Ratri berlutut di tanah, di luar garis bubuk, dan membuka kain berisi tujuh daun kering peninggalan Mbah Joyo.
Tangannya gemetar saat menyusunnya membentuk lingkaran kedua—lingkaran dalam, mengelilingi saka guru baru tempat akar hitam berpusat, tempat di bawahnya, menurut tutur sesepuh dan catatan kedua kakeknya, terkubur makam tanpa nisan Raden Ayu Wulansari. Di tengah lingkaran itu, di kursi ukir, Bara duduk dengan tubuh gemetar menahan entitas yang berontak di dalam dirinya, matanya berganti-ganti antara cokelat dan hitam seperti dua orang bertukar tempat di balik satu wajah.
"Ritual pengikatan menuntut saksi," kata Ratri, mengingat kata-kata Mbah Joyo. "Bukan saksi sembarang. Tujuh nama. Tujuh tumbal yang dulu diberikan dan dilupakan. Begitu tengah malam tepat tiba—sebentar lagi, tinggal hitungan menit—kita menyebut mereka, mengembalikan nama mereka, supaya darah yang dulu dibayar berdiri sebagai saksi yang mengikat. Tapi belum detik ini. Daun-daun ini hanya boleh dinyalakan tepat di puncak malam Sura, sekaligus, atau ikatannya pecah."
Ia menoleh ke keluarganya. Ibu, dengan wajah basah dan tubuh gemetar. Pakdhe Hartono, dengan rahang mengeras. Bibi Sukma, yang akhirnya berani datang sejauh ini meski seumur hidup lumpuh oleh takut. Dan para sesepuh desa—kakek warung kopi yang bertelanjang dada, Pak Karto yang renta—berdiri di belakang dengan obor di tangan.
Satu per satu Ratri menata ketujuh daun di tepi lingkaran dalam, di titik tempat masing-masing nama akan disebut nanti. Daun pertama untuk tumbal yang paling tua—anak sulung Kakek Sastrawijaya, tumbal sebelum semua tumbal, yang dibayar di malam Kakek pulang dari Gandasuli membawa sekarung emas. Daun kedua untuk Sarni, istri Kakek. Daun ketiga untuk Danu. Daun keempat dan kelima untuk Paklik Wira dan Mbah Putri. Daun keenam dan ketujuh untuk dua kerabat lama yang hilang lintas tahun, yang hanya Pak Karto masih ingat namanya. Ratri menyebut tiap nama dalam hati saat meletakkan daunnya, tapi tak satu pun ia ucapkan keras—belum, belum waktunya.
Tujuh daun, tersusun dan menunggu. Tujuh nama, tertahan di ujung lidahnya. Belum dipanggil.
Di tengah lingkaran, entitas dalam tubuh Bara menggeram, seakan merasakan apa yang sedang disiapkan untuknya. Akar-akar hitam mulai menggeliat resah di sekitar saka guru, memancing, menggertak.
"Dia tahu," bisik Pak Karto. "Dia mulai keluar. Tahan dia di permukaan, Nduk—jangan biarkan ia menyelam kembali ke dasar kakakmu sebelum tengah malam tepat. Cuma sebentar lagi. Tapi jangan sentuh garis luar dulu. Jangan tutup apa pun. Kalau kau kurung dia terlalu cepat, sebelum jamnya, dia cuma akan mengakar lebih dalam ke kakakmu."
Ratri mengangguk. Ia meletakkan keris hitam yang sudah dimurnikan di tanah merah, di samping makam tak bernisan—belum menancapkannya, hanya menyiapkannya. Lalu ia menatap kakaknya, dan ia tahu masih ada satu hal yang harus dihadapi dalam menit-menit terakhir sebelum tengah malam datang: harga sebenarnya dari ikatan yang akan ia rapal nanti.