Nama itu masih menggema di antara tiang-tiang joglo lama ketika sesuatu di dalam Bara terbelah.
Ratri telah mengucapkannya—nama asli sang demang, nama yang dikuburkan bersama tubuh tanpa nisan di tepi Gandasuli, nama yang selama ratusan tahun tak boleh disebut siapa pun. Dan di pendapa yang dipulihkan oleh akar hitam itu, di kursi ukir tempat tiga generasi keluarganya pernah diseret untuk membayar, Bara menggeliat seperti orang yang dua jiwa berkelahi memperebutkan satu tubuh.
"Mas," kata Ratri, suaranya nyaris hilang ditelan deru angin yang berputar di dalam joglo. "Mas, dengar aku. Bertahan sebentar lagi."
Wajah Bara berubah-ubah dalam cahaya tujuh daun yang membara di sudut-sudut garis penanda. Sesaat ia kakaknya—mata cokelat yang lelah, keringat di pelipis, bibir yang gemetar menahan sesuatu. Sesaat ia menjadi yang lain—mata menghitam total, leher miring tak wajar, mulut yang terlalu lebar dengan terlalu banyak gigi. Pengikatan-nama telah memisahkan entitas dari inangnya untuk pertama kalinya, tapi belum sepenuhnya. Mbah Demang masih mencengkeram dari dalam, dan Bara, dengan napas tersengal, menahannya dengan seluruh sisa dirinya.
"Ratri." Suara itu Bara. Hanya Bara. "Aku masih di sini. Tapi tidak lama."
Ibu mereka berlutut di luar garis, kedua tangan menutup mulut. Pakdhe Hartono berdiri di sampingnya, wajahnya tua dan hancur, kepala kerbau kayu tergenggam erat di tangannya. Di belakang mereka, para sesepuh desa—kakek warung yang dadanya telanjang, Pak Karto yang renta bersandar pada tongkat—berdiri dalam lingkaran cahaya obor, mulut mereka komat-kamit melafalkan doa yang sama yang dulu hanya berani mereka bisikkan di balik pintu.
Ratri menatap keris hitam yang sudah dimurnikan dengan air dari tujuh sumber. Bilahnya tak lagi membara menolak; kini ia dingin dan diam menancap di tanah merah di kaki saka guru, siap. Di tanah di bawah saka guru baru—tiang yang tumbuh dari akar hitam di atas makam sang demang—ia telah menyusun semua syarat: tanah merah dari kotak hitam, tujuh daun, garis darah Sastrawijaya yang diberikan dengan kesadaran penuh.
"Mas Bara," kata Ratri, dan ia memaksa suaranya tegas walau air mata sudah menggenang. "Ritualnya hampir selesai. Begitu nama itu terikat ke makam, ia tak akan bisa berpindah lagi. Tak akan ada inang baru. Tak akan ada tumbal lagi—tidak untukmu, tidak untuk anak cucu siapa pun di garis kita."
"Aku tahu," kata Bara. Ia berlutut perlahan, seakan tubuhnya berat tiga kali lipat. "Mbah Joyo memberitahumu, kan. Sebelum ia mati."
Ratri tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban, dan keduanya tahu itu. Mengikat entitas selamanya menuntut inang ikut terikat. Selama Bara hidup sebagai rumah Mbah Demang, mengurung sang demang berarti mengurung Bara bersamanya. Untuk membebaskan Bara, seseorang harus menggantikannya di ikatan. Atau Bara tetap terikat—selamanya.
"Aku yang menggantikan," kata Ibu tiba-tiba, suaranya pecah dari luar garis. "Bara, Ratri, biarkan Ibu yang—"
"Tidak, Bu." Bara menoleh, dan untuk sesaat senyumnya adalah senyum yang Ratri kenal dari masa kecil mereka, senyum kakak yang selalu mendahuluinya pulang dari kali untuk menyiapkan handuk. "Ibu sudah membayar terlalu banyak. Seumur hidup Ibu membayar dengan rasa bersalah yang bukan dosa Ibu. Cukup."
Angin di dalam joglo menderu lebih keras. Tangan-tangan pucat mulai keluar dari celah lantai, mencari, meraba batas garis penanda, tertahan tapi marah. Mbah Demang dalam tubuh Bara mengangkat kepala, dan suara banyak-suara itu meledak dari mulut kakaknya:
"KALIAN PIKIR BISA MENGURUNGKU? AKU PERJANJIAN ITU SENDIRI! BAKAR AKU, AKU BERPINDAH! IKAT AKU, AKU MENUNGGU! WAKTU ADALAH MILIKKU, BUKAN MILIK KALIAN!"
"Tapi nama bukan milikmu lagi," kata Ratri, dan ia menunjuk keris yang menancap di tanah merah. "Namamu sudah kembali ke pemiliknya. Ke perempuan yang dulu kau telan untuk menjadi seperti ini."
Untuk sesaat—satu detik yang menyayat—wajah Bara menjadi sepenuhnya Bara lagi, dan ia menatap adiknya dengan mata jernih.
"Ratri," katanya pelan, hanya untuk mereka berdua. "Aku rela. Dengar aku. Bukan menyerah—rela. Sama seperti dulu di malam pertama, aku menyerahkan diriku biar keluarga bebas. Bedanya kali ini aku tahu persis apa yang kuserahkan, dan untuk siapa. Itu yang membuatnya kuat. Itu yang membuatnya menutup pintu untuk selamanya." Ia menarik napas. "Jangan tarik aku keluar kali ini. Aku mohon. Kalau kau tarik aku, ia ikut keluar bersamaku, dan semuanya sia-sia. Yang harus tinggal di lingkaran ini bukan aku saja—tapi ia, terkunci di dalamku, di dalam ikatan namanya. Aku yang jadi gemboknya."
Air mata Ratri jatuh ke bilah keris. "Mas, jangan minta itu padaku."
"Aku tidak minta," kata Bara. "Aku memilih. Bedanya itu yang penting. Kakek tidak pernah berani memilih. Aku berani." Ia menutup matanya sejenak, dan ketika membukanya lagi, ada damai aneh di sana, damai orang yang sudah berhenti berlari dari sesuatu yang selama ini mengejarnya. "Selesaikan ritualnya, Ratri. Sebut nama-nama itu. Tutup garisnya. Dan biarkan aku tinggal."
Di luar joglo, langit malam Selasa Kliwon bulan Sura berputar pekat. Fajar masih jauh. Tapi untuk pertama kalinya sejak ia menginjak desa ini kembali, Bara tidak takut pada apa yang menunggu di tengah malam—sebab kali ini, yang menunggu di tengah malam adalah dirinya sendiri, dan ia telah berdamai dengannya.