"Bukan di sini," kata Ratri pelan kepada keluarganya, mundur selangkah dari pendapa, matanya tak lepas dari sosok di kursi. "Ritualnya tidak boleh di sini. Ini sarangnya. Di sini dia paling kuat."
Kakek warung mengangguk samar. "Makam tanpa nisan. Sang demang yang asli. Mbah Joyo bilang di situ kuasanya berpusat—tapi juga di situ dia paling rentan, sebab di situ tertanam tubuh manusianya yang dulu. Tempat itu menahannya ke dunia, sekaligus jadi tali yang bisa mengikatnya." Ia menatap ke samping joglo, ke arah tepi lapangan tempat pepohonan paling rapat. "Mbah Joyo dulu menyebut letaknya: di tepi Gandasuli, di bawah pohon yang tumbang menyilang, tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya tapi tak pernah ditumbuhi apa pun."
Sosok di kursi tertawa lagi, tapi tawanya kini ada nada yang berbeda—lebih tipis, lebih waspada. "Kalian bicara tentang makam," kata Mbah Demang lewat mulut Bara. "Makam siapa? Aku tak punya makam. Aku lahir dari perjanjian, bukan dari rahim."
"Bohong," kata Ratri, dan ia melihat reaksi—kepala Bara tersentak, leher berderak. Kata itu menusuk. "Kau bukan lahir dari perjanjian. Kau yang membuat perjanjian pertama. Dulu kau manusia. Seorang demang. Dan kau dikubur di hutan ini tanpa nisan, supaya namamu hilang, supaya tak ada yang bisa memanggilmu kembali." Ratri melangkah mundur lagi, menjauh dari pendapa, menarik keluarganya bersamanya. "Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu di mana tubuhmu yang lama membusuk."
Untuk pertama kalinya, sosok di kursi itu berdiri. Tubuh Bara bangkit dengan gerakan yang salah—terlalu kaku, terlalu serentak, seperti boneka yang ditarik tali dari atas. "Kau tidak tahu apa-apa," desis suara banyak itu, dan kali ini ada kemarahan murni di dalamnya, dan sesuatu yang Ratri belum pernah dengar sebelumnya dari Mbah Demang: ketakutan. "Kau hanya gadis yang sombong, membawa nama yang kau pikir kau pahami—"
"Kalau aku tidak tahu apa-apa," potong Ratri, "kenapa kau berdiri? Kenapa kau tak duduk tenang di singgasanamu dan membiarkan kami pergi mencari makam yang kau bilang tak ada?" Ia mengangkat dagunya. "Karena kau tahu kalau aku sampai ke makam itu, dengan keris yang sudah kumurnikan, dengan tujuh daun, dengan nama aslimu di lidahku—kau habis. Itu sebabnya kau panik. Itu sebabnya kau menarik kakakku ke sini lebih cepat, supaya kami tak sempat ke makam. Tapi kau salah hitung." Ia menatap dua lubang hitam itu. "Kau bawa kami justru ke pekarangan rumahmu. Dan makammu, ternyata, hanya beberapa langkah dari pintunya."
Hening. Hutan menahan napas. Lampu minyak yang tak berapi itu bergetar.
Lalu sesuatu di dalam tubuh Bara bergulat. Kepala kakaknya tersentak ke samping, lalu ke depan, dan untuk sesaat dua suara berperang di satu tenggorokan—suara banyak Mbah Demang yang menggeram, dan di bawahnya, susah payah, suara Bara sendiri, parau dan terputus: "Ratri—di sana—pohon tumbang—dia tidak mau kalian—ke sana—pergi, sebelum dia—" lalu tercekik, lalu hitam menelannya, dan tubuh Bara mengejang.
Tapi itu cukup. Bara, dari dalam, menahannya cukup lama untuk menunjuk arah. Dan ketika Ratri menoleh ke tepi lapangan tempat pepohonan paling rapat, ia melihatnya—pohon besar yang tumbang menyilang, dan di baliknya, gundukan tanah yang lebih tinggi, gundul, tak ditumbuhi apa pun meski seluruh hutan di sekelilingnya lebat. Tanah yang menolak kehidupan. Makam tanpa nisan.
"Ke sana," kata Ratri kepada keluarganya, dan ia mulai bergerak, menyeret langkah menjauh dari pendapa, menuju gundukan gundul itu.
Sosok di kursi itu meraung—raungan ratusan suara yang menggetarkan daun-daun—dan tubuh Bara melangkah turun dari pendapa, mengejar, tapi tersendat, tersentak, seakan tertahan. Bara, dari dalam, melawan setiap langkah, memperlambat kaki yang bukan lagi miliknya.
"Cepat," teriak kakek warung, sudah berlari ke arah makam, obor menyala di tangannya. "Dia menahan dirinya untuk kita! Bara menahan dirinya sendiri! Jangan sia-siakan!"
Ratri berlari ke gundukan gundul itu, jatuh berlutut di tanah yang dingin dan mati, dan menarik keris dari pinggangnya—keris hitam yang sudah dimurnikan oleh air tujuh sumber. Di sekelilingnya, Pakdhe, Ibu, Bibi Sukma, dan para sesepuh membentuk lingkaran, mulai menaburkan bubuk, menyusun tujuh daun, sementara di belakang mereka tubuh Bara mendekat selangkah demi selangkah, bergulat dengan dirinya sendiri, dua suara di satu mulut, mata berkedip antara hitam dan cokelat.
Ratri menancapkan keris ke tanah makam, menarik napas yang gemetar, dan untuk pertama kalinya membiarkan nama itu—nama asli yang ia gali dari makam tua dan tutur sesepuh, nama yang tak pernah berani ia ucapkan—naik ke ujung lidahnya. Di sinilah semuanya akan diputuskan. Bukan di pendapa. Di bawah tanah tempat seorang manusia, ratusan tahun lalu, menjual keluarganya demi kuasa dan terjebak abadi karenanya.
"Bertahan, Mas," bisik Ratri, air mata jatuh ke tanah gundul itu. "Tahan dia sebentar lagi. Aku datang."