Sinta tidak lagi menanyakan foto itu.
Bukan karena ia sudah lupa. Justru sebaliknya. Foto itu menempel di kepalanya seperti noda yang tidak mau hilang: Bara muda, tersenyum tipis, dan seorang wanita yang wajahnya terlalu mirip dengannya. Mirip sampai Sinta sempat memegang cermin di kamar mandi, membandingkan garis rahang, jarak mata, dan lengkung bibir yang sama-sama lembut. Ia mengusap kaca sampai kabut napasnya hilang, seolah ingin memastikan wajah di cermin itu miliknya—bukan milik orang lain yang hidup di dalam laci suami.
Ia diam.
Diam itu, di rumah mereka yang luas dan dingin, terdengar lebih keras daripada teriakan. Lampu kristal di ruang tamu tetap menyala elegan. Karpet tetap lembut di bawah kaki. Tapi udara rumah seperti disedot pelan-pelan setiap kali Bara lewat tanpa menyentuhnya.
Bara menyadari diam Sinta sejak pagi ketiga. Ia datang ke meja makan, menemukan roti panggang yang sudah dingin, telur yang ditata rapi, teh yang masih hangat, dan istri yang tersenyum terlalu sopan.
'Selamat pagi,' kata Sinta tanpa menatap matanya terlalu lama.
Bara duduk. Kursi berderit pelan. Ia tidak membalas dengan kehangatan. Ia membalas dengan jarak, seolah jarak adalah bahasa baru yang harus dikuasai Sinta.
'Kopinya kurang pekat,' katanya datar.
Sinta mengangguk. 'Lain kali aku buat lebih pekat.'
'Tambah gula juga jangan. Aku bukan anak kecil.'
'Baik.'
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada canda. Tidak ada tangan yang menyentuh punggung tangan yang lain seperti dulu di taman, sebelum semua topeng terbuka. Dulu Bara suka mencuri selai dari ujung pisau Sinta. Dulu Sinta tertawa sampai bahu bergetar. Sekarang pisau itu hanya memotong roti—dan diam.
Bara menyukai diam itu—setidaknya begitulah yang ia bilang pada dirinya sendiri saat menatap layar ponsel. Diam berarti Sinta belajar. Diam berarti luka bekerja. Diam berarti rencana balas dendamnya tidak perlu diteriakkan setiap malam. Ayahnya sudah cukup berteriak dulu, sebelum semuanya berhenti di satu tali dan satu kamar yang pengap dalam kenangan.
Tapi di sisi lain meja, Sinta sedang menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya daripada amarah: pengamatan.
Ia menghitung jam Bara pulang. Ia menghitung nada suara Bara saat telepon berdering dari ruang kerja. Ia menghitung berapa lama Bara menatapnya sebelum memalingkan muka, seolah wajah Sinta adalah kesalahan yang tidak boleh dipegang terlalu lama. Kadang tatapan itu bertahan dua detik lebih lama dari yang seharusnya. Dua detik itu membuat dada Sinta berharap—lalu jatuh lebih dalam saat Bara pergi tanpa kata.
Siang hari, saat Bara tidak di rumah, Sinta berjalan pelan di koridor. Ia melewati kamar kerja, berhenti, menatap gagang pintu. Jari-jarinya hampir menyentuh. Lalu ia menarik tangan, seperti orang yang sudah sekali terbakar.
'Masih di situ,' gumamnya pada foto yang tidak ia lihat. 'Dan aku masih di sini. Seperti bodoh.'
Malam itu, Bara pulang lebih lambat. Jasnya berbau asap rokok orang lain dan parfum ruang rapat. Dasi longgar. Mata tajam. Sepatu digesek di keset terlalu keras.
Sinta menyambut di pintu dengan senyum yang sudah dilatih di depan cermin sekolah.
'Sudah makan?' tanyanya.
'Belum perlu,' jawab Bara. Ia melewatkan Sinta seperti melewatkan furnitur. 'Jangan tunggu aku.'
