Pagi setelah penampakan itu, Bara tahu ia tidak bisa lagi pura-pura ragu.
Tapi sebelum ia memutuskan apa pun, ia harus tahu satu hal: apakah cara di buku itu benar-benar bekerja, atau hanya tipuan terakhir orang mati. Dan satu-satunya orang yang mungkin tahu adalah dukun tua di Gunungkidul yang disebut kakeknya.
Ia berangkat pagi-pagi, naik bus tua menyusuri jalan berliku ke pegunungan kapur. Berbekal nama dan deskripsi samar dari buku harian, ia bertanya dari desa ke desa, sampai akhirnya seorang penjual bensin eceran menunjuk ke sebuah rumah kecil di lereng bukit gersang.
Dukun itu—Mbah Joyo namanya—ternyata jauh lebih tua dari bayangan Bara, hampir seperti tubuh yang dipertahankan hidup hanya oleh kemauan. Tapi matanya jernih, dan ketika Bara menyebut nama kakeknya, mata itu menyipit dengan pengenalan yang pahit.
"Sastrawijaya," gumamnya. "Sudah mati, ya? Akhirnya." Ia menghela napas panjang. "Aku menasihatinya dulu. Kuberitahu dia cara memutus ikatannya. Dan dia memilih menjual nyawa anak cucunya alih-alih nyawanya sendiri. Pengecut sampai mati." Ia menatap Bara lekat. "Dan sekarang kau di sini. Berarti rantai itu sudah turun ke generasimu. Dan kau—berani atau bodoh—datang mencariku."
"Apa caranya benar?" tanya Bara langsung. "Membakar perjanjian dengan api keris, menyerahkan diri dengan sukarela—itu benar memutusnya?"
Mbah Joyo mengangguk lambat. "Benar. Tapi kakekmu tidak menuliskan semuanya, karena dia sendiri tidak pernah berani sampai ke sana." Ia mencondongkan tubuh. "Dengarkan baik-baik, Nak, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Perjanjian pesugihan macam ini bekerja seperti utang darah. Mbah Demang bukan iblis biasa—ia *dhanyang*, penunggu tempat, yang tubuhnya adalah perjanjian itu sendiri. Selama lembar perjanjian masih ada, ia punya hak atas garis keturunan pembuatnya. Membakarnya memutus hak itu. Tapi—" ia mengangkat satu jari bengkok, "—api saja tidak cukup. Yang membakar harus menawarkan sesuatu yang lebih ia inginkan daripada tumbal tahunan. Dan satu-satunya yang lebih ia inginkan adalah kerelaan. Sebab selama ini, semua tumbal diberikan dengan paksa, dengan rasa takut. Korban yang berontak rasanya hambar baginya. Tapi korban yang datang dengan sukarela, dengan mata terbuka, mengetahui sepenuhnya apa yang ia serahkan—itu hidangan yang seratus tahun ia dambakan. Dan dalam kerakusannya menerima hidangan itu, ia menyerahkan haknya atas yang lain."
"Jadi siapa pun yang menyerahkan diri akan benar-benar mati," kata Bara pelan.
Mbah Joyo menatapnya dengan iba. "Tidak harus, Nak. Itu yang tidak ditulis kakekmu, sebab ia tidak peduli mencari tahu." Ia mengambil sesuatu dari balik bajunya—sebungkus kain berisi bubuk dan tujuh helai daun kering. "Ada celah. Kerelaan harus tulus sampai ke saat api menyentuh lembar perjanjian. Tapi di detik perjanjian terbakar habis, ikatan dhanyang putus, dan kuasanya atas tempat itu melemah sesaat. Di detik itu—hanya di detik itu—orang yang menawarkan diri masih bisa lolos, kalau ada yang menariknya keluar dari lingkaran perjanjian sebelum tengah malam lewat. Tapi celah itu sangat sempit. Dan butuh dua orang: satu yang berani menyerahkan diri dengan tulus, dan satu lagi yang berani masuk ke tempat terkutuk itu untuk menariknya keluar. Keduanya harus saling percaya sepenuhnya. Satu saja ragu, dua-duanya mati."
Bara menggenggam bungkusan itu. "Daun-daun ini untuk apa?"
"Penanda batas. Taburkan bubuknya, susun daunnya, ia menandai garis perjanjian di lantai joglo lama. Di luar garis itu, kuasa Mbah Demang lebih lemah. Penolongmu harus berdiri di luar garis, dan menarik si pemberi diri keluar melewatinya tepat saat perjanjian terbakar." Mbah Joyo menggenggam tangan Bara dengan kedua tangannya yang dingin. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Nak. Kau berpikir menyerahkan dirimu sendiri. Itu mulia. Tapi kau butuh penolong yang kau percayai dengan nyawamu—dan yang mempercayaimu dengan nyawanya. Tanpa itu, kau cuma menambah satu nama di daftar yang hilang."
Dalam perjalanan pulang, di dalam bus yang berguncang, Bara memikirkan setiap anggota keluarganya. Pakdhe Hartono yang sudah patah. Bibi Sukma yang lumpuh oleh takut. Ibunya, yang akan mati di tempat itu sebelum membiarkan Bara masuk lingkaran. Tak satu pun dari mereka, ia sadari dengan getir, yang bisa ia percaya untuk menariknya keluar tanpa ragu di detik terakhir.
Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tak menghubunginya. *Ratri.* Adik perempuannya, yang sejak lama bertengkar dengan keluarga dan pindah ke kota lain. Pesannya singkat: *Mas, aku dengar dari Ibu kamu pulang. Aku juga pulang besok. Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi ini sendirian.*
Bara menatap layar itu lama sekali. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjak desa ini lagi, ada sesuatu yang menyerupai harapan menyala kecil di dalam dadanya.