Tengah malam Selasa Kliwon bulan Sura turun ke atas Hutan Gandasuli seperti tutup peti yang dirapatkan.
Ratri merasakannya di kulitnya—pergantian itu, ketika malam biasa menjadi malam yang lain, ketika udara menebal dan langit kehilangan bintang-bintangnya satu per satu sampai hanya tersisa bulan pucat yang menggantung seperti mata yang tak berkedip. Di dalam lingkaran bubuk, entitas itu merasakannya juga. Inilah jamnya. Jam ketika kuasanya memuncak, jam yang selama ratusan tahun menjadi miliknya untuk menagih—dan jam yang sama, kata Mbah Joyo dulu, ketika ikatan terhadapnya paling sah.
"SEKARANG," raung Wulansari melalui mulut Bara, dan suara itu mengguncang seluruh hutan. "DI JAM INI AKU PALING KUAT. KAU PIKIR GARIS RAPUHMU BISA MENAHANKU DI MALAM SURA?"
Akar-akar hitam meledak dari tanah, jauh lebih banyak dari sebelumnya, menggebuk lingkaran dalam dari dalam. Di luar, kabut menderu, mengangkat bayang-bayang yang berbentuk seperti orang-orang mati, menggedor garis luar yang masih terbuka di celah timur. Obor-obor para sesepuh berkedip nyaris padam. Tanah berguncang. Joglo lama berderak, dan untuk sesaat Ratri mengira seluruh struktur akan runtuh menimpa kakaknya.
"Tahan!" teriaknya. "Semua! Jangan mundur! Doa kalian—jangan berhenti! Inilah jamnya!"
Para sesepuh memejamkan mata dan menaikkan suara, doa-doa tua bersahutan dari empat penjuru. Ibu mereka, Pakdhe Hartono, Bibi Sukma—semua berlutut di tepi garis, tangan terangkat, menyumbang apa pun yang mereka bisa: doa, air mata, kehadiran, keberanian yang dipinjam dari satu sama lain.
Inilah saatnya. Ritual pengikatan, di puncak malam Sura, persis seperti yang Mbah Joyo wariskan. Ratri berlutut di tepi lingkaran dalam, di samping ketujuh daun yang sejak tadi menunggu, dan mulai memanggil para saksi.
"Aku menyebut mereka," serunya, dan ia meletakkan tangannya pada daun pertama. Nama tumbal yang paling tua—anak sulung Kakek Sastrawijaya, tumbal sebelum semua tumbal, yang dibayar di malam Kakek pulang dari Gandasuli membawa sekarung emas. Ratri mengucapkan nama itu dengan jelas, mengembalikannya ke pemiliknya, dan daun pertama menghitam di tepinya lalu menyala redup tanpa api, cahaya biru pucat yang tenang.
Ibu mereka maju, meletakkan tangan pada daun kedua, air mata mengalir deras. "Sarni," ucapnya, suaranya pecah. "Istri Bapak. Nenekku. Yang dibuang Bapak sendiri sebagai tumbal. Aku mengembalikan namamu, Mbah. Berdirilah sebagai saksi." Daun kedua menyala.
Pakdhe Hartono berlutut di daun ketiga, tubuhnya yang besar gemetar seperti anak kecil. "Danu," katanya, dan nama anaknya keluar seperti darah dari luka yang tak pernah menutup. "Anakku. Yang kutunggui di luar pintu sampai hening. Aku tidak akan menyimpanmu sebagai kursi kosong lagi. Berdirilah sebagai saksi." Daun ketiga menyala, dan untuk sesaat cahaya biru itu berkedip dalam irama yang menyerupai napas.
Satu per satu mereka maju. Bibi Sukma menyebut Paklik Wira pada daun keempat, lalu Mbah Putri pada daun kelima. Pak Karto, yang ingatannya menjangkau jauh ke masa kakek Sastrawijaya muda, menyebut dua kerabat lama yang hilang lintas tahun dan tak pernah dicatat di mana pun selain di kepalanya yang renta—daun keenam dan ketujuh. Daun demi daun menyala, biru dan tenang, dan lingkaran dalam itu bercahaya seperti tujuh bintang kecil mengelilingi saka guru.
Tujuh daun. Tujuh nama. Tujuh tumbal yang dulu diberikan dan dilupakan, kini dipanggil kembali sebagai saksi yang mengikat. Ketujuh cahaya mulai berputar perlahan, dan udara di lapangan itu menebal seperti tali yang ditarik kencang.
Ratri mengangkat keris hitam yang sudah dimurnikan dengan air dari tujuh sumber. Inilah inti dari semuanya. Pengikatan-nama. Ia menatap kakaknya untuk yang terakhir kali sebagai kakaknya.
Mata Bara jernih. Cokelat. Miliknya sendiri. Untuk satu kedipan yang panjang dan tenang di tengah amukan, Wulansari mundur ke dasar dirinya, dan yang menatap Ratri dari kursi ukir itu adalah kakaknya, utuh, untuk terakhir kalinya.
"Tidak apa-apa," kata Bara. Pelan, hampir tak terdengar di tengah deru. Tapi Ratri membaca bibirnya, mendengarnya dengan hatinya. "Aku rela, Ratri. Sungguh rela. Bukan karena terpaksa, bukan karena dia. Karena kau. Karena Ibu. Karena aku akhirnya bisa membayar dengan benar apa yang kakek dulu terlalu pengecut untuk bayar. Ini bukan kekalahan. Ini pilihanku."
Air mata Ratri jatuh ke tanah, ke garis bubuk, dan untuk sesaat ia ingin melempar keris itu, melompati garis, menyeret kakaknya keluar seperti dulu, melawan setiap kata yang baru saja diucapkannya. Setiap serat tubuhnya menjerit untuk melakukannya. Tapi ia menahan diri. Karena cinta yang menarik keluar adalah cinta yang dulu menyebabkan semua ini. Dan cinta yang membiarkan tinggal—cinta yang lebih sulit, yang lebih menyayat—adalah satu-satunya cinta yang bisa menebusnya.
Ratri menancapkan keris hitam ke tanah merah di atas makam tak bernisan itu, dan darah dari telapaknya—garis Sastrawijaya, diberikan dengan kesadaran penuh—menetes membasahi tanah.
"Aku menyebut namamu," kata Ratri, mengangkat suaranya ke arah entitas, ke arah saka guru, ke arah makam tak bernisan di bawahnya. "Raden Ayu Wulansari. Demang perempuan. Ibu yang kehilangan. Pemangsa yang dulu korban. Dengan tujuh nama sebagai saksi, dengan tujuh daun sebagai batas, dengan darah garis Sastrawijaya yang kuberikan dengan kesadaran penuh—aku mengikatmu ke tanahmu sendiri. Ke makammu. Ke tempat di mana semuanya bermula. Kau tidak akan berpindah lagi. Kau tidak akan menagih lagi. Kau akan tinggal di sini, terikat pada namamu, sampai nama itu sendiri lenyap dari ingatan dunia."
Wulansari menjerit—jeritan yang membelah dua, banyak-suara dan satu-suara, marah dan, di bawah amarah itu, sesuatu yang nyaris seperti kelegaan. Akar-akar hitam menggeliat liar lalu mulai menyusut, ditarik kembali ke bawah saka guru, ke dalam tanah, ke dalam makam. Cahaya ketujuh daun berputar makin cepat, makin terang, mengikat, mengeratkan, menutup.
Dan di tengah semua itu, Ratri menatap keris hitam yang menancap di tanah merah, siap untuk langkah terakhir yang sudah ia dan kakaknya sepakati—langkah yang akan mengunci entitas dan inangnya bersama, selamanya, saat fajar memutus malam Sura. Di kursi ukir, kakaknya menutup mata, dan mulai bersenandung—tembang Jawa kuno itu, yang dulu menghantui rumah mereka, kini diucapkannya dengan tenang, dengan suaranya sendiri, sebagai pengantar bagi apa yang akan datang.
Di luar garis, di timur, di balik gelombang kabut yang masih mengamuk, langit yang paling gelap mulai retak oleh garis tipis yang pucat. Fajar masih jauh. Tapi ia datang. Dan malam Selasa Kliwon yang terakhir ini—malam yang akan menentukan apakah tiga generasi penderitaan berakhir atau berlanjut—baru saja mencapai puncaknya.