Ratri tiba esok sorenya, dengan ransel di punggung dan tatapan keras yang Bara kenal sejak mereka kecil.
Mereka berpelukan di pendapa, dan untuk sesaat Bara merasa lebih kuat, seakan kehadiran satu orang yang benar-benar di pihaknya bisa mengusir kabut ketakutan yang menyelimuti rumah ini.
Malam itu mereka duduk di kamar Bara, dan Bara menceritakan semuanya. Buku harian. Mbah Joyo. Cara memutus rantai. Celah sempit yang membutuhkan dua orang yang saling percaya dengan nyawa mereka.
Ratri mendengarkan tanpa memotong, wajahnya makin pucat, tapi matanya makin keras. Ketika Bara selesai, ia diam lama, lalu berkata, "Jadi rencananya begini. Besok malam kita ke Gandasuli. Kamu menyerahkan diri, membakar perjanjian, dan aku menarikmu keluar dari lingkaran di detik terakhir."
"Tidak." Bara menggeleng. "Aku tidak akan melibatkanmu ke dalam lingkaran. Terlalu berbahaya. Kamu cukup menungguku di tepi hutan."
"Mbah Joyo bilang penolong harus berdiri tepat di luar garis perjanjian, bukan di tepi hutan." Ratri menatapnya tajam. "Kamu mau menyerahkan diri tapi tidak mau aku ambil risiko menarikmu keluar? Itu bukan rencana, Mas. Itu cara halus untuk bunuh diri sambil pura-pura mencoba selamat."
Bara terdiam. Adiknya selalu bisa membaca isi kepalanya.
"Aku percaya kamu," kata Ratri, suaranya melembut. "Dan aku butuh kamu percaya aku. Itu satu-satunya cara ini berhasil, kan? Dua orang yang saling percaya dengan nyawa mereka. Aku tidak datang sejauh ini untuk berdiri di tepi hutan dan menonton kakakku menghilang seperti yang lain."
Mereka bersiap sepanjang sisa malam. Bara menyiapkan keris pusaka dari kotak, daun-daun dan bubuk dari Mbah Joyo, korek dan minyak. Ratri menggambar peta hutan dari ingatan masa kecil dan keterangan warga. Mereka menghafal urutan langkah sampai bisa mengucapkannya dalam tidur: masuk ke joglo lama, susun garis penanda, gali di bawah saka guru timur, temukan lembar perjanjian, nyalakan api dari keris, Bara menyerahkan diri dengan tulus, perjanjian dibakar, dan di detik perjanjian habis, Ratri menariknya keluar melewati garis sebelum tengah malam lewat.
Menjelang subuh, ibu mereka mengetuk pintu. Ia masuk dengan mata bengkak, dan Bara tahu ia mendengar semuanya.
"Ibu tidak bisa kehilangan kalian berdua sekaligus," bisiknya, gemetar.
"Ibu juga tidak bisa kehilangan kami satu per satu, tiap tahun, sampai habis," jawab Ratri lembut, menggenggam tangan ibunya. "Ini harus diakhiri, Bu. Dan kami akan mengakhirinya bersama. Berdua. Lebih aman berdua daripada satu, kata orang pintar itu sendiri."
Ibu mereka memeluk keduanya, lama, seakan ingin menyimpan rasa pelukan itu untuk berjaga-jaga jika ini yang terakhir.
Esok harinya, langit sepanjang siang berwarna kelabu aneh, dan udara terasa berat seperti sebelum hujan badai yang tak kunjung turun. Para tetangga menutup jendela mereka lebih awal. Anjing-anjing desa melolong tanpa sebab. Dan ketika matahari akhirnya tenggelam di balik Hutan Gandasuli, mewarnai langit merah seperti luka, Bara dan Ratri berdiri di tepi desa, menatap garis hitam pepohonan yang menelan jalan setapak menuju ke dalam.
"Malam Selasa Kliwon," kata Ratri pelan. "Bulan Sura."
Bara menggenggam tangan adiknya. "Kalau aku ragu di dalam sana," katanya, "kalau aku berhenti percaya—jangan ikut ragu. Tarik aku keluar. Janji."
"Janji," kata Ratri. "Dan kamu juga. Kalau aku yang ragu, kamu yang seret aku pulang."
Mereka melangkah masuk ke dalam Hutan Gandasuli bersama-sama, dan di belakang mereka, satu per satu, lampu-lampu desa padam, seakan seluruh desa tahu malam ini ada yang akan ditagih, dan tak seorang pun ingin menyaksikan.