunci atau tidak.'