Mereka berencana menjalankan ritual besok malam, tepat di puncak malam Selasa Kliwon bulan Sura. Mereka tidak memperhitungkan bahwa Mbah Demang punya rencananya sendiri.
Ratri terbangun menjelang subuh karena keheningan yang salah.
Ia tidur di kursi depan kamar Bara, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi pagi itu tak ada senandung. Tak ada napas berat dari balik garis. Tak ada apa pun. Ratri membuka mata, jantungnya langsung berdebar, dan ketika ia menyalakan lampu dan melihat ke dalam kamar, garis bubuk di lantai tercoreng—diseret keluar dari dalam, oleh kaki yang melangkahi, dan kamar itu kosong.
"Mas?" Ratri berdiri. "MAS BARA!"
Ia membangunkan seisi rumah. Mereka menyisir joglo, pekarangan, gudang belakang. Tak ada. Pintu depan masih terkunci dari dalam, semua jendela tertutup—sama persis seperti malam Danu hilang setahun lalu, sama persis seperti yang selalu terjadi. Tapi kali ini Ratri tahu ke mana Bara pergi, karena ia melihat jejaknya: jejak kaki telanjang, berlumur tanah merah, mengarah dari pintu samping pekarangan—melewati garis bubuk pertahanan yang sudah dicoreng dari dalam—menuju ladang, menuju kabut, menuju Gandasuli.
"Dia menariknya pulang," kata kakek warung, wajahnya kelabu di cahaya subuh. Ia berdiri di garis yang rusak, menatap jejak lumpur merah yang menghilang ke arah hutan. "Inang selalu ditarik pulang ke sumber pada akhirnya. Dia tahu kita berencana untuk malam ini. Jadi dia mendahului. Dia menarik Bara ke Gandasuli sebelum kita siap, supaya ritual kita berantakan, supaya kita mengejar dalam panik alih-alih datang dengan persiapan."
Ratri menatap kabut yang menggantung di ladang, kabut yang seharusnya tak ada di pagi hari, dan ia merasakan tekadnya berperang dengan kepanikan. Semua rencana mereka—menggariskan joglo lama dengan tenang, memancing entitas ke makam tanpa nisan, menjalankan ritual di waktu dan tempat yang mereka pilih—semua itu mengandalkan mereka yang memegang kendali. Sekarang Mbah Demang yang memegang kendali. Ia memindahkan papan permainan ke kandangnya sendiri.
"Kita harus mengejar," kata Pakdhe Hartono, sudah menyandang tas berisi keris, tanah merah, dan kendi air sisa.
"Kita belum siap," kata Ibu, suaranya gemetar. "Ritualnya seharusnya malam ini. Sekarang baru subuh. Kalau kita masuk hutan sekarang—"
"Kalau kita tunggu malam," potong Ratri, "Bara sudah sepenuhnya jadi dia. Tiga belas jam di Gandasuli, di sumber kekuatannya, di hari malam Sura—Bara tidak akan tersisa." Ia mengikat rambutnya, mengambil keris yang sudah dimurnikan, tujuh daun, bungkus bubuk terakhir. Tangannya gemetar tapi suaranya tidak. "Mbah Demang mengubah rencana untuk membuat kita panik. Kalau kita panik, kita mati. Kalau kita kejar dengan kepala dingin—kita masih punya kesempatan. Bara butuh kita datang. Bukan besok malam. Sekarang."
Ia menatap kakek warung. "Mbah, ritualnya—bisa dijalankan di siang, kalau terpaksa?"
Lelaki tua itu mengunyah sirih, berpikir keras. "Pengikatan-nama paling kuat di tengah malam Sura. Tapi siang... siang dia paling lemah. Kalau kita bisa memancing dia keluar dari Bara di siang hari, di tempat yang benar—di makam tanpa nisan itu—mungkin. Mungkin." Ia menatap Ratri lurus. "Tapi ini judi, Nduk. Mbah Joyo merancang ritual untuk malam Sura karena saat itu garis batas antara dia dan dunia paling tipis—paling mudah ditarik keluar dan diikat. Di siang dia lemah, tapi juga paling enggan keluar. Kita harus memaksanya."
Ratri menyandang tas. "Kalau begitu kita paksa." Ia menatap keluarganya satu per satu—Ibu yang ketakutan, Pakdhe yang sudah bertekad, Bibi Sukma yang gemetar tapi berdiri, kakek warung yang renta tapi teguh, dua sesepuh yang sudah mengambil obor. "Bara minta aku percaya dia, untuk yang terakhir. Aku tidak bisa melakukannya kalau aku biarkan dia mati sendirian di hutan itu. Ayo."
Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Ratri melangkah menuju Hutan Gandasuli untuk menjemput kakaknya—hanya kali ini, ia tahu, ia mungkin tak akan bisa membawanya pulang.