Ratri pernah, di malam yang lain, di hutan yang sama, menarik kakaknya keluar dari lingkaran tepat sebelum lonceng berdentang dua belas kali. Tangannya masih ingat sentakan itu, beban tubuh Bara yang terangkat dari tanah yang menelannya, kemenangan yang ternyata bohong.
Kali ini, ia harus melakukan yang sebaliknya. Ia harus menahan dirinya untuk tidak menarik.
Itu lebih berat dari apa pun yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Sekarang tutup garis luarnya," kata Pak Karto dari luar, suaranya parau tapi tegas. "Tujuh nama sudah berdiri sebagai saksi, namanya sudah terikat. Inilah saatnya, Nduk—sambung celah timur itu, kurung dia sebelum jam Sura lewat."
Ketujuh daun masih membara biru di lingkaran dalam, ketujuh nama masih menggema di antara tiang-tiang joglo. Tiap nama yang tadi disebut dengan hormat telah melepaskan satu ikatan ketakutan yang selama ini memberi Mbah Demang kuasa, dan kini entitas itu menjerit di dalam tubuh Bara, merasakan jaring yang mengencang di sekelilingnya.
Para sesepuh bergerak ke garis luar. Kakek warung kopi menaburkan bubuk pada celah terakhir di sisi timur—celah yang sejak tadi sengaja dibiarkan terbuka menunggu jam ini—menyambung garis menjadi lingkaran penuh tanpa putus. Dan begitu butir terakhir jatuh ke tanah, seluruh garis luar itu berpijar—bukan dengan cahaya, melainkan dengan ketiadaan, dengan kepekatan yang menutup. Joglo lama, saka guru, makam tak bernisan, entitas, dan inang—semuanya kini terkurung di dalam tanpa celah.
Di tengah lingkaran, Bara berlutut. Tubuhnya kejang sekali, dua kali, ketika Mbah Demang mencoba kabur melalui setiap pori, mencari retakan, mencari tangan baru untuk dipegang. Tak ada. Namanya terikat ke makam. Inangnya rela tinggal. Tak ada jalan keluar bagi keduanya.
"Ratri," panggil Bara, dan suaranya jernih sekali lagi, sebab di puncak ini ia telah merebut kembali tubuhnya untuk beberapa saat yang berharga. "Patahkan kerisnya. Sekarang. Mumpung aku masih aku."
Keris hitam adalah bagian dari perjanjian—mata rantai terakhir yang bisa dipakai memindahkan kutukan. Selama ia utuh, selalu ada kemungkinan rantai berpindah lagi. Ratri mencabutnya dari tanah merah, memegang gagang dan ujung bilahnya, dan dengan satu tangis yang pecah dari dadanya, ia mematahkannya di atas lututnya. Bilah hitam itu patah dengan bunyi seperti tulang, dan dari patahannya keluar asap tipis yang berbau hangus tiga generasi.
Joglo lama mengerang. Saka guru baru retak dari pucuk ke pangkal.
Ratri menjatuhkan diri ke tepi garis, sedekat yang ia berani, kedua tangan terulur. Setiap serat tubuhnya berteriak untuk meraih kakaknya, menariknya keluar seperti dulu. Tapi ia menahan. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, kukunya menusuk telapak, dan ia menahan diri untuk tidak menyelamatkan satu-satunya orang yang selalu ia selamatkan.
"Mas," isaknya. "Aku di sini. Aku tidak akan menarikmu. Tapi aku di sini sampai akhir."
Bara mengangkat tangannya—tangan yang sejak malam Gandasuli pertama selalu dingin tak wajar—dan menempelkannya ke garis penanda dari dalam, sejajar dengan tangan Ratri dari luar. Mereka tak bisa saling sentuh; garis itu memisahkan mereka. Tapi telapak menempel ke telapak melalui dinding gaib yang tak terlihat, sedekat pelukan terakhir yang bisa diberikan dua orang yang saling percaya dengan nyawa mereka.
"Terima kasih sudah percaya aku," kata Bara. "Dulu, dan sekarang."
"Terima kasih sudah percaya aku," balas Ratri, "untuk tidak menarikmu."
Di kejauhan, di balik garis pepohonan timur, langit mulai memucat. Abu-abu menggantikan hitam. Dan ketika sinar fajar pertama menyentuh puncak Hutan Gandasuli, malam Selasa Kliwon bulan Sura putus—dan dengan putusnya malam, ikatan mengunci. Mbah Demang menjerit untuk terakhir kalinya, jeritan ribuan suara yang menyusut menjadi satu, lalu menjadi bisikan, lalu menjadi sunyi. Bara, dengan kerelaan sejati, menutup matanya saat cahaya menyentuh wajahnya, dan tangannya yang menempel di garis—untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan—terasa hangat.