Mbah Joyo menulis dalam catatannya bahwa jimat kepala kerbau di atap joglo bukan sekadar penanda arah inang—ia adalah jangkar.
"Kepala kerbau itu menambat perjanjian ke rumah ini," demikian bunyi catatan yang Ratri eja berulang kali. "Selama ia tergantung menghadap inang, rumah ini tetap menjadi sarang. Untuk ritual pengikatan, jimat itu harus diturunkan dan dibawa ke makam sang demang—dikembalikan ke asalnya. Tapi berhati-hatilah, Nduk. Menurunkan jangkar berarti membuka pertahanan terakhir rumah ini. Begitu kepala kerbau lepas, tak ada lagi yang menahan kuasanya di dalam tembok joglo. Lakukan hanya bila kau sudah siap melangkah ke ujung jalan."
Mereka memilih siang hari, saat matahari di puncak. Pakdhe Hartono memasang tangga bambu ke arah bubungan atap. Kakek warung kopi—yang sejak pemakaman mulai sering datang, seperti sesepuh yang akhirnya memutuskan berhenti menonton dari jauh—berdiri di bawah memegangi tangga, mulutnya komat-kamit merapal doa tua yang Ratri tak kenal.
Bara, di dalam kurungannya, tahu. Entah bagaimana, ia tahu. Sejak pagi ia gelisah, mondar-mandir di dalam garis, dan ketika Pakdhe Hartono mulai memanjat, dari kamar terdengar suara—mula-mula Bara yang berteriak, "Jangan! Belum waktunya!"—lalu suara itu berubah, menjadi banyak-suara, menjadi raungan yang membuat genting bergetar.
Ratri memanjat tangga di belakang Pakdhe Hartono. Dari dekat, kepala kerbau kayu itu jauh lebih besar dari yang terlihat dari tanah—sehitam arang, lapuk tapi tak lapuk, dengan tanduk yang melengkung seperti dua sabit. Matanya, yang dari tanah tampak hanya lubang, dari dekat tampak seperti memandang balik. Ratri merasakan dingin yang merayap dari kayu itu bahkan sebelum ia menyentuhnya, dingin yang sama dengan kotak kayu hitam, dengan tanah merah, dengan tangan kakaknya.
"Pegang yang kuat, Pakdhe," kata Ratri. "Kita angkat bersama. Aku potong tali pengikatnya."
Pakdhe Hartono memeluk kepala kerbau itu dengan kedua tangan, dan Ratri mulai memotong tali ijuk tua yang menambatnya ke bubungan. Tali pertama putus. Lalu tali kedua. Dan saat tali ketiga—yang terakhir—putus, seluruh joglo seakan menjerit.
Bukan kiasan. Suara itu nyata: erangan panjang dari kayu, dari sambungan-sambungan tiang, dari genting, seperti rumah tua yang seluruh sendinya patah serempak. Lampu kristal di pendapa berayun liar dan berdenting bertubi-tubi, lalu satu per piring pecah di lemari dapur tanpa disentuh siapa pun. Angin yang datang entah dari mana menampar wajah Ratri di atas atap, hampir menjatuhkannya, dan kepala kerbau di pelukan Pakdhe Hartono bergetar seakan hidup, seakan menolak diturunkan.
Dari dalam kamar, raungan banyak-suara itu pecah menjadi jeritan, dan Ratri mendengar kata-kata di tengahnya: "KAU MEMBUKA RUMAHKU! KAU MENELANJANGIKU! AKAN KUTAGIH INI, NDUK—DENGAN BUNGA!"
"Cepat, Pakdhe!" teriak Ratri. "Turunkan! Jangan dengarkan!"
Mereka membawa turun jimat itu, tangan demi tangan, anak tangga demi anak tangga, sementara seluruh rumah berderak dan mengerang di sekeliling mereka. Kakek warung di bawah merentangkan kain putih, dan begitu kepala kerbau menyentuh kain itu, dibungkus rapat dan diikat, kebisingan itu berhenti seketika—seakan seseorang menutup pintu pada badai.
Keheningan yang mengikuti terasa lebih menakutkan daripada jeritan.
Ratri turun dengan kaki gemetar, dan berdiri di halaman menatap rumahnya. Joglo itu tampak sama seperti biasanya di permukaan—megah, kokoh, mengilap. Tapi sekarang terasa berbeda. Telanjang. Terbuka. Seperti benteng yang gerbangnya baru saja dirobohkan dari dalam.
"Mulai malam ini," kata kakek warung, suaranya berat, sambil memandang bungkusan kain putih di tangannya, "rumah ini bukan lagi tempat aman. Tak ada lagi yang menahannya di dalam tembok. Yang menahannya sekarang cuma garis kurungan di kamar anakmu, Nduk—dan keberanian kita." Ia menatap Ratri dengan mata tuanya yang dalam. "Tak ada jalan mundur lagi setelah ini. Kau sadar itu, kan?"
Ratri menatap bungkusan putih itu, lalu ke arah hutan di kejauhan, lalu ke jendela kamar tempat kakaknya terkurung.
"Sadar, Mbah," katanya. "Justru karena tidak ada jalan mundur, kita harus menyelesaikannya dengan benar."