Mereka berangkat pagi-pagi sekali, sebelum embun kering, dengan tujuh kendi tanah liat kosong di dalam keranjang.
Kakek warung yang menentukan tujuh sumber itu, sebab hanya ia yang masih ingat letaknya—sumber-sumber tua yang sebagian sudah dilupakan desa. Ratri, Pakdhe Hartono, dan kakek warung yang pergi; Ibu dan Bibi Sukma tinggal menjaga Bara, dan dua sesepuh menjaga garis pekarangan. Mereka harus kembali sebelum gelap. Itu syaratnya. Apa pun yang terjadi, jangan sampai senja menangkap mereka di luar.
Sumber pertama ada di belakang masjid tua desa, mata air jernih yang mengalir dari sela batu. Mudah. Ratri mengisi kendi pertama, menyumbatnya dengan daun pisang.
Sumber kedua, sumur tua di pekuburan desa. Air gelap, dingin. Kakek warung berdoa pelan sebelum menimba, dan Ratri merasakan tatapan dari deretan nisan tua, tapi tak ada yang menghalangi.
Sumber ketiga dan keempat di dua desa tetangga—satu pancuran di pemandian umum yang sudah ditinggalkan, satu lagi sumur di pekarangan rumah kosong yang konon angker. Di sumur keempat, ketika Ratri menurunkan timba, ia mendengar dari kedalaman sumur suara senandung—tembang itu, naik-turun, sayup—dan air yang ia tarik ke atas, untuk sesaat, memantulkan bukan wajahnya melainkan wajah lain: perempuan tua, mata dua lubang hitam.
"Jangan dilihat," kata kakek warung cepat, menutup kendi. "Dia mengikuti kita lewat air. Air saling terhubung. Cepat, jangan berlama-lama di tiap sumber."
Sumber kelima jauh, di kaki bukit, mata air yang keluar dari akar pohon beringin raksasa. Di sini sesuatu mengikuti mereka di antara pepohonan—langkah-langkah yang berhenti ketika mereka berhenti, bayangan yang bergerak di sudut mata. Pakdhe Hartono menggenggam parang erat-erat, wajahnya keras. "Ini siang bolong," gumamnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Dia lemah di siang. Dia tidak bisa menyentuh kita di siang."
"Dia tidak bisa menyentuh kita," koreksi kakek warung, "tapi dia bisa membuat kita takut. Dan takut bisa membuat kita salah jalan, jatuh ke jurang, lupa pulang sebelum gelap. Itu senjatanya siang hari. Tetap fokus."
Sumber keenam hampir membuat mereka gagal. Sebuah sumur di tengah sawah yang sudah lama ditinggalkan, jauh dari jalan. Ketika mereka tiba, matahari sudah miring ke barat, dan kabut tipis—kabut yang tak seharusnya ada di siang terik—mulai merayap dari arah Gandasuli di kejauhan, menjalar di atas pematang seperti jari-jari mencari. Ratri menimba secepat yang ia bisa, tangannya gemetar, kabut sudah sampai mata kaki ketika kendi keenam terisi.
"Satu lagi," kata Ratri. "Di mana yang ketujuh, Mbah?"
Kakek warung menunjuk dengan dagu yang gemetar, dan jantung Ratri jatuh.
Ia menunjuk ke arah Gandasuli.
"Sumber ketujuh," kata lelaki tua itu, suaranya nyaris berbisik, "adalah mata air di tepi hutan. Sumber paling tua. Yang lain semua mengalir dari sana, kata orang dulu. Tanpa air dari sumber asal, enam yang lain tak ada artinya. Tapi itu... itu sudah masuk wilayahnya."
Mereka berlari. Matahari menggantung rendah, merah, ketika mereka mencapai tepi Hutan Gandasuli dan menemukan mata air tua itu—genangan jernih di antara akar-akar, di mana batas hutan dan ladang bertemu. Kabut sudah tebal di sini, dingin, dan dari dalam hutan, sayup, terdengar senandung itu memanggil. Bayangan-bayangan berdiri di antara pepohonan, tak bergerak, menonton.
"Cepat, Ratri," desis Pakdhe, parang teracung ke arah hutan.
Ratri berlutut di tepi mata air, mencelupkan kendi ketujuh. Air mengalir masuk, dingin menggigit. Dan di permukaan genangan, ia melihat pantulan—bukan wajahnya, bukan wajah Mbah Demang, tapi wajah Bara, menatapnya, mulutnya bergerak membentuk kata tanpa suara: *pulang.* Bukan ajakan. Peringatan. *Pulang, sekarang.*
Kendi terisi. Ratri menyumbatnya, berdiri, dan mereka berlari menjauh dari hutan tepat ketika lengkung terakhir matahari tenggelam dan senja menumpahkan merahnya ke seluruh langit. Di belakang mereka, senandung itu meninggi sesaat—marah, kecewa—lalu meredup, ditelan jarak.
Mereka tiba di joglo dalam gelap, tujuh kendi utuh di keranjang, napas tersengal, jantung berdebar. Ibu menyambut di gerbang dengan obor, wajahnya basah lega. Dan di dalam kamarnya, di balik garis, Bara duduk meringkuk, dan ketika ia mengangkat wajah, suaranya kembali suaranya: "Kalian dapat semua. Aku merasakannya. Tujuh, lengkap." Ia tersenyum lemah, senyum yang menyayat. "Sekarang kita bisa memandikan keris itu. Sekarang kita punya kesempatan."