Bara membawa buku harian itu ke meja makan malam itu dan meletakkannya di tengah meja, di depan seluruh keluarga.
Pakdhe Hartono membatu melihat sampulnya. Bibi Sukma menutup mulut dengan tangan. Ibu Bara hanya menunduk.
"Kalian semua sudah tahu," kata Bara. Suaranya datar, tapi ada kemarahan yang ditahan di dalamnya. "Selama ini kalian sudah tahu. Tentang Mbah Demang. Tentang perjanjian. Tentang siapa yang akan hilang berikutnya. Dan kalian diam saja, menunggu, seperti hewan kurban yang antre."
"Apa yang bisa kami lakukan?" Suara Pakdhe Hartono pecah, dan tiba-tiba laki-laki keras kepala itu terlihat seperti orang tua yang ketakutan. "Bara, kau pikir kami tidak pernah mencoba? Wira mencoba kabur ke Jakarta tahun itu. Pindah sejauh mungkin. Pagi setelah malam penagihan, dia tetap hilang dari apartemennya di lantai dua belas. Pintu terkunci. Jendela tertutup. Danu—" suaranya tercekat, "—Danu anakku menyegel kamarnya, memasang kamera, tidak tidur semalaman. Aku menungguinya di luar pintu. Aku mendengarnya bernapas sampai jam dua belas kurang seperempat. Lalu hening. Aku dobrak pintunya. Kosong. Anakku tidak ada."
Hening yang mengikuti terasa seperti tenggelam.
"Tidak ada yang bisa lari," bisik Bibi Sukma. "Tidak ada yang bisa bersembunyi. Mbah Demang selalu menemukan jalannya. Yang bisa kami lakukan hanya... berdoa giliran tahun ini bukan untuk kita."
"Ada cara." Bara membuka buku harian ke halaman yang sudah ia tandai. "Kakek menulisnya sendiri. Perjanjian bisa diputus. Tapi seseorang harus pergi ke joglo lama di Gandasuli, di malam penagihan, menemukan lembar perjanjian asli di bawah saka guru timur, dan membakarnya dengan api dari keris pusaka—sambil menyerahkan dirinya sebagai tumbal terakhir dengan sukarela."
"Bunuh diri," kata Pakdhe Hartono pahit. "Kau menyebutnya memutus rantai. Aku menyebutnya bunuh diri."
"Aku menyebutnya mengakhiri ini," balas Bara. "Sebelum keluarga ini habis sama sekali."
"Dan siapa yang akan menyerahkan dirinya, Bara?" Mata Pakdhe Hartono menyala. "Kau? Kau baru pulang dua hari, lalu kau mau pergi ke hutan terkutuk itu dan menyerahkan nyawamu berdasarkan tulisan tangan orang mati? Mungkin itu bohong. Mungkin Mbah Demang sendiri yang menanam ide itu di kepala kakekmu, supaya salah satu dari kita datang ke sana atas kemauan sendiri dan jadi tumbal yang lebih mudah."
Bara terdiam. Pikiran itu belum pernah terlintas, dan begitu terucap, ia tidak bisa membantahnya. Bagaimana ia tahu buku itu benar? Bagaimana ia tahu ini bukan jebakan dari sesuatu yang sudah memangsa keluarganya selama tiga generasi?
Malam itu, Bara terjaga lagi. Ia mendengar sesuatu dari arah pendapa—sebuah suara halus, seperti orang bersenandung, lagu tembang Jawa kuno yang nadanya naik turun seperti tangisan. Ia bangkit, menyalakan senter ponsel, dan menyusuri lorong menuju pendapa.
Lampu kristal padam. Tapi di tengah pendapa, di kursi ukir tempat kakeknya dulu sering duduk, ada sosok perempuan. Berkebaya gelap, rambut tergerai panjang menutupi separuh wajah, duduk membelakangi cahaya bulan yang masuk dari pintu pendapa. Ia bersenandung, dan jari-jarinya yang panjang dan pucat mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan irama yang sama.
Bara membeku. "Siapa kau?"
Senandung itu berhenti. Perlahan, sosok itu memiringkan kepala—terlalu miring, lebih miring dari yang bisa dilakukan leher manusia—dan dari balik tirai rambut, sepasang mata menatapnya. Mata yang tidak memantulkan cahaya sama sekali, hitam seluruhnya, seperti dua lubang di kain.
"Kau yang baru," kata sosok itu, dan suaranya persis seperti yang ditulis kakeknya: seperti banyak suara bicara bersamaan, suara tua dan muda dan tak berusia sekaligus. "Cucu Sastrawijaya. Aku sudah lama menanti darah baru di rumah ini. Daging segar yang belum lelah." Bibirnya, yang terlalu lebar, melengkung. "Datanglah ke Gandasuli, Le. Lusa malam. Bawa dirimu. Kita selesaikan urusan keluarga kita."
Lalu lampu kristal menyala kembali, terang benderang, dan kursi itu kosong. Hanya ada Bara, berdiri sendirian di pendapa, dengan jantung yang berdebar liar dan satu kesadaran dingin: Mbah Demang sudah memilih. Tahun ini, giliran itu adalah miliknya.