Hutan Gandasuli menelan mereka begitu pohon-pohon menutup di belakang.
Kabut putih menggantung di antara batang-batang tua, setinggi lutut, lalu setinggi pinggang, dingin dan basah meski tak ada hujan. Suara serangga malam yang biasanya memenuhi hutan justru tak ada sama sekali; hanya keheningan pekat, dipotong sesekali oleh derak ranting yang patah entah karena apa. Senter mereka hanya mampu menembus beberapa langkah ke depan.
"Jangan menoleh ke belakang," bisik Ratri, mengulang nasihat warga. "Apa pun yang kamu dengar, jangan menoleh."
Mereka berjalan terus, mengikuti jalan setapak yang nyaris hilang ditumbuhi semak. Beberapa kali Bara mendengarnya—suara langkah yang mengikuti, persis di belakang, mengikuti irama langkah mereka sendiri. Sekali ia mendengar suara ibunya memanggil namanya dari kegelapan di samping jalan, lembut dan memohon. Tapi ia tahu ibunya ada di rumah. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Ratri, dan terus berjalan.
Sekali, Ratri berhenti tiba-tiba, napasnya tercekat. Di antara pepohonan di sisi kiri, samar dalam kabut, ada deretan sosok yang berdiri diam menghadap mereka. Belasan, mungkin lebih. Tak bergerak. Tak bersuara. Dan ketika senter Bara menyapu ke arah mereka, sosok-sosok itu memiliki wajah yang dikenalnya—dari foto-foto lama di album keluarga. Mbah Putri. Paklik Wira. Danu, sepupunya, berdiri di barisan paling depan dengan tatapan kosong, mulutnya terbuka seakan ingin memperingatkan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar.
"Mereka yang sudah ditagih," bisik Bara, suaranya bergetar. "Mereka di sini. Selama ini. Tidak benar-benar hilang. Cuma... ditahan."
Ratri menarik lengannya. "Jangan lihat. Ayo. Itu yang Mbah Demang mau—kita berhenti, kita putus asa, kita kehilangan kerelaan kita. Ayo, Mas."
Mereka memaksa diri terus berjalan, dan barisan sosok itu tidak mengikuti, hanya menatap mereka pergi dengan tatapan yang—Bara bersumpah—berisi sesuatu seperti harapan. Seakan keluarganya yang hilang sedang mendoakan mereka berhasil di tempat di mana mereka sendiri gagal.
Akhirnya, hutan terbuka ke sebuah lapangan kecil, dan di tengahnya berdiri joglo lama.
Bangunan itu adalah bayangan gelap dan runtuh dari kemegahan joglo di rumah mereka. Atapnya melengkung dan sebagian roboh, kayunya menghitam dan dipenuhi lumut, tiang-tiangnya miring seakan tertekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Tapi di tengah pendapanya yang gelap, satu lampu minyak menyala, kecil dan tenang, dan di sampingnya, di kursi ukir yang sama dengan yang muncul di rumah mereka, duduk Mbah Demang.
Kali ini Bara bisa melihat lebih jelas, dan ia berharap tidak. Sosok itu adalah perempuan tua dan muda sekaligus, wajahnya berubah-ubah dalam cahaya minyak—sesaat menjadi nenek keriput, sesaat menjadi gadis cantik, sesaat menjadi sesuatu yang sama sekali bukan manusia, dengan terlalu banyak gigi dan mata yang menelan cahaya.
"Akhirnya," kata Mbah Demang, dan seluruh hutan seakan bergetar dengan suaranya. "Dua sekaligus. Sungguh murah hati keturunan Sastrawijaya tahun ini." Senyumnya melebar. "Masuklah, Anak-anak. Pendapa sudah kusiapkan. Mari kita bicarakan harga."
Bara melangkah maju, dan Ratri di sisinya, dan bersama-sama mereka memasuki joglo tempat di mana, tiga generasi lalu, kutukan keluarga mereka dilahirkan.