Malam ketujuh, ujian itu tidak datang sebagai suara.
Ia datang sebagai wajah.
Menjelang tengah malam, kabut mulai turun di luar garis—kabut putih yang sama dengan kabut Gandasuli, merayap masuk ke pekarangan, setinggi lutut, dingin dan basah meski tak ada hujan. Para penjaga berdiri tegang di dalam garis, dan kakek warung menambah taburan bubuk di titik-titik yang menipis. Dari balik kabut, sesuatu melangkah maju ke arah cahaya pelita.
Pakdhe Hartono adalah yang pertama melihatnya. Cangkir kopi di tangannya terlepas dan pecah di lantai pendapa.
Di tepi garis, di luar batas penanda, berdiri seorang pemuda. Tinggi, tegap, dengan rambut yang sedikit ikal dan senyum yang miring ke kiri—senyum yang Pakdhe Hartono kenal lebih baik daripada wajahnya sendiri di cermin. Pemuda itu mengenakan kaus yang sama dengan yang ia pakai di malam ia menghilang, setahun lebih sebelum semua ini bermula.
"Danu," bisik Pakdhe Hartono. Suaranya hancur menjadi serpihan.
"Bapak." Pemuda itu tersenyum, dan matanya berkaca-kaca. "Bapak, ini aku. Aku berhasil keluar. Aku lari dari hutan itu. Aku berjalan berhari-hari. Aku pulang, Pak. Aku capek sekali. Tolong, buka garisnya. Biarkan aku masuk."
Pakdhe Hartono melangkah maju, seluruh tubuhnya gemetar, tangannya terulur. Setahun ia berkabung. Setahun ia menyalahkan dirinya, menyalahkan Bara, menyalahkan dunia. Dan di sana, di tepi garis, berdiri putranya—utuh, hidup, memanggilnya Bapak dengan suara yang persis, persis, persis.
"Danu," isaknya. "Anakku. Kau pulang. Kau benar-benar pulang."
"Pakdhe, jangan!" Ratri menubruk ke depan, menahan tubuh pamannya yang sudah hampir menyentuh garis. "Itu bukan Mas Danu! Mas Danu sudah dibebaskan di Gandasuli! Kita melihatnya sendiri—dia memudar, dia tenang, dia pergi! Yang mati tetap mati, Pakdhe! Ini Mbah Demang!"
"Tapi wajahnya—" Pakdhe Hartono meronta, kekuatan orang putus asa. "Lihat wajahnya, Ratri! Bagaimana aku bisa membiarkan anakku di luar sana, di dingin, kalau ada kemungkinan sekecil apa pun bahwa itu benar-benar dia—"
Di luar garis, sosok Danu menangis. Air matanya mengalir, dan ia mengulurkan kedua tangan, dan ia memanggil dengan suara yang membelah hati. "Bapak, kenapa Bapak tidak mau? Aku pulang untuk Bapak. Aku menderita di hutan itu setahun, sendirian, dingin, takut, dan ketika akhirnya aku bisa pulang, Bapak menutup pintu untukku? Bapak lebih percaya pada perempuan ini daripada anak Bapak sendiri?"
Setiap kata adalah belati. Ratri melihat pertahanan pamannya runtuh, sepotong demi sepotong, dan ia tahu bahwa tak ada argumen, tak ada bukti, tak ada akal sehat yang bisa menandingi setahun kerinduan seorang ayah.
Maka ia berhenti membantah. Ia memegang wajah pamannya dengan kedua tangan, memaksa mata tua itu menatapnya.
"Pakdhe," katanya pelan, suaranya bergetar tapi jelas. "Aku tahu itu sakit. Aku tahu Pakdhe rela menukar apa saja supaya itu benar-benar Mas Danu. Tapi dengarkan aku. Kalau itu benar Mas Danu—kalau benar dia pernah berdiri di sini—dia akan ingin Pakdhe melindungi keluarga ini. Dia tidak akan minta Pakdhe membuka garis dan membiarkan kita semua mati. Anak yang Pakdhe besarkan tidak akan pernah meminta itu." Air matanya jatuh. "Mas Danu sudah bebas, Pakdhe. Kita yang membebaskannya. Cara terbaik Pakdhe mencintainya bukan dengan menariknya kembali—tapi dengan merelakannya benar-benar pergi. Lepaskan dia, Pakdhe. Untuk yang terakhir kalinya. Biarkan dia beristirahat."
Pakdhe Hartono menatap putranya di luar garis. Lalu menatap Ratri. Lalu, dengan suara yang seperti sesuatu patah di dalam dadanya, ia berkata kepada sosok di luar garis—kepada kerinduannya sendiri, kepada hantu putranya yang dipinjam oleh sesuatu yang jahat:
"Pulanglah, Nak. Tapi bukan ke sini. Pulang ke tempat yang tenang itu. Bapak melepaskanmu. Bapak... merelakanmu." Suaranya pecah total. "Maafkan Bapak yang dulu tak bisa menjagamu. Pergilah dengan tenang. Bapak mencintaimu. Selalu."
Sosok Danu berhenti menangis. Senyumnya luruh. Dan untuk satu saat, wajah itu retak—topeng tampan itu pecah, menampakkan sekilas sesuatu di baliknya yang kuno dan marah dan tak berusia—lalu sosok itu menjerit dengan banyak suara, mundur ke dalam kabut, dan lenyap.
Kabut surut. Fajar mulai merekah di ufuk timur.
Pakdhe Hartono jatuh berlutut, dan Ratri memeluknya, dan untuk waktu yang lama mereka hanya berlutut bersama di lantai pendapa, di tengah para penjaga yang tertunduk, sambil seorang ayah meratapi anaknya untuk kedua kali—dan kali ini, akhirnya, melepaskannya dengan benar.