Sebelum mereka mencapai cahaya itu, hutan menunjukkan kepada mereka apa yang ia ingat.
Kabut di sisi kiri jalan menipis, dan dalam celahnya, Ratri melihat mereka.
Bukan satu atau dua. Puluhan. Ratusan. Berbaris di antara batang-batang pohon, sejauh mata memandang, menghilang ke dalam kabut yang dalam. Sosok-sosok pucat, samar, sebagian berpakaian zaman ini, sebagian berkemben dan berkebaya dari masa yang jauh lebih tua, sebagian lagi—yang paling jauh, yang paling samar—mengenakan pakaian yang Ratri tak kenal sama sekali, pakaian dari abad yang telah lama berlalu.
Tumbal. Semua tumbal. Bukan hanya dari keluarga Sastrawijaya tiga generasi. Tapi lebih jauh ke belakang, jauh lebih jauh, ke perjanjian-perjanjian yang lebih tua, yang diperbarui dan diperbarui lintas zaman.
"Astaga," bisik Ibu, tangannya menutup mulut. "Berapa banyak..."
Tapi sosok-sosok ini berbeda dari yang dulu Ratri lihat di perjalanan pertama. Dulu, arwah keluarganya berdiri diam dengan tatapan penuh harap—menanti dibebaskan. Sekarang, sosok-sosok ini bergerak. Mereka mengangkat tangan. Bukan memanggil. Menahan. Telapak terbuka ke arah barisan Ratri, gerakan yang sama dilakukan ratusan sosok serempak: *berhenti. Jangan maju. Pergi.*
"Mereka memperingatkan kita," kata kakek warung, berhenti melangkah. Suaranya gemetar. "Mereka tidak menahan kita untuk mencelakai kita. Mereka menahan kita karena... karena mereka tahu apa yang menunggu di depan. Mereka sudah pernah ke sana semua. Dan tak satu pun pulang."
Salah satu sosok melangkah maju dari barisan—seorang perempuan tua berkemben lusuh, wajahnya nyaris terhapus oleh waktu—dan ketika ia membuka mulut, suaranya datang bukan dari kabut tapi seakan dari dalam kepala Ratri sendiri, kering seperti daun tua:
*"Kami semua datang dengan harapan. Sebagian dipaksa. Sebagian, seperti kau, datang dengan cinta, untuk menyelamatkan seseorang. Cinta tidak cukup, Anak. Cinta tidak pernah cukup di tempat ini. Pulanglah selagi bisa. Relakan yang sudah jadi miliknya. Itu lebih baik daripada menambah dua nama lagi—milikmu, dan milik orang yang ingin kau selamatkan."*
Ratri merasakan dingin menjalar. Suara itu bukan godaan seperti Mbah Demang—tidak ada kebusukan di dalamnya, tidak ada madu palsu. Ini peringatan tulus, dari mereka yang sudah membayar dan gagal. Dan justru karena tulus, ia jauh lebih menakutkan.
"Apa kalian," tanya Ratri, suaranya gemetar, "tak ada satu pun yang berhasil? Tak ada satu pun cara?"
Sosok perempuan tua itu menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia menggeleng—dan dalam gelengan itu, ada sesuatu yang lain. Bukan keputusasaan total. Sesuatu seperti... pertimbangan. Seakan jawabannya bukan tidak, melainkan *belum.*
*"Tak ada yang berhasil dengan membakar,"* katanya. *"Tak ada yang berhasil dengan menukar. Tak ada yang berhasil dengan lari."* Jeda panjang, dan tatapan kosongnya seakan menembus Ratri, menimbang. *"Tapi tak satu pun dari kami pernah mencoba mengikat namanya. Tak satu pun dari kami pernah tahu nama itu. Kau... kau membawa nama itu. Mungkin itu sebabnya dia begitu takut padamu. Mungkin itu sebabnya dia menutup jalan, memutar hutan, memakai wajah-wajah kami. Dia tidak pernah takut pada yang lain. Dia takut padamu."*
Sosok itu mengangkat tangan sekali lagi—tapi kali ini bukan menahan. Ia menunjuk. Ke depan. Ke arah cahaya minyak yang berkelip di kejauhan.
*"Kalau kau tetap maju—dan aku tahu kau akan maju, sebab matamu sama seperti mata kami dulu—maka ingat ini: dia paling kuat memakai cinta sebagai senjata. Dia akan menunjukkan padamu orang yang kau sayang. Dia sudah memakainya. Jangan percaya wajah. Percaya nama. Hanya nama yang tak bisa ia palsukan."*
Lalu, satu per satu, ratusan sosok itu menundukkan kepala—bukan lenyap, tapi menyingkir, membuka jalan—dan barisan tumbal yang tadinya menahan kini berdiri di kedua sisi jalan setapak seperti pengantar duka, menatap Ratri dan keluarganya melangkah lewat di antara mereka, menuju jantung hutan, menuju joglo yang menanti.
Ratri menggenggam keris erat-erat. Hanya nama yang tak bisa ia palsukan. Ia mengulang kalimat itu dalam hati seperti doa, dan terus melangkah.