'Dulu kau bilang suka ditunggu.'
Bara berhenti sebentar. Hanya sebentar. Bahunya naik turun sekali. Lalu ia tertawa kecil, tanpa humor.
'Dulu aku bilang banyak hal, Sinta. Jangan simpan semuanya seperti janji suci. Janji suci itu untuk orang yang pantas diselamatkan.'
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang sudah luka. Sinta menggigit bibir dalam. Rasa asin darah kecil terasa di lidah. Ia tidak menangis di depan Bara. Ia menunggu sampai pintu kamar kerja tertutup, sampai lampu koridor redup, sampai rumah kembali menjadi museum kesunyian.
Di kamar mereka—yang sekarang lebih sering menjadi kamar Sinta saja—ia duduk di tepi ranjang. Selimut masih beraroma pelembut yang dulu Bara puji. Foto itu kembali muncul di ingatannya. Wanita itu tersenyum. Bara di foto itu juga tersenyum. Bara di rumah ini tidak. Bara di rumah ini mengenakan kemeja mahal seperti baju perang.
Sinta berbisik pada dirinya sendiri, pelan sekali, seolah takut dinding mendengar.
'Kalau aku diam, mungkin dia berhenti menyakitiku.'
Ia salah.
Karena keesokan harinya, Bara datang lebih dingin. Bukan marah. Lebih parah: acuh yang disengaja. Di telepon, dengan suara cukup keras agar Sinta di dapur mendengar, ia bilang, 'Makanan di restoran tadi jauh lebih enak. Di rumah agak hambar akhir-akhir ini.' Ia menolak sarapan. Ia meninggalkan cincin kawin di meja kerja, tepat di bawah lampu, seolah dipamerkan.
'Kenapa dilepas?' tanya Sinta dari ambang, berusaha tetap tenang.
'Mengganggu saat ketik,' jawab Bara tanpa menoleh. 'Emas tidak membuat jari lebih jujur.'
Sinta melihat cincin itu. Emas tipis. Masih berkilau. Masih sama dengan yang dipasang di gereja saat semua orang menangis bahagia, saat ibu Sinta memegang lengannya, saat Bara bilang 'aku akan jaga kamu' dengan suara yang waktu itu terdengar seperti doa.
Ia masuk, meletakkan kopi pekat di meja, lalu keluar tanpa kata. Di lorong ia menahan napas sampai tulang rusuk sakit.
Bara menatap punggung istrinya. Ada detik di mana jarinya hampir menyentuh gagang cincin untuk memakainya kembali. Ada detik di mana dadanya terasa sempit karena diam Sinta bukan menyerah—diam itu seperti dinding kaca: tembus pandang, tapi tidak bisa disentuh. Di balik kaca itu, Sinta masih memasak, masih melipat kemeja, masih hidup. Dan hidupnya yang terus berjalan membuat dendam Bara terasa… kotor.
Ia menarik napas, mengunci perasaan itu, dan membuka laptop. Layar menyala. Nama-nama muncul. Rencana berjalan.
Balas dendam tidak boleh punya celah. Celah itu bernama belas kasihan. Celah itu bisa bernama Sinta.
Di dapur, Sinta mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih. Air mengalir. Sabun berbusa. Matanya basah, tapi air mata tidak jatuh—ia menahannya seperti menahan napas di bawah air. Ia mengingat suara Bara di malam pengakuan: bahwa pernikahan ini adalah balasan. Bahwa cinta yang Sinta bawa ke altar adalah bahan bakar untuk membakar keluarganya pelan-pelan.
Ia memutuskan satu hal malam itu, tanpa bilang ke siapa pun:
Ia akan diam soal foto.
Tapi ia tidak akan berhenti mencari arti di balik diam Bara. Karena diam yang beracun, kalau dibiarkan terlalu lama, akan membunuh dari dalam—dan Sinta belum siap mati diam-diam hanya karena pernah bilang 'ya'.