Ratri berdiri di tepi garis luar yang masih menanti di celah timurnya, dan untuk pertama kalinya sejak ia memasuki hutan ini, ia membiarkan dirinya merasakan beban penuh dari apa yang akan terjadi saat tengah malam tiba.
Mbah Joyo benar. Ia selalu benar, dukun tua itu, sampai napas terakhirnya. Ratri mengingat kata-katanya, diucapkan dengan suara yang nyaris habis, di ranjang kayu di lereng Gunungkidul: *Mengikat entitas selamanya menuntut wadahnya ikut terikat. Itu hukum darah, Nak. Perjanjian masuk ke dalam diri inang. Untuk mengunci perjanjian, kau harus mengunci inangnya bersamanya. Tak ada cara lain. Kecuali—* dan di sini suara tua itu berhenti, dan matanya yang jernih menatap Ratri dengan iba yang dalam, *—kecuali ada yang rela menggantikan inang di dalam ikatan. Satu nyawa sadar, satu kerelaan sejati, masuk menggantikan yang lain. Tapi perpindahan itu sendiri menuntut harga. Yang menggantikan tidak akan keluar lagi.*
Ratri menatap kakaknya di tengah lingkaran. Bara, yang masih menahan pintu di dalam dirinya sendiri dengan seluruh sisa tenaganya, tubuhnya basah keringat, urat-uratnya menegang, matanya berkedip antara cokelat dan hitam. Ia tidak akan bisa menahannya lama lagi. Beberapa menit, mungkin. Lalu Wulansari akan kembali menelannya, dan satu-satunya cara mengikat keduanya adalah dengan mengunci Bara di dalam selamanya.
Atau seseorang masuk menggantikannya.
Ratri melangkah mendekati garis. Pikirannya jernih dengan ketenangan yang menakutkan. Ia bisa melakukannya. Ia bisa masuk, menyerahkan dirinya menggantikan kakaknya, membiarkan Bara ditarik keluar dan dirinya yang tinggal terkunci bersama Wulansari. Adik dan kakak bertukar peran—seperti malam Gandasuli pertama, ketika Bara yang menyerahkan diri dan Ratri yang menarik keluar. Kini ia akan membalikkannya. Ia yang masuk. Ia yang tinggal.
"Ratri."
Suara itu menghentikannya. Suara kakaknya—jernih, kakaknya yang sebenarnya, dalam salah satu jeda berharga ketika ia berhasil mendorong Wulansari ke belakang. Bara menatapnya dari kursi ukir, dan di matanya ada sesuatu yang membuat Ratri tahu ia sudah membaca pikiran adiknya, seperti selalu.
"Jangan kau pikirkan itu," kata Bara. Napasnya tersengal. "Aku tahu apa yang kau rencanakan. Aku selalu tahu. Tapi tidak. Kali ini bukan kau."
"Mas—"
"Dengar aku, Ratri. Mumpung aku masih aku." Bara mencengkeram lengan kursi, menahan gelombang hitam yang berusaha bangkit lagi. "Aku sudah berbulan-bulan jadi rumahnya. Aku sudah setengah miliknya. Kalau kau yang masuk menggantikanku, kau menyerahkan dirimu yang masih utuh, yang masih bersih, ke dalam ikatan ini—dan kau akan menjadi seperti aku. Lebih buruk. Karena kau masuk dengan sukarela ke tempat yang sudah dia kuasai." Ia menggeleng, air mata bercampur keringat di wajahnya. "Aku tidak akan membiarkanmu menukar dirimu untukku. Tidak setelah semua yang kau lakukan. Tidak setelah kau menyeretku keluar dari tanah itu setahun yang lalu."
Ratri menangis terang-terangan sekarang. "Kalau bukan aku, maka kau yang tinggal di dalam selamanya. Kau yang terkunci. Aku tidak bisa—Mas, aku tidak bisa pulang tanpa kau lagi. Aku sudah kehilangan terlalu banyak."
Bara tersenyum, dan senyum itu adalah senyum kakaknya yang dulu, kakak yang mengajarinya memancing di kali, kakak yang berkata *kalau aku ragu, tarik aku keluar.*
"Kau ingat malam pertama itu," katanya pelan. "Kau bilang padaku: kalau aku ragu, jangan ikut ragu. Tarik aku keluar. Dan kau menariknya. Kau menyelamatkanku, Ratri. Tapi yang kau tarik keluar saat itu—" suaranya bergetar, "—itu sudah bukan aku yang utuh. Aku sudah membawa dia keluar bersamaku. Selama ini, yang hidup di rumah kita bukan kakakmu sepenuhnya. Itu aku dan dia. Dan kau tahu itu. Kau yang pertama tahu."
Ratri tak bisa menjawab. Karena itu benar. Karena ia memang yang pertama tahu, malam ketika ia mendengar tembang itu dari balik pintu kamar kakaknya.
"Maka biarkan aku menyelesaikan apa yang dimulai malam itu," kata Bara. "Kau menarikku keluar setahun yang lalu, dan karena itu kutukan ini belum putus—ia cuma berpindah ke dalam diriku. Sekarang giliranku menuntaskannya dengan benar. Aku tinggal. Aku yang terikat bersamanya. Dan kau—kali ini, Ratri—kali ini kau tidak menarikku keluar. Kali ini kau biarkan aku tinggal. Itu cara satu-satunya rantai ini putus untuk selamanya, untuk Ibu, untuk anak-anak kita nanti, untuk semua keturunan setelah kita."