Matahari naik perlahan di atas Hutan Gandasuli, dan untuk kali pertama dalam ingatan siapa pun yang masih hidup, cahayanya menembus sampai ke dasar hutan tanpa terhalang kabut.
Ratri masih berlutut di tepi garis, tangannya menempel di tempat tadi tangan kakaknya berada. Tapi dinding gaib itu sudah tak ada lagi. Garis penanda kini hanya garis bubuk dan daun kering di tanah, biasa, tanpa kuasa, sebab yang harus dikurungnya sudah terkurung untuk selamanya.
Di tengah lingkaran, Bara tidak ada.
Bukan ditelan—Ratri tahu bedanya sekarang. Bukan diseret ke bawah tanah seperti yang lain, menjerit, ditarik paksa. Bara pergi seperti orang yang akhirnya tidur setelah lama sekali terjaga. Yang tertinggal di pusat lingkaran hanya bekas lututnya di tanah merah, dan di sampingnya, dua potong keris hitam yang patah, asapnya sudah lama padam.
Saka guru baru—tiang yang tumbuh dari akar hitam di atas makam tanpa nisan—mengerang sekali lagi, lalu roboh ke dalam, runtuh menimpa pusat lingkaran. Dan sejalan dengan robohnya, seluruh joglo lama yang dipulihkan oleh akar itu mulai melapuk dengan kecepatan yang tak masuk akal, seakan ratusan tahun yang ditahan oleh kuasa Mbah Demang akhirnya datang menagih sekaligus. Kayu menghitam dan remuk. Atap melengkung dan jatuh. Tiang-tiang menyerah satu per satu, ambruk ke dalam, menimbun makam, menimbun garis, menutup tempat di mana perjanjian dilahirkan tiga generasi lalu.
Ketika debu mereda, tak ada lagi joglo. Hanya gundukan kayu lapuk dan tanah, ditumbuhi lumut yang seakan sudah berabad-abad di sana, tak terbedakan lagi dari hutan di sekelilingnya. Tak ada yang akan tahu, jika tak diberitahu, bahwa di bawah gundukan itu terkubur sebuah makam, sebuah nama, dan seorang laki-laki yang rela tinggal untuk menjaganya tetap terkubur.
Ibu mereka adalah yang pertama bergerak. Ia merangkak melewati bekas garis penanda, ke tempat anak laki-lakinya terakhir berlutut, dan ia menyentuh tanah merah itu dengan jari-jari gemetar, seakan mencari kehangatan yang sudah pergi. Ia tidak menjerit. Ia tidak meratap keras. Ia hanya menangis dengan tangis yang dalam dan tenang, tangis seorang ibu yang kehilangan anak tapi tahu—untuk pertama kalinya tahu dengan pasti—bahwa anaknya pergi bebas, bukan sebagai tumbal yang diseret, melainkan sebagai orang yang memilih.
"Ia menyelamatkan kita," kata Pakdhe Hartono pelan. Laki-laki tua itu berdiri di tepi reruntuhan, kepala kerbau kayu masih di tangannya, dan air mata mengalir di pipinya yang keras. "Anak itu menyelamatkan kita semua. Apa yang tak berani dilakukan ayahku, tak berani dilakukan generasi mana pun sebelum kita—Bara melakukannya. Dengan mata terbuka."
Para sesepuh desa melepas ikat kepala mereka, satu per satu, sebagai tanda hormat. Kakek warung, yang dulu mencengkeram lengan Bara di hari pertama dan memperingatkannya tentang hitungan mundur, menunduk ke arah gundukan tanah itu lama sekali. "Tiga generasi desa ini hidup dalam ketakutan yang tak berani disebut," gumamnya. "Anak itu menyebutnya. Lalu membayarnya. Semoga ia tenang di tempat ia memilih untuk tinggal."
Ratri tidak ikut bicara. Ia masih menatap tanah merah, tempat tadi telapak tangannya menempel pada telapak tangan kakaknya. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, bukan hanya duka—sesuatu seperti kesepian yang baru saja lahir, kesepian seorang adik yang seumur hidupnya selalu ada kakak di depannya, dan kini, untuk pertama kalinya, tidak ada.
Tapi ada juga, di bawah duka itu, sesuatu yang lain. Sebuah ketenangan yang janggal. Sebab ia ingat tangan Bara, di detik terakhir, terasa hangat. Setelah berbulan-bulan dingin tak wajar—hangat. Dan ia tahu, dengan keyakinan yang tak bisa ia jelaskan, bahwa di detik kakaknya menutup mata, Bara adalah Bara sepenuhnya. Bukan inang. Bukan rumah bagi yang lain. Hanya kakaknya, utuh, untuk satu napas terakhir.
Mereka berjalan keluar dari hutan ketika matahari sudah sepenuhnya naik. Tak ada langkah yang mengikuti dari belakang. Tak ada suara memanggil dari kabut, sebab tak ada kabut. Hanya hutan biasa, basah oleh embun, hidup oleh suara burung pagi. Di tepi hutan, Ratri berhenti sejenak dan menoleh ke belakang—sesuatu yang dulu tak boleh dilakukan—dan kali ini tak ada yang menatap balik. Hanya pepohonan, dan cahaya, dan sunyi yang akhirnya damai.