Mereka memasuki hutan dalam barisan, mengikuti jejak lumpur merah, dengan matahari pagi yang seharusnya menghangatkan tapi tertahan oleh kabut yang menebal seiring tiap langkah.
Ratri di depan, keris terbungkus di pinggang, mata terpaku pada jejak kaki telanjang Bara. Di belakangnya Pakdhe Hartono dengan parang, lalu Ibu dan Bibi Sukma berpegangan tangan, lalu kakek warung dan dua sesepuh desa membawa obor yang menyala meski hari sudah terang—sebab di dalam Gandasuli, terang siang tak pernah benar-benar masuk.
Hutan ini sudah pernah Ratri masuki, dua kali. Tapi kali ini berbeda. Dulu hutan terasa mati—sunyi, kosong, menahan napas. Sekarang hutan terasa hidup, dan itu lebih buruk. Pepohonan seakan bergerak di sudut mata. Akar menjalar di tanah dengan pola yang salah, hitam, berdenyut pelan seperti urat. Dan suara—kali ini ada suara. Bukan serangga. Senandung, dari segala arah, tumpang tindih, tembang yang sama dilantunkan oleh ratusan mulut tak terlihat.
"Jangan dengarkan," kata Ratri keras, lebih untuk dirinya sendiri. "Jangan menoleh. Ikuti jejak."
Jejak lumpur merah itu menuntun mereka lebih dalam, melewati tempat-tempat yang Ratri kenali dari perjalanan sebelumnya—pohon tumbang yang melintang seperti gerbang, batu besar berlumut—tapi semua terasa bergeser, seakan hutan menata ulang dirinya. Dua kali mereka melewati pohon tumbang yang sama, padahal terus berjalan lurus. Kakek warung menggumamkan doa dan menaburkan sejumput bubuk di tiap persimpangan, menandai jalan agar mereka tak tersesat dalam putaran yang sama.
"Dia memutar jalan," kata lelaki tua itu. "Memperlambat kita. Berharap kita menyerah, atau terpisah. Tetap rapat. Tetap satu barisan."
Mereka tetap rapat. Tapi hutan menguji satu per satu.
Bibi Sukma mendengar suara Danu—keponakannya—memanggil dari balik semak, memohon tolong, dan ia hampir melepaskan tangan Bibi untuk mengejarnya, sampai Ibu mencengkeram lengannya dan berbisik, "Danu sudah bebas, Sukma. Sudah tenang. Itu bukan Danu. Itu dia, memakai suaranya." Bibi Sukma menangis tapi tetap di barisan.
Pakdhe Hartono melihat, di kejauhan di antara kabut, sosok yang ia kenal sebagai anaknya—Danu, berdiri menatapnya dengan mata penuh harap—dan langkahnya tergoyah, parangnya turun. Tapi ia memejamkan mata, mengingat malam ia merelakan putranya benar-benar pergi, dan ketika ia membuka mata kembali, ia memaksa diri menatap lurus ke depan, tak menoleh ke sosok itu. "Kamu sudah pergi, Nak," gumamnya parau. "Beristirahatlah. Aku punya yang lain untuk diselamatkan sekarang."
Dan Ratri—Ratri mendengar suara Bara, jelas, dari depan, memanggil, "Ratri! Di sini! Cepat, dia melemah, aku bisa keluar, cepat tarik aku!" Suara itu begitu mirip, begitu memohon, sampai kakinya hampir berlari ke arahnya, meninggalkan barisan. Tapi ia berhenti. Ia ingat mimpi palsu, ingat detail kecil yang salah. Bara tak pernah memintanya menariknya keluar lagi; Bara justru memintanya tidak. Suara yang memanggilnya keluar dari barisan ini bukan kakaknya.
"Bohong," kata Ratri lantang, ke arah kabut. "Mas Bara menyuruhku tidak menariknya keluar. Kamu yang menyuruhku. Aku tahu bedanya sekarang."
Senandung di sekeliling mereka meninggi—marah—lalu sesuatu berubah. Kabut di belakang barisan mereka menebal menjadi tembok pekat, menutup jalan yang sudah mereka lewati. Mereka tak bisa mundur lagi. Hanya ada satu arah: ke depan, ke dalam, mengikuti jejak merah yang menuntun ke jantung hutan tempat semuanya bermula.
"Dia menutup jalan pulang," kata kakek warung, suaranya tenang meski wajahnya pucat. "Itu artinya kita dekat. Dia tak akan repot menutup jalan kalau dia tak takut kita berhasil keluar membawa sesuatu yang dia tak mau kita bawa." Ia menatap Ratri. "Teruskan, Nduk. Sebelum kita habis kehilangan satu sama lain di kabut ini."
Ratri menggenggam keris di pinggangnya, menarik napas dalam, dan memimpin barisan lebih jauh ke dalam Gandasuli yang kini benar-benar hidup, ke arah cahaya redup yang mulai tampak di kejauhan—cahaya minyak, dari sebuah pendapa yang seharusnya sudah runtuh bertahun-tahun lalu.