Para sesepuh bergerak bersama, seperti satu tubuh yang sudah lama menunggu saat ini.
Kakek warung kopi—yang sepanjang cerita ini hanya berani menyaksikan dari kejauhan, dari balik cangkir kopinya, dari balik ketakutan tiga generasi—kini melangkah ke depan dengan bubuk Mbah Joyo di telapak tangannya yang keriput. Pak Karto di sisinya. Di belakang mereka, warga desa yang dulu hanya berbisik dan menutup jendela kini berdiri dengan obor dan cangkul, dengan garam dan daun, dengan keberanian yang dipinjam dari kebersamaan. Untuk pertama kalinya dalam ingatan siapa pun, desa tidak melarikan diri dari Gandasuli. Desa datang.
"Siapkan garis luar," seru Ratri, suaranya hampir tertelan oleh aum entitas di lingkaran dalam. "Kelilingi seluruh pendapa dengan bubuk, sisakan satu celah di sisi timur. Jangan ditutup dulu. Garis ini baru boleh disambung penuh tepat saat tengah malam—sebelum jamnya, mengurungnya cuma akan membuatnya mengakar lebih dalam ke Mas Bara. Tapi sekali nanti tertutup, tak boleh ada yang membukanya—berapa pun yang dia janjikan dari dalam."
Mereka tahu apa artinya peringatan itu. Mereka semua ingat pengkhianatan kecil yang dulu nyaris menghancurkan segalanya—malam ketika garis kurungan Bara di rumah sempat dibuka, dan seorang kerabat mati keesokan paginya untuk membayarnya. Mereka tidak akan mengulangi kesalahan itu.
Bubuk ditaburkan dalam garis tebal mengelilingi hampir seluruh joglo lama, berhenti di celah sisi timur—garis yang menunggu, belum mengikat. Di setiap titik penjuru—timur, selatan, barat, utara—seorang sesepuh berlutut dan menancapkan obor ke tanah, menyebut doa-doa tua yang separuh Islam separuh lebih tua dari Islam, doa-doa tanah Jawa yang diwariskan turun-temurun untuk berjaga sampai saatnya tiba. Kabut menggeliat di luar garis yang setengah jadi itu, mengendus celah timur yang masih terbuka, sabar, menunggu.
Di dalam lingkaran, suara Wulansari berubah. Aum marah itu mulai bercampur dengan rayuan, dengan tawaran, dengan jeritan yang berganti-ganti antara ancaman dan permohonan.
"KALIAN AKAN MENGUBUR ANAK KALIAN SENDIRI BERSAMAKU," raungnya melalui mulut Bara. "DIA MASIH HIDUP DI SINI. LIHAT WAJAHNYA. ITU WAJAH BARA. KALIAN SUNGGUH AKAN MENGUNCINYA SELAMANYA?"
Ibu mereka tersentak, satu langkah ke arah garis, tangannya terulur. "Bara—"
"Bu, jangan." Ratri menahan lengan ibunya dengan kedua tangan. "Itu dia yang bicara. Bukan Mas Bara. Dia memakai wajah Mas Bara untuk membuat Ibu mendekat. Sama seperti dia memakai wajah Danu untuk menghancurkan Pakdhe. Jangan dengar. Lihat ke mataku, Bu. Jangan lihat ke dalam."
Tubuh ibu mereka gemetar hebat, tapi ia memejamkan mata, dan tidak melangkah.
Di kursi ukir, untuk satu kedipan, mata Bara jernih kembali, dan ia menatap adiknya. Bibirnya bergerak tanpa suara, tapi Ratri membaca bentuknya: *Tunggu jamnya. Jangan dengar dia. Aku rela.*
Air mata Ratri mengalir, tapi tangannya tegas. Ia menatap langit yang merapat ke arah tengah malam, tinggal sebentar lagi. Entitas sudah dipancing ke permukaan, daun-daun sudah tersusun, garis luar sudah menanti di tepi celahnya. Semua siap. Yang belum tiba hanyalah jamnya.
Dan ia juga tahu hal lain, dan hal itu menghancurkan hatinya. Mengurung Wulansari nanti berarti mengurung kakaknya bersamanya. Sebab mengurung bukan mengikat. Dan harga sejati—harga yang Mbah Joyo enggan ucapkan dengan ringan—belum dibayar.