Hutan terbuka ke lapangan, dan Ratri berhenti, napasnya tertahan.
Joglo lama itu berdiri utuh.
Dulu—dua kali ia ke sini—bangunan itu reruntuhan. Atap roboh, kayu menghitam dan lapuk, saka guru timur patah menumbuk lantai. Tapi yang berdiri di tengah lapangan sekarang adalah joglo yang utuh, kokoh, megah dengan cara yang salah. Kayunya hitam mengilap seperti basah, tapi bukan basah air—basah seperti sesuatu yang hidup. Atapnya melengkung sempurna. Dan saka guru—keempat tiangnya—berdiri tegak, termasuk yang timur, yang dulu patah; tiang itu kini tumbuh kembali, tapi bukan kayu jati biasa. Permukaannya beralur seperti urat, hitam, dan dari pangkalnya, akar-akar hitam menjalar keluar ke tanah dan masuk kembali, seakan tiang itu menanam dirinya sendiri ke dalam bumi.
"Akar hitam," gumam kakek warung. "Yang dulu kalian temukan menjalar ke rumah. Selama ini dia memperbaiki sarangnya. Menumbuhkan kembali joglo dari abu perjanjian. Inang memberinya tenaga; dia memberi inang rumah baru." Ia meludahkan sirih. "Ini bukan kayu. Ini tubuhnya. Joglo ini adalah dia."
Di pendapa joglo itu, di bawah cahaya satu lampu minyak yang tak menyala oleh api, duduk seseorang di kursi ukir.
Bara.
Ia duduk tegak, tangan di kedua sandaran kursi, kepala sedikit menunduk. Pakaiannya berlumur tanah merah, kakinya telanjang dan berlumpur, rambutnya basah keringat. Untuk satu detik penuh harapan, Ratri hampir berlari ke arahnya.
Lalu Bara mengangkat kepalanya, dan harapan itu membeku jadi es.
Matanya hitam. Dua lubang penuh, tanpa pantulan, tanpa putih, tanpa cokelat. Bibirnya melengkung dalam senyum yang bukan senyum Bara—terlalu lebar, terlalu banyak gigi—dan ketika ia bicara, suaranya keluar bertumpuk-tumpuk, suara Bara di bawah, dan di atasnya suara tua-muda banyak-suara yang sudah terlalu dikenal Ratri.
"Akhirnya datang juga." Mbah Demang, dalam tubuh Bara, memiringkan kepala—miring tak wajar, leher Bara berderak. "Aku menunggu di rumahku yang baru. Kau suka? Aku bangun kembali dari abu yang kalian kira sudah memusnahkanku. Itu lucu, sungguh. Cucu pengecut itu membakar perjanjian, mengira menang, dan justru memberiku tubuh berjalan dan tenaga untuk tumbuh lebih kuat dari sebelumnya." Tangan Bara—tangan kakaknya—membelai sandaran kursi ukir, lembut, posesif. "Tubuh ini nyaman. Hangat. Dan ia mencintaimu begitu dalam, Ratri, sampai cinta itu sendiri jadi rantai yang mengikatnya padaku. Tiap kali ia berjuang keluar demi dirimu, ia kelelahan. Tiap kali ia kalah, ia makin tenggelam. Kalian, manusia, dan cinta kalian yang melelahkan."
Ratri memaksa kakinya tetap di tempat. Ia tahu jika ia melangkah maju dengan emosi, ia kalah. *Percaya nama, bukan wajah.* Ia mencengkeram keris di pinggangnya.
"Lepaskan dia," kata Ratri, suaranya rata meski dadanya remuk. "Kakakku. Lepaskan."
Sosok di kursi itu tertawa—tawa Bara yang dipelintir jadi sesuatu yang mengerikan. "Lepaskan? Dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela, Anak. Kau lupa? Di tempat ini juga, setahun lalu. Kerelaan adalah ikatan paling kuat yang ada. Dia memberikan dirinya dengan mata terbuka, dan tak ada api, tak ada bubuk, tak ada dukun renta yang bisa membatalkan apa yang diberikan dengan rela." Mata hitam itu menyapu barisan di belakang Ratri—Ibu yang gemetar, Pakdhe yang mencengkeram parang, Bibi Sukma, para sesepuh. "Pulanglah. Kalian sudah kalah sebelum melangkah masuk. Joglo ini tubuhku, hutan ini wilayahku, dan inang ini sudah hampir sepenuhnya jadi milikku. Beberapa jam lagi, ketika malam Sura tiba, tak akan ada lagi Bara yang tersisa untuk diselamatkan."
Ratri merasakan kebenaran dingin dalam kata-kata itu. Inilah yang ditakutkan kakek warung: mereka datang di siang, belum siap, dan entitas sudah hampir menang. Tapi—siang. Ratri mengangkat wajah. Di luar joglo hitam itu, di balik kabut, masih ada cahaya pucat. Masih siang. Dan di siang, kakek warung bilang, ia paling lemah, paling enggan keluar dari inangnya.
Ia tak boleh menjalankan ritual di sini. Bukan di pendapa joglo, jantung kekuatan Mbah Demang, di mana entitas menyatu dengan inang dan bangunan dan tanah. Ratri memutar ingatannya ke ajaran terakhir Mbah Joyo. Pengikatan-nama harus dilakukan di tempat di mana sang demang asli—manusia di balik Mbah Demang—dikuburkan. Makam tanpa nisan. Di situlah kuasanya berpusat, dan di situlah ia paling rentan terpisah dari segala yang ia genggam.
Bukan di sini. Di sana.
"Kalau kau begitu yakin menang," kata Ratri perlahan, menatap dua lubang hitam itu lurus-lurus, "kenapa kau menutup jalan pulang kami? Kenapa kau memutar hutan? Kenapa kau memakai wajah orang-orang mati untuk membuat kami berbalik?" Ia mengeraskan suaranya. "Karena kau takut. Aku membawa sesuatu yang kau tak mau aku bawa ke makammu. Dan kau tahu itu."
Senyum di wajah Bara goyah, sekejap. Dan di celah goyah itu, untuk satu pecahan detik, mata hitam itu berkedip menjadi cokelat—mata Bara—dan bibirnya membentuk satu kata tanpa suara, susah payah, ditarik dari kedalaman: *makam.* Lalu hitam menelannya kembali.
Ratri mendapatkan jawabannya. Kakaknya masih di sana. Dan kakaknya menunjukkan jalan.