"Aku datang dengan sukarela," kata Bara, suaranya bergema di pendapa yang lapuk. "Aku tahu apa yang kuserahkan. Aku menawarkan diriku sebagai tumbal—dengan satu syarat. Setelah ini, perjanjian dengan keluargaku berakhir. Selamanya."
Mbah Demang memiringkan kepalanya, terlalu jauh lagi, sampai hampir menyentuh bahunya. "Kerelaan," desisnya, dan ada kerakusan dalam suaranya, lapar yang ditahan ratusan tahun. "Sudah lama sekali tak ada yang datang kepadaku dengan kerelaan. Kakekmu menyeret istri dan anak-anaknya sambil menjerit. Hambar. Kau—" matanya menyala, "—kau menawarkan dirimu dengan mata terbuka. Itu hidangan langka, Nak. Itu yang membuat seratus tumbal ketakutan tak ada artinya dibanding satu yang rela." Ia bangkit, dan bayangannya memanjang di sepanjang lantai. "Aku terima. Bakar perjanjian. Berikan dirimu. Dan ya—keluargamu kubebaskan. Aku tak butuh mereka lagi, jika aku memilikimu."
Sementara Mbah Demang bicara, Ratri bergerak diam-diam di pinggir pendapa, menaburkan bubuk Mbah Joyo dalam sebuah garis, menyusun tujuh daun kering pada titik-titik yang sudah mereka hafalkan, membentuk lingkaran penanda di sekeliling saka guru timur. Bara berlutut di pusat lingkaran itu, di samping tiang, dan mulai menggali tanah lembap di bawahnya dengan tangan dan keris menghitam itu.
Tanahnya dingin. Jari-jari Bara membeku. Tapi tak sampai sejengkal ia menggali, ujung keris membentur sesuatu yang keras. Ia mengeruk lebih cepat, dan menariknya keluar: sebuah tabung bambu tua, disumbat lilin, dan di dalamnya, segulung kulit yang menguning. Lembar perjanjian asli. Di permukaannya, tulisan dalam aksara yang tak ia kenal, dan di bawahnya, cap darah kering berbentuk telapak tangan—telapak tangan kakeknya.
"Itu dia," desis Mbah Demang, dan untuk pertama kalinya ada nada lain dalam suaranya. Bukan lapar. Sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan. "Berikan padaku."
"Tidak," kata Bara, bangkit, menggenggam lembar itu di satu tangan dan keris di tangan lain. "Aku menyerahkan diriku. Tapi rantainya kuputus dengan caraku."
Ia menuangkan minyak ke bilah keris, dan menyalakannya dengan korek. Api menjilat naik, biru lalu kuning, dan dalam cahayanya wajah Mbah Demang berubah—topeng nenek dan gadis itu luruh, menampakkan sesuatu yang berkerut dan kuno dan marah, sesuatu yang menjerit dengan ribuan suara sekaligus.
"JANGAN—"
Bara menyentuhkan api keris ke ujung lembar perjanjian.
Kulit tua itu menyala seketika, jauh lebih cepat dari yang seharusnya, terbakar dengan api yang berubah hijau lalu merah lalu hitam. Dan saat api memakannya, seluruh joglo berguncang. Angin menderu dari mana-mana sekaligus, lampu minyak padam, dan Mbah Demang menjerit—jeritan yang membuat telinga Bara berdarah—sambil tubuhnya membentang dan retak seperti tanah kering yang pecah.
"KAU MILIKKU SEKARANG!" raungnya, dan tangan-tangan keluar dari tanah di sekeliling Bara, pucat dan dingin dan banyak sekali, mencengkeram pergelangan kakinya, lengannya, lehernya, menariknya turun ke dalam tanah lembap. "KAU MENYERAHKAN DIRIMU! AKU MENERIMANYA! KERELAANMU MENGIKATMU!"
Bara merasakan dirinya tertarik ke bawah, tanah dingin menelan lututnya, pinggangnya. Lembar perjanjian sudah hampir habis terbakar, tinggal serpih bara di tangannya. Untuk satu detik mengerikan, ia merasa godaan untuk menyerah—untuk membiarkan dirinya turun, sebab bukankah ini yang ia janjikan? Bukankah ia memang harus membayar?
"BARA!"
Suara Ratri. Dari luar lingkaran. Tangannya terulur melewati garis bubuk, melewati daun-daun, menggapai tangannya.
"AKU MEMEGANGMU! PERCAYA AKU! SEKARANG, MAS—SEKARANG!"
Lembar perjanjian habis. Berubah jadi abu. Dan di detik itu—detik sempit yang dikatakan Mbah Joyo—cengkeraman tangan-tangan pucat itu melemah sesaat, kuasa dhanyang goyah saat ikatan yang menjadi tubuhnya putus terbakar.
Bara meraih tangan adiknya.
Ratri menarik dengan seluruh kekuatannya, tubuhnya menumpu ke belakang, kakinya menancap di tanah di luar garis. Bara terangkat dari tanah yang menelannya, tangan-tangan pucat itu mengejar tapi terhenti di tepi garis bubuk, tak mampu melewatinya. Dengan satu sentakan terakhir, Ratri menyeret kakaknya keluar dari lingkaran, melewati garis penanda, dan keduanya terjatuh ke tanah di luar—
—tepat ketika di kejauhan, dari arah desa, lonceng tua di masjid berdentang dua belas kali. Tengah malam. Dan lewat.