Air dari tujuh sumber dipertemukan untuk pertama kalinya di dalam sebuah belanga tanah, di tengah pendapa, di siang terakhir sebelum malam Sura.
Ratri menuang ketujuhnya satu per satu, menyebut tiap sumber sebagaimana kakek warung mengajarinya. Lalu keris hitam diturunkan ke dalam air, dan untuk sesaat air itu mendidih tanpa api, mendesis, menghitam—lalu jernih kembali. Ketika Ratri mengangkat keris, bilahnya masih gelap, tapi tak lagi membara di tangannya. Dingin biasa. Logam biasa. Pegangan Mbah Demang telah dibasuh.
"Berhasil," bisik Pakdhe Hartono.
Tapi tak ada yang bersorak. Mereka semua tahu apa yang menunggu esok malam, dan keberhasilan kecil hari ini hanya membuat besarnya harga esok terasa makin nyata.
Malam itu, malam terakhir sebelum Sura, keluarga berkumpul di pendapa untuk yang mungkin jadi terakhir kalinya dalam keadaan utuh. Ibu memasak seperti hari raya—nasi tumpeng, ingkung ayam, urap, semua yang ia bisa, seakan ingin menyimpan satu malam normal sebelum semuanya berubah. Bara diizinkan keluar dari garis kamarnya untuk makan bersama, karena malam belum sepenuhnya larut dan ia masih menguasai dirinya; tapi Ratri menaburkan garis bubuk tipis mengelilingi seluruh pendapa, berjaga-jaga.
Mereka makan dalam keheningan yang hangat dan getir. Lalu, satu per satu, hal-hal yang lama terpendam mulai keluar.
Pakdhe Hartono yang pertama. Ia meletakkan sendoknya, menatap meja, dan berkata serak, "Aku pernah membuka garis kurungan Bara. Beberapa minggu lalu. Aku pernah hampir menukar nyawa salah satu dari kalian demi mengakhiri ini. Aku—" suaranya pecah, "—aku kehilangan Danu, dan kehilangan itu membuatku hampir mengkhianati kalian semua." Ia menatap Bara, lalu Ratri. "Maafkan aku. Aku tak akan goyah lagi. Apa pun yang dia bisikkan esok malam, apa pun wajah yang dia pakai, aku tidak akan membuka garis lagi. Sumpah, di atas nama anakku."
Bara menggenggam tangan Pakdhenya. "Sudah, Pakdhe. Sudah dimaafkan. Kita semua pernah hampir patah. Yang penting kita masih di sini, masih bersama."
Bibi Sukma menangis dan meminta maaf karena selama bertahun-tahun ia memilih lumpuh oleh ketakutan alih-alih membantu. Ibu meminta maaf pada keduanya, Bara dan Ratri, karena dulu memanggil Bara pulang ke dalam mulut bahaya. Satu per satu, luka-luka lama yang dipakai Mbah Demang untuk meretakkan mereka, dibuka dan dibasuh—seperti keris di air tujuh sumber.
Terakhir, ketika yang lain sudah tidur, Bara dan Ratri duduk berdua di tangga pendapa, menatap pekarangan yang digariskan bubuk dan tujuh daun, di bawah langit tanpa bintang.
"Kamu ingat," kata Bara pelan, "malam sebelum kita masuk Gandasuli pertama kali? Kita bersumpah saling percaya. Kamu menarikku keluar, aku menyerahkan diri."
"Aku ingat."
"Malam itu aku yang masuk dan kamu yang menyelamatkan." Bara menatap tangannya yang dingin. "Besok terbalik, Ratri. Besok kamu yang harus masuk, yang harus menyelesaikan ritual. Dan aku..." Ia tak menyelesaikannya. Mereka berdua tahu. "Aku butuh kamu berjanji sesuatu padaku. Janji yang berbeda dari dulu."
Ratri menunggu, dadanya sesak.
"Dulu kamu berjanji menarikku keluar," kata Bara. "Besok, aku butuh kamu berjanji—kalau ritual menuntut nyawa inang, kalau satu-satunya cara mengikat dia selamanya adalah aku tinggal bersamanya—jangan tarik aku keluar. Selesaikan ritualnya. Biarkan aku membayar." Ia menatap adiknya, matanya jernih dan penuh, sepenuhnya Bara. "Aku menariknya keluar dari lingkaran dulu adalah kesalahan terindah yang pernah dilakukan untukku. Tapi tak boleh terulang. Kalau kamu menyelamatkanku lagi besok, kamu hanya memindahkan kutukan ini ke anak cucu kita. Aku tidak mau itu. Aku lebih baik jadi mata rantai terakhir."
Ratri menggeleng, air mata jatuh. "Aku tidak bisa janji itu, Mas."
"Kamu harus." Bara menggenggam kedua tangannya. "Dulu kamu memintaku berjanji: kalau aku ragu, kamu yang tarik aku keluar. Sekarang aku minta sebaliknya. Kalau aku harus tinggal—biarkan aku tinggal. Percaya aku, sekali lagi. Untuk yang terakhir."
Lama Ratri tak menjawab. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata, "Janji." Dan ia tahu, mengucapkannya, bahwa ini janji terberat yang pernah ia buat seumur hidupnya.
Mereka duduk diam sampai jauh malam, dua kakak-adik di tangga pendapa, di malam terakhir sebelum semuanya berubah, sementara di kejauhan Hutan Gandasuli menunggu dalam gelap, sabar dan lapar, untuk malam yang akan tiba esok.