Joglo lama itu tumbuh utuh kembali di atas gundukan gundul di tepi lapangan itu, dipulihkan oleh akar-akar hitam yang menjalar dari bawah saka guru baru—tiang yang menembus naik tepat dari makam tak bernisan—dan di pendapanya, di kursi ukir yang dulu lapuk dan kini mengilap seperti baru, duduk Bara—tapi bukan Bara.
Ratri berdiri di tepi garis bubuk yang sudah ia susun bersama para sesepuh dan ibunya, napasnya berat di udara yang lembap dan dingin. Di tangannya tergenggam selembar kertas yang sudah ia hafal sampai ke titik komanya, hasil dari berbulan-bulan menelusuri makam tua, tutur orang-orang renta, dan catatan kedua kakeknya. Sebuah nama. Nama manusia yang dulu menjadi Mbah Demang, sebelum ia menjadi penunggu, sebelum ia menjadi perjanjian itu sendiri.
"Aku tahu siapa kau," kata Ratri, dan suaranya tidak segagah yang ia harapkan. "Aku tahu siapa kau sebelum kau menjadi ini."
Sosok di kursi ukir itu memiringkan kepala. Wajah Bara—wajah kakaknya—tersenyum dengan cara yang tak pernah dilakukan Bara, terlalu lebar, terlalu banyak gigi di balik bibir yang familier itu. "Anak kecil bermain dengan kata-kata," kata suara itu, suara banyak-suara yang keluar dari tenggorokan kakaknya. "Nama hanya angin. Sudah ratusan tahun tak ada yang menyebutnya. Sudah ratusan tahun ia padam."
"Maka aku akan menyalakannya lagi," kata Ratri.
Ia mengangkat kertas itu, tapi tidak membacanya—ia sudah hafal. Ia menatap mata kakaknya, mata yang perlahan menghitam dari pinggirnya, tinta yang merembes menutupi putih dan cokelat sampai tak ada yang tersisa selain dua lubang gelap. Tangan Ratri gemetar. Mbah Joyo pernah memperingatkannya: menyebut nama asli bukan mantra ajaib yang langsung mengikat. Ia adalah pengait. Ia menarik yang manusiawi keluar dari yang gaib, memisahkan untuk sesaat si manusia tua dari perjanjian yang membungkusnya. Dan dalam pemisahan itu—hanya dalam sesaat itu—ada celah.
"Raden Ayu Wulansari," ucap Ratri.
Hutan terdiam.
Bukan kesunyian biasa. Jangkrik berhenti. Angin berhenti. Bahkan akar-akar hitam yang menjalar di lantai pendapa seakan membeku di tengah geliatnya. Dan di kursi ukir itu, tubuh Bara menegang seperti disambar.
"Raden Ayu Wulansari," ulang Ratri, lebih keras, suaranya pecah tapi tidak berhenti. "Itu namamu. Sebelum kau menjual mereka. Sebelum kau menjadi ini. Aku memanggilmu dengan namamu, dan kau harus mendengarnya."
Sesuatu yang mengerikan terjadi pada wajah kakaknya. Ia berkerut, lalu meregang, seperti dua kekuatan menarik kulit yang sama ke arah berlawanan. Dari mulut Bara keluar dua suara yang bertabrakan: yang satu suara banyak-suara yang mengaum marah, yang satu lagi—samar, jauh, seperti dari dasar sumur—suara perempuan yang lirih dan tua dan letih.
"Jangan," desis suara banyak-suara itu. "Jangan ucapkan lagi."
Tapi Ratri sudah melihatnya. Untuk sekejap, di balik wajah kakaknya, di balik tinta hitam yang menelan matanya, ada bayangan lain—wajah seorang perempuan ningrat berkebaya, rambut disanggul tinggi, kulit pucat seperti malam tanpa bulan. Wajah yang tersiksa. Wajah yang menderita selama ratusan tahun tanpa pernah bisa mati.
"Aku menyebutmu sekali lagi," kata Ratri, air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari, "dan kau akan menampakkan dirimu. Yang sebenarnya. Bukan topeng nenek dan gadis. Bukan suara banyak. Kau. Wulansari."
Tubuh Bara terhenyak ke belakang di kursi itu, kejang. Mulutnya menganga, dan dari dalamnya keluar jeritan yang membelah dua—satu bagian mengaum dengan ribuan suara, satu bagian menangis dengan satu suara perempuan yang sudah terlalu lama terkubur. Akar-akar hitam di lantai menggeliat liar, memukul-mukul tanah. Para sesepuh di belakang Ratri mundur ketakutan, dan ibunya menjerit pelan, menutup mulut dengan tangan.
Lalu, perlahan, sesuatu yang pucat mulai terpisah dari tubuh kakaknya—seperti uap, seperti bayangan yang ditarik keluar dari daging. Wujud seorang perempuan ningrat, samar dan bergetar, terangkat dari kursi ukir dan berdiri di tengah pendapa, terpisah dari Bara untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Tubuh Bara terkulai di kursi, pingsan, tapi—Ratri melihatnya dengan jantung yang nyaris berhenti—masih bernapas. Masih hidup.
Dan di tengah pendapa, wujud yang dulu menyebut dirinya Mbah Demang menatap Ratri dengan mata yang, untuk pertama kalinya, bukan dua lubang hitam, melainkan mata manusia yang penuh dengan kepedihan yang lebih tua dari desa ini sendiri.
"Bocah," bisik perempuan itu, dan suaranya kini hanya satu suara—suara yang lelah, suara yang patah. "Kau tidak tahu apa yang kau bangunkan."