Jeritan Mbah Demang memudar perlahan, seperti uap yang terhisap kembali ke tanah.
Bara dan Ratri berbaring di tanah berlumpur di luar lingkaran, terengah, jari-jari masih saling mengunci. Joglo lama berderak terakhir kali, dan saka guru timur—tiang tempat perjanjian dikubur—patah dan roboh, menumbuk lantai dengan debam yang menggetarkan tanah. Lalu, perlahan, kabut yang selama ini menggantung di hutan mulai surut, menipis, seakan ditarik kembali ke suatu tempat yang dalam dan jauh.
Untuk pertama kalinya, suara serangga malam terdengar di Hutan Gandasuli. Jangkrik. Katak. Suara hutan yang hidup, biasa, yang sudah ratusan tahun tak terdengar di tempat itu.
"Berakhir?" bisik Ratri, suaranya parau.
Bara bangkit perlahan, menatap reruntuhan joglo. Di tempat Mbah Demang tadi berdiri, kini hanya ada kursi ukir tua yang lapuk dan kosong. Dan di sekeliling lapangan, deretan sosok pucat keluarganya yang hilang—Mbah Putri, Paklik Wira, Danu—berdiri menatap mereka. Tapi sekarang wajah-wajah itu tidak lagi kosong. Danu, sepupunya, tersenyum kecil. Lalu, satu per satu, seperti embun yang menguap kena matahari, sosok-sosok itu memudar, naik, dan lenyap—bukan ditelan, melainkan dilepaskan. Bebas, akhirnya, dari tempat mereka ditahan selama bertahun-tahun.
Bara merasakan air mata mengalir tanpa ia sadari. "Mereka bebas," katanya. "Kita membebaskan mereka."
Perjalanan keluar dari hutan terasa berbeda. Kabut sudah hilang. Bulan bersinar terang menembus celah pepohonan, dan jalan setapak yang tadinya tertelan semak kini terlihat jelas, seakan hutan sendiri membukakan jalan untuk mereka pulang.
Di tepi desa, ibu mereka menunggu, berdiri di bawah pohon beringin dengan dua kerabat lain, wajahnya basah air mata. Ketika ia melihat kedua anaknya keluar dari hutan—berdua, hidup, berlumur lumpur tapi utuh—ia jatuh berlutut dan menangis, suara tangis yang Bara tak pernah dengar sebelumnya: bukan tangis takut, melainkan tangis lega yang sudah tiga generasi tertahan.
Hari-hari berikutnya, desa perlahan berubah. Orang-orang yang dulu memandang keluarga Sastrawijaya dengan takut dan curiga, kini menyapa dengan hangat. Berita menyebar dengan caranya sendiri, seperti selalu di desa kecil—bahwa sesuatu yang gelap telah pergi dari Gandasuli, bahwa malam Selasa Kliwon bulan Sura tahun depan tak akan menagih siapa pun lagi.
Kekayaan keluarga, Bara tahu, mungkin akan menyusut sekarang. Tanpa pesugihan, tanpa perjanjian, harta yang datang tak wajar itu mungkin akan pergi sama tak wajarnya. Tapi ketika ia membicarakannya dengan ibunya dan Ratri di pendapa rumah, di bawah lampu kristal yang kini bersinar tanpa berdenting sendiri, tak satu pun dari mereka merasa kehilangan.
"Kakek menukar nyawa keluarganya dengan emas," kata Bara pelan, menatap keris menghitam yang kini ia simpan sebagai pengingat. "Aku lebih memilih keluarga yang utuh dan miskin daripada peti penuh emas dan kursi-kursi kosong di meja makan."
Ibunya menggenggam tangannya. Ratri menyandarkan kepala ke bahu kakaknya. Dan di luar, untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, malam di joglo keluarga Sastrawijaya terasa seperti malam biasa—tanpa bisikan, tanpa senandung tembang dari pendapa kosong, tanpa lampu yang bergoyang sendiri.
Bara menatap kursi-kursi di meja makan. Masih ada yang kosong; orang-orang yang hilang tak bisa dikembalikan ke dunia ini. Tapi kosongnya kini terasa berbeda—bukan kosong yang menunggu diisi tumbal berikutnya, melainkan kosong yang ditinggalkan oleh mereka yang akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.
Ketika Bara akhirnya pergi tidur malam itu, ia tidur tanpa mimpi buruk untuk pertama kalinya sejak ia pulang. Dan ketika ia bangun, sinar matahari pagi masuk melalui jendela, jatuh ke lantai marmer, dan ia berbaring sejenak hanya untuk menikmatinya—pagi pertama dalam tiga generasi yang datang tanpa seorang pun harus hilang untuk membayarnya.
Di kejauhan, di balik perbukitan, Hutan Gandasuli berdiri tenang di bawah langit cerah, hanya hutan biasa sekarang, tanpa kabut, tanpa yang menunggu di tengahnya. Dan perjanjian tengah malam itu, yang telah memakan keluarga Sastrawijaya selama tiga keturunan, akhirnya padam menjadi abu, bersama lembar kulit tua yang terbakar di tangan seorang cucu yang cukup berani untuk membayar harganya, dan cukup dicintai untuk diselamatkan dari membayarnya sendirian.
Begitulah seharusnya cerita ini berakhir.
Tiga minggu kemudian, sambil membereskan kamar kakeknya, Bara menemukan satu halaman yang terlepas dari buku harian itu—halaman yang dulu luput, terselip di balik lapisan kulit sampul. Tinta di situ lebih segar dari yang lain, seakan ditulis paling akhir. *"Dukun Gunungkidul keliru dalam satu hal,"* tulis kakeknya. *"Mbah Demang bukan penunggu Gandasuli. Mbah Demang lahir dari perjanjian itu sendiri—dan perjanjian tak pernah bisa dibakar habis. Ia hanya berpindah, mencari tangan baru, garis darah baru. Yang membakarnya dengan rela bukan memutus rantai. Ia menjadi mata rantai berikutnya."* Bara berdiri membatu, dan untuk pertama kalinya ia sadar betapa dingin tangannya sendiri sejak malam itu, sedingin kotak kayu hitam, sedingin kayu yang tak wajar.
Malam itu, dari arah pendapa, lampu kristal berdenting satu kali, meski tidak ada angin yang masuk ke dalam rumah. Dan dari kamarnya, samar sekali, Ratri mendengar kakaknya bersenandung—tembang Jawa kuno yang nadanya naik turun seperti tangisan, lagu yang belum pernah ia ajarkan kepada siapa pun, lagu yang seharusnya tak seorang pun di rumah itu masih tahu.