Kabar tentang kepala kerbau yang diturunkan menyebar ke seluruh desa dalam sehari, seperti selalu di tempat kecil di mana setiap tembok punya telinga.
Tapi kali ini, sesuatu yang berbeda terjadi. Biasanya, kabar tentang keluarga Sastrawijaya datang dengan bisik-bisik dan pintu yang ditutup lebih rapat. Kali ini, menjelang magrib, satu per satu orang justru datang ke joglo. Pertama Pak Karto yang renta, dipapah cucunya, membawa bungkusan beras dan garam. Lalu beberapa sesepuh lain yang Ratri kenal samar dari masa kecil. Lalu pemuda-pemuda desa, lalu ibu-ibu, sampai pendapa joglo yang selama bertahun-tahun sunyi itu kini penuh oleh orang.
Ratri berdiri di tangga pendapa, bingung, sampai kakek warung berdiri di sampingnya dan berbicara kepada kerumunan dengan suara yang, meski tua, terdengar sampai ke ujung halaman.
"Selama tiga keturunan," kata kakek warung, "kita semua tahu apa yang menumpang di keluarga ini. Kita semua takut. Dan ketakutan itu membuat kita jadi pengecut—kita diam, kita menjauh, kita biarkan satu keluarga menanggung beban yang sebenarnya beban kita bersama. Sebab yang tinggal di Gandasuli itu, Saudara-saudara, bukan cuma mengintai keluarga Sastrawijaya. Ia mengintai desa kita. Tanah kita. Anak cucu kita." Ia berhenti, dan matanya menyapu kerumunan. "Pak Sastra dulu pergi ke hutan itu karena seluruh desa gagal panen. Ia menanggung kutukan sendirian, tapi kemakmuran yang ia bawa—sebagian menetes ke kita semua. Kita ikut menikmati, lalu pura-pura tak ikut berdosa. Sekarang anak-anaknya berdiri untuk mengakhirinya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menolak berdiri menonton dari warung kopi."
Pak Karto, dari kursinya, mengangkat tangan keriputnya. "Aku yang dulu bilang Sastra gila," katanya, suaranya gemetar. "Aku yang menertawakannya sebelum ia pergi ke Gandasuli. Aku menyaksikan seluruh kengerian ini dari awal, dan aku menyimpannya dalam diam selama puluhan tahun karena takut. Aku sudah terlalu tua untuk berguna banyak. Tapi yang aku tahu—yang aku ingat—itu milik kalian sekarang. Apa pun yang kalian butuhkan dari ingatan orang tua ini, ambillah."
Sesuatu yang asing dan hangat naik di dada Ratri, sesuatu yang nyaris membuatnya menangis di depan semua orang. Selama berbulan-bulan ia merasa sendirian—Mbah Joyo mati, Bara terkurung, keluarga retak. Dan sekarang, di pendapa yang dulu jadi tempat Mbah Demang menampakkan diri pertama kali, berdiri puluhan orang yang menolak membiarkannya sendirian.
"Saya tidak tahu harus bilang apa," kata Ratri akhirnya, suaranya parau. "Saya cuma... terima kasih. Saya tidak menyangka."
"Jangan berterima kasih dulu," kata salah seorang sesepuh, perempuan tua bermata tajam. "Kami belum tahu apa yang harus kami lakukan. Katakan, Nduk. Apa yang kau butuhkan dari kami."
Ratri menarik napas, dan untuk pertama kalinya, ia menjelaskan rencana itu di depan banyak orang—bukan rahasia keluarga yang dibisikkan di kamar, melainkan beban bersama yang kini ditanggung bersama. Ia menjelaskan pantangan tujuh malam menjelang Sura. Garis penanda yang harus mengelilingi seluruh pekarangan. Air dari tujuh sumber yang harus dikumpulkan. Penjagaan bergantian, malam demi malam, sampai malam penagihan tiba.
Para sesepuh mendengarkan, mengangguk, dan mulai membagi tugas dengan kefasihan gotong royong yang sudah berurat-akar di desa itu—cara yang sama yang mereka pakai untuk membangun rumah, memanen sawah, mengurus kematian. Hanya saja kali ini yang mereka hadapi bukan banjir atau panen gagal, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap dari desa itu sendiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya, joglo keluarga Sastrawijaya tidak sunyi. Lampu-lampu menyala di mana-mana. Orang-orang duduk di pendapa, di halaman, menyeduh kopi, merapal doa, berjaga. Dan dari dalam kamar, di balik garis kurungannya, Bara—di salah satu saat jernihnya—mendengar suara banyak orang di rumahnya, dan air mata mengalir di pipinya, sebab ia tahu apa artinya: ia tidak akan menghadapi malam itu sebagai keluarga yang dikucilkan, melainkan sebagai anak dari desa yang akhirnya berdiri bersamanya.
Tapi di luar, jauh di balik perbukitan, langit di atas Hutan Gandasuli menggumpal hitam tanpa bintang, dan angin malam membawa bau lembap tanah dan sesuatu yang lebih tua dari bau apa pun—bau yang mengingatkan setiap orang tua di desa itu bahwa apa yang menanti di sana tidak akan menyerah tanpa menuntut harganya.