Tujuh malam sebelum Sura, pantangan dimulai.
Mbah Joyo telah menuliskannya dengan rinci: selama tujuh malam, tak boleh ada daging disembelih di pekarangan, tak boleh ada lampu padam sebelum fajar, tak boleh ada yang keluar melewati garis penanda setelah magrib, dan—yang paling penting—tak boleh ada yang menjawab panggilan dari luar garis, betapa pun dikenalnya suara itu. "Ia akan menguji kalian," tulis dukun itu. "Tiap malam, satu ujian. Ia akan memakai wajah dan suara orang-orang mati yang kalian rindukan. Itu senjatanya yang paling tajam—bukan kuku, bukan gigi, melainkan kerinduan kalian sendiri."
Malam pertama, ujiannya datang dalam bentuk suara.
Mereka semua—Ratri, Ibu, Pakdhe Hartono, kakek warung, dan beberapa pemuda desa yang berjaga—duduk di pendapa di dalam garis bubuk yang kini mengelilingi seluruh bangunan. Menjelang tengah malam, dari arah halaman luar garis, terdengar suara mengetuk gerbang. Lalu suara seorang perempuan tua, lembut, memanggil.
"Hartono. Hartono, Le. Buka pintunya. Ini Ibu."
Pakdhe Hartono menegang. Wajahnya memucat. Ibunya—nenek dari pihak ayah—sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu.
"Hartono, kenapa kau biarkan Ibu di luar? Hujan, Le. Ibu kedinginan. Buka, sayang."
Pakdhe Hartono setengah bangkit, matanya kosong, terhipnotis oleh suara itu. Ratri mencengkeram lengannya keras-keras. "Itu bukan Mbah, Pakdhe," desisnya. "Mbah sudah meninggal. Lihat aku. Itu dia. Itu Mbah Demang memakai suara Mbah."
"Tapi suaranya..." Pakdhe Hartono gemetar. "Persis. Persis sekali, Ratri."
"Karena itu senjatanya," kata kakek warung dari sisi lain, menahan bahu Pakdhe yang lain. "Ia tahu kita semua menyimpan orang mati di dalam dada. Ia tinggal mengetuknya. Duduk, Hartono. Jangan jawab. Apa pun yang kau dengar—jangan jawab."
Suara di luar garis berubah, dari memohon menjadi marah, lalu kembali memohon, lalu menangis. Sepanjang malam ia mencoba—merayu, mengancam, meratap. Tapi tak seorang pun di dalam garis menjawabnya, dan menjelang fajar, ketika ayam pertama berkokok di kejauhan, suara itu berhenti, seperti uap yang ditarik kembali ke tanah.
Mereka semua duduk diam, kelelahan, basah oleh keringat dingin. Pakdhe Hartono menangis tertahan, dan Ratri merangkulnya. "Pakdhe kuat tadi," bisiknya. "Pakdhe tidak menjawab. Itu yang penting."
Malam-malam berikutnya makin berat.
Malam kedua, suara itu datang sebagai Mbah Joyo, memanggil Ratri, berkata bahwa ada langkah ritual yang keliru, bahwa Ratri harus keluar dan menemuinya untuk diperbaiki. Ratri menggigit bibirnya sampai berdarah, dan tidak menjawab.
Malam ketiga, sebagai Paklik Wira. Malam keempat, sebagai Mbah Putri. Malam kelima, sebagai suara-suara anak kecil—kerabat-kerabat yang hilang bertahun lalu, yang namanya bahkan tak semua orang ingat, memanggil-manggil ibu mereka yang sudah lama mati. Setiap malam, garis bubuk menahan, dan setiap malam, satu per satu dari mereka nyaris patah, dan satu per satu ditahan oleh yang lain.
Mereka belajar sesuatu di malam-malam itu—sesuatu yang Mbah Joyo mungkin tahu tapi tak sempat menuliskan. Bahwa kekuatan untuk tidak menjawab tidak datang dari keberanian seorang diri. Ia datang dari tangan di bahu, dari mata yang menahan mata, dari kehadiran orang lain yang berkata tanpa kata-kata: *aku di sini, kau tidak sendirian, jangan pergi.*
Pada malam keenam, Ratri duduk berjaga di samping kamar Bara, di dalam garis besar maupun di luar garis kecil kurungan kakaknya. Dari dalam kamar, suara banyak-suara berbisik kepadanya sepanjang malam, lembut sekali, hampir penuh kasih.
"Kau tahu," bisik suara itu melalui mulut Bara, "kalau kau berhenti sekarang, kakakmu masih bisa hidup. Bertahun-tahun lagi. Aku bisa berbagi tubuh ini dengannya, baik-baik. Ia tidak harus mati di ritualmu. Kau yang akan membunuhnya, Nduk, bukan aku. Pikirkan itu."
Ratri tidak menjawab. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ujian terberat bukan suara orang mati di luar garis. Ujian terberat adalah keraguan yang ditanam di dalam dirinya sendiri, dengan suara kakaknya, di tengah malam, ketika ia paling lelah.
Tinggal satu malam lagi. Dan ia tahu, dengan keyakinan dingin yang menetap di tulangnya, bahwa ujian terakhir akan menjadi yang paling kejam.