Tiga hari kemudian, Ratri kembali sendirian ke Gandasuli.
Keluarganya tak ingin ia pergi. Ibu memegang lengannya dan memohon, takut hutan itu masih menyimpan sesuatu. Tapi Ratri harus kembali. Ada sesuatu yang tertinggal di sana yang harus ia ambil, dan ada sesuatu yang harus ia pastikan dengan matanya sendiri—bahwa kakaknya benar-benar pergi dengan tenang, bukan terjebak seperti yang lain.
Hutan menyambutnya tanpa kabut, tanpa langkah-langkah yang mengikuti. Jalan setapak yang dulu tertelan semak kini terbuka, seakan hutan tak lagi ingin menyesatkan. Ia berjalan sampai ke lapangan kecil tempat joglo lama dulu berdiri, dan kini hanya ada gundukan tanah berlumut, tenang di bawah cahaya siang.
Ratri berlutut di tepi gundukan, di tempat ia memperkirakan pusat lingkaran dulu berada. Ia menggali sedikit dengan tangannya, hati-hati, sampai jari-jarinya menyentuh logam. Dua potong keris hitam yang patah. Ia mengangkatnya keluar, membersihkan tanah dari bilahnya yang dingin dan mati—kini hanya logam tua biasa, tanpa bara, tanpa kuasa, sebab perjanjian yang dulu menghidupinya sudah terkunci di bawah tanah ini.
Di bawah salah satu potongan keris, terselip sesuatu yang membuat napas Ratri tertahan.
Selembar daun. Bukan dari tujuh daun penanda Mbah Joyo—daun-daun itu sudah membara habis di malam ritual. Ini daun lain, daun biasa dari pohon hutan, dan di atasnya, tergores dengan ujung sesuatu yang tajam, ada bentuk yang ia kenal. Sederhana. Dua sosok, satu lebih tinggi, satu lebih pendek, tangan saling bertaut. Goresan kasar seorang anak. Tapi Ratri mengenalinya seketika, sebab Bara dulu sering menggambarnya untuknya saat mereka kecil, di pasir kali, di kabut jendela, di mana pun: dua kakak beradik, bergandengan tangan, tak terpisahkan.
Ia tahu apa artinya. Di saat-saat terakhir, ketika kuasa Mbah Demang sudah terkunci dan tubuh itu sepenuhnya menjadi Bara lagi, kakaknya sempat menggores ini. Pesan terakhir, dari dalam lingkaran, untuk adik yang tak bisa ia sentuh. Bukti bahwa di ujung segalanya, ia menjadi dirinya sendiri kembali—utuh, sadar, dan masih, sampai napas penghabisan, kakaknya.
Ratri menggenggam daun itu ke dadanya, dan untuk pertama kalinya sejak fajar di Gandasuli, ia membiarkan dirinya menangis sepenuhnya. Bukan tangis takut. Bukan tangis kehilangan yang menganga. Tangis seseorang yang akhirnya yakin bahwa cinta, pada akhirnya, cukup—tidak untuk menyelamatkan kakaknya dari kematian, tapi untuk menyelamatkannya dari sesuatu yang lebih buruk dari kematian: dari hilang tanpa nama, dari menjadi tumbal yang diseret menjerit, dari menjadi mata rantai berikutnya yang melanjutkan kutukan ke anak cucu.
Bara tidak hilang. Bara memilih. Dan dalam memilih, ia menebus tiga generasi yang tak pernah berani memilih.
Ketika tangisnya reda, Ratri menggali sedikit lagi dan mengubur kembali kedua potongan keris di tempat semula, jauh di bawah tanah merah, di bawah gundukan, di tempat ia akan tetap terkubur bersama segala yang harus tinggal di sana. Tapi daun bergoresan itu ia simpan. Itu miliknya. Itu hadiah perpisahan, dan ia akan menyimpannya seumur hidup.
Ia berdiri, menepuk tanah dari lututnya, dan menatap gundukan itu lama sekali. "Aku tidak menarikmu kali ini, Mas," katanya pelan, kepada tanah, kepada kakaknya, kepada apa pun di hutan ini yang mendengar. "Itu hal tersulit yang pernah kulakukan. Tapi kamu benar. Kalau kutarik, semuanya sia-sia. Jadi aku biarkan kamu tinggal. Dan aku menjagamu dengan cara lain—aku akan menjaga mereka semua tetap hidup, tetap bebas, supaya pengorbananmu tidak sia-sia." Ia tersenyum kecil, getir dan hangat sekaligus. "Tidur yang tenang. Kamu sudah membayar lunas. Untuk kita semua."
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar dari Hutan Gandasuli untuk terakhir kalinya. Di belakangnya, tak ada yang mengikuti. Hanya angin yang lewat di antara pepohonan, dan untuk sesaat—hanya sesaat—Ratri mengira ia mendengar senandung tembang Jawa kuno itu, sayup di kejauhan. Tapi kali ini nadanya tidak seperti tangisan. Kali ini terdengar seperti orang yang sedang beristirahat.