Tujuh malam pantangan telah lewat, dan mereka semua bertahan. Tak satu pun menjawab. Tak satu pun membuka garis. Itu, kata catatan Mbah Joyo, adalah syarat agar pekarangan bisa dijadikan benteng.
Maka di pagi setelah malam Danu, dengan mata cekung dan tubuh kelelahan tapi tekad yang justru mengeras, mereka mulai menggariskan seluruh pekarangan joglo.
Kerjanya tidak mudah. Pekarangan keluarga Sastrawijaya luas—dikelilingi tembok tinggi yang dulu dibangun dengan harta pesugihan, kini menjadi pagar terakhir yang membatasi dunia mereka dari malam. Ratri memimpin, buku kecil Mbah Joyo di tangan, mengarahkan ke mana bubuk harus ditaburkan dan di titik mana tujuh daun harus diletakkan. Para pemuda desa mengangkut karung-karung bubuk—campuran yang telah disiapkan menurut resep dukun itu: garam laut, abu dupa, serbuk kayu tertentu, dan sesuatu yang berbau tajam yang Ratri tak berani tanyakan asalnya.
Mereka menaburkan garis tanpa putus di sepanjang dalam tembok, mengelilingi seluruh bangunan, melingkupi pendapa, kamar-kamar, dapur, sumur, dan—di tengah semuanya—kamar tempat Bara terkurung. Di tujuh titik mata angin, mereka menanam daun penanda, dan kakek warung merapal di tiap titik, suaranya rendah dan tua dan mantap.
"Garis ini akan menahannya di luar," kata Ratri kepada mereka semua ketika lingkaran besar itu hampir tertutup. "Tapi catatan Mbah Joyo memperingatkan—ini bukan dinding yang sempurna. Garis menahan dari luar, tapi yang di dalam diri Mas Bara tetap di dalam. Selama Mas Bara masih terikat dengan entitas itu, kita membawa benih masalah di dalam benteng kita sendiri. Garis ini hanya menahan serangan dari luar. Pertarungan sebenarnya tetap harus kita bawa ke Gandasuli, ke makam itu, di malam Sura."
"Berapa hari lagi?" tanya salah seorang pemuda.
Ratri menatap langit. Sudah berhari-hari langit di atas mereka berwarna kelabu aneh, udara berat seperti sebelum badai yang tak kunjung turun—persis seperti hari-hari menjelang Gandasuli dulu. Bulan, ketika tampak di antara awan, sudah hampir penuh, dan tinggal beberapa malam lagi sebelum perhitungan Jawa membawa kembali malam Selasa Kliwon di bulan Sura.
"Tiga malam lagi," katanya. "Tiga malam, dan malam penagihan tiba. Kita habiskan waktu ini untuk menyiapkan sisanya—nama sang demang, air dari tujuh sumber, pemurnian keris. Sampai saat itu, garis ini menjaga kita. Tak ada lagi yang keluar setelah magrib. Tak ada lagi yang menjawab panggilan. Kita berjaga, dan kita siap."
Mereka menutup garis terakhir saat matahari mulai turun, menyambung ujung lingkaran ke pangkalnya, dan begitu garis itu lengkap—mengurung seluruh pekarangan dalam satu lingkaran besar bubuk dan daun—udara di dalam tembok terasa berubah. Lebih hening. Lebih rapat. Seperti rumah yang akhirnya menahan napas dan bersiap.
Di luar tembok, di luar garis, malam mulai berkumpul.
Ratri berdiri di tengah pekarangan, di antara orang-orang desa yang kini menjadi keluarganya, dan menatap ke arah Hutan Gandasuli yang menghitam di kejauhan. Ia bisa merasakannya sekarang—kehadiran yang berkumpul di sana, kuasa yang mengental seiring malam Sura mendekat, kemarahan yang menunggu di balik perbukitan. Tujuh malam ujian telah membuat entitas itu marah. Diturunkannya kepala kerbau telah membuatnya makin marah. Dan malam penagihan, ketika kuasanya mencapai puncak, kemarahan itu akan tumpah.
Dari dalam kamar, melalui jendela yang menghadap halaman, Ratri melihat sosok kakaknya berdiri di balik garis kurungannya, menatap keluar ke arah hutan yang sama. Dan ia tak bisa memastikan—dari jarak itu, dalam cahaya senja yang memudar—apakah yang menatap ke hutan itu Bara, atau sesuatu yang menumpang di tubuhnya, merindukan pulang.
Ratri menggenggam buku kecil Mbah Joyo di dadanya, menarik napas dalam-dalam, dan berbalik menghadap orang-orang yang berkumpul di pekarangan.
"Tiga malam," ulangnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka. "Kita masih punya tiga malam. Dan kita akan menggunakannya dengan baik."
Di belakangnya, garis pertahanan terakhir menyala samar di bawah bulan yang hampir penuh, dan di luar garis, dalam kegelapan yang mengental, malam Gandasuli mulai merayap pulang ke desa